Jumat, 25 Desember 2020

Teknik Budidaya Abalon Ramah Lingkungan

Teknik Budidaya Abalon Ramah Lingkungan

Foto: ist/dok.KKP


Jakarta (TROBOSAQUA.COM). Gastropoda laut bernama latin Haliotis sp ini sangat layak menjadi andalan perekonomian masyarakat pesisir, bisa dijual di pasar lokal dan berpeluang besar diekspor ke negara-negara Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Teknik budidayanya pun dipastikan sangat ramah lingkungan.

 

Secara terpisah, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPUI2K) Karangasem Bali -  Winarno menjelaskan bahwa pemijahan abalon di BPUI2K dilakukan setiap bulan dengan metode penjenuhan oksigen. “Dalam satu periode pemijahan dapat dihasilkan 2 – 3 juta trochophore," sebutnya, dikutip siaran pers Kementerian Kelautan dan Perikanan (21/12).

 

Pemeliharaan induk abalon di BPUI2K Karangasem dilakukan dalam dalam bak fiber volume 1.500 liter yang diberi shelter (pelindung) dengan memakai sistim air mengalir. Setiap bak diisi 150 ekor induk abalon dan diberi pakan berupa rumput laut secara adlibitum (selalu tersedia). Pemeliharaan induk abalon dilakukan sampai matang gonad dan siap dipijahkan.

 

Untuk pemeliharaan larva dilakukan pada bak beton yang diberi sirkulasi air dan aerasi dengan pengaturan kecil. Pemberian pakan berupa bentik diatom. Larva abalon dipelihara selama 2 bulan hingga larva berubah menjadi benih berukuran 1 cm.

 

Grading dilakukan untuk menyeragamkan ukuran serta menghindari dari persaingan makanan. Grading abalon dilakukan setiap bulan selama 4 kali yaitu ukuran 2 cm (3 bulan), 3 cm (4 bulan), 4 cm (5 bulan) dan 5 cm (lebih dari 6 bulan).

 

Manajemen pakan dilakukan sesuai umur abalone yang dipelihara. Untuk umur 1 bulan diberikan pakan berupa plankton jenis diatom dosis 1 juta sel per ml. Kemudian pakan berupa rumput laut jenis ulva dan gracilaria diberikan pada umur 2 bulan hingga diatas 7 bulan dengan metode ad libitum (pemberian pakan secara berlebih).

 

Hasil produksi benih abalon yang berasal dari BPIU2K Karangasem didistribusikan ke beberapa daerah seperti Bali, Pulau Seribu, Bogor, Yogyakarta serta daerah lainnya di Indonesia. Benih abalon semula hanya terbatas untuk kegiatan penelitian dan menunjang kegiatan.

 

“Sekarang sudah dapat dibudidayakan oleh kelompok nelayan atau pembudidaya dengan menggunakan sistem jaring tancap maupun karamba jaring apung,”, tutur Winarno.


Andalan Ekonomi Masyarakat Pesisir

Pada rilis yang sama, Dirjen Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto pada 21/12 menjelaskan, budidaya abalon akan semakin diminati masyarakat mengingat teknologi budidaya abalon tergolong ramah lingkungan dan tidak mencemari karena tidak menggunakan bahan kimia, hanya menggunakan mikroalga dan makroalga sebagai pakan pada proses budidayanya.

 

Dia mengakui kerang abalon merupakan komoditas yang relatif masih baru dan belum banyak dibudidayakan di Indonesia. Namun melihat potensi abalon yang sangat besar, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPUI2K) Karangasem Bali telah berhasil berinovasi, menemukan teknik pembenihan dan teknologi budidaya kerang abalon.

 

“Pengembangan budidaya abalone masih sangat potensial dilakukan di Indonesia mengingat perairan laut kita masih sangat luas dan cocok. Budidaya abalon dapat memberikan alternatif atau tambahan penghasilan bagi masyarakat sekaligus memberikan dampak positif secara ekologi. Dengan budidaya, tidak terjadi lagi eksploitasi sumberdaya abalon di alam,” terang Slamet.

 

Pengembangan budidaya abalon perlu memperhatikan kelayakan lokasi untuk budidaya berdasarkan kondisi fisik perairan, kondisi kimia dan akses ke lokasi budidaya.

 

“Perairan terlindung dan aman untuk membangun kontruksi budidaya, kemudian aksesibilitas juga perlu diperhatikan seperti lokasi budidaya mudah dijangkau dan keamanan terjamin. Dan perlu dicatat perairan harus bebas dari pencemaran, buangan industri, limbah pertanian ataupun limbah rumah tangga,” lanjut dia.

 

Slamet yakin budidaya kerang abalon dapat meningkatan pendapatan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya pembudidaya dan nelayan. “Budidaya abalon dapat dilakukan dengan sistem karamba jaring apung, jaring tancap, atau menggunakan keranjang-keranjang plastik yang telah diberi shelter atau bahan pelindung,” tambahnya.

 

Lanjut Slamet, “UPT kami akan terus berinovasi dalam pengembangan budidaya abalon termasuk didalam tahap pembenihan, pendederan dan pembesarannya. Kami ingin teknologinya benar-benar dapat diaplikasikan ke masyarakat”. ist/ed/ntr


 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain