Selasa, 15 Desember 2020

Romi Novriadi: Efek Penggunaan DDGS pada Pakan Vannamei

Romi Novriadi: Efek Penggunaan DDGS pada Pakan Vannamei

Foto: dok. pribadi
Romi Novriadi

Dalam formulasi pakan udang putih (L. vannamei), tepung bungkil kedelai sudah umum digunakan sebagai alternatif sumber protein terbaik untuk menggantikan peran tepung ikan atau tepung hewani lainnya. Hal ini karna tepung bungkil kedelai memiliki komposisi profil asam amino dan daya cerna yang cukup baik, serta ketersediaannya mampu memenuhi permintaan global yang terus meningkat. 
 
 
Namun, penggunaan tepung bungkil kedelai dalam jumlah tinggi dalam komposisi pakan dibatasi oleh rendahnya kandungan lysine – sebagai salah satu komponen asam amino esensial yang dibutuhkan oleh udang vannamei. Termasuk keberadaan faktor anti-nutrisi seperti lectins, phytic acid, saponins, dan phytosterols yang dapat menghambat pemanfaatan nutrisi dalam tepung bungkil kedelai. 
 
 
Menurut Tibaldi dkk (2006), keberadaan faktor anti-nutrisi ini akan berdampak kepada penurunan performa pertumbuhan udang dan efisiensi pakan. Sehingga untuk dapat tetap menghasilkan pakan ekonomis dan berkualitas, perlu dilakukan upaya kombinasi bahan baku dengan sumber protein yang bersifat sustainable lainnya. Khususnya untuk mengatasi rendahnya kandungan lysine dalam tepung bungkil kedelai dan memiliki kandungan faktor anti-nutrisi yang lebih rendah dibandingkan tepung bungkil kedelai.
 
 
Distiller’s Dried Grain with Solubles (DDGS) sebagai produk samping hasil pengolahan ethanol memiliki potensi untuk dapat dikombinasikan dengan tepung bungkil kedelai. Hal ini karena memiliki kandungan protein dan lemak yang cukup baik serta memiliki komponen vitamin dan mikro-mineral yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas tepung bungkil kedelai dalam formulasi pakan. 
 
 
Selain itu, DDGS juga tidak memiliki faktor anti-nutrisi seperti trypsin inhibitors, phytate, dan gossypol. Di masa saat ini, dimana harga pakan memiliki kontribusi 60 – 70 % biaya produksi, harga komersial DDGS yang jauh lebih murah dibandingkan tepung bungkil kedelai. 
 
 
Hal ini menjadikan DDGS sebagai alternatif untuk menggantikan sebagian peran tepung ikan namun tetap menghasilkan pakan yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi spesifik udang L. Vannamei. Untuk mengamati sejauh mana efektifitas penggunaan DDGS dalam formulasi pakan, pada kajian ini dilakukan evaluasi penggunaan DDGS sebanyak 5 %, 10 %, dan 15 % untuk menggantikan peran tepung bungkil kedelai dalam formulasi pakan komersial untuk produksi udang putih.
 
 
Performa Pertumbuhan 
Berdasarkan data yang dipresentasikan di Tabel 2, performa pertumbuhan udang yang diberi pakan dengan kandungan 5 %, 10 %, dan 15 % DDGS untuk menggantikan sebagian peran tepung bungkil kedelai tidak memiliki perbedaan yang nyata dengan pakan kontrol atau V1  (P<0,05). Namun, menariknya, secara biologis, untuk parameter biomas akhir, berat rata - rata, kelulushidupan, dan persentase pertambahan bobot badan udang vannamei yang diberi pakan dengan komposisi 5 % dan 10 % DDGS memiliki performa yang lebih baik dibandingkan udang yang diberikan pakan kontrol. 
 
 
Bahkan, udang yang diberi pakan 5 % dan 10% DDGS memiliki nilai FCR yang lebih rendah dibandingkan dengan FCR udang yang diberi pakan kontrol. Secara umum, penggunaan DDGS hingga 15 % dalam formulasi pakan udang L. Vannamei untuk menggantikan peran tepung bungkil kedelai tidak memiliki dampak negatif pada pertumbuhan.
 
 
Beberapa hasil riset  menunjukkan bahwa penggunaan DDGS sebanyak 10 % yang dikombinasikan dengan penggunaan tepung bungkil kedelai dalam jumlah besar (58 %) tidak memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan udang vannamei yang dibudidayakan di kolam produksi dengan ukuran 0,1 ha (Sookying dan Davis (2011). 
 
 
Bahkan Roy et al. (2009) juga menyimpulkan bahwa penggunaan 10 % DDGS memiliki performa yang sama dengan udang yang diberi pakan dengan bahan baku tepung ikan. Hasil kajian ini mengkonfirmasi efektivitas penggunaan DDGS untuk tetap memperkuat performa pertumbuhan udang vannamei. Oleh karena itu, untuk program pakan mandiri dan juga produksi pakan komersial di Indonesia, penggunaan DDGS hingga 15 % untuk menggantikan peran tepung bungkil kedelai dapat dilakukan tanpa mempengaruhi performa pertumbuhan udang vannamei.
 
 
Metodologi Percobaan
Seluruh pakan uji coba diformulasikan untuk mengandung jumlah protein dan lemak yang sama (37 % protein dan 9 % lemak). Pada kajian ini, pakan kontrol (V1) diformulasikan dengan menggunakan tepung ikan, tepung unggas, tepung bungkil kedelai, dan tepung terigu sebagai bahan baku utama. 
 
 
Sementara 3 pakan uji coba lainnya diformulasikan dengan menggunakan DDGS yang diperoleh dari U.S Grain Council (USGC) sebanyak 5 %, 10%, dan 15 % untuk menggantikan peran tepung bungkil kedelai. Seluruh pakan uji coba diproduksi dengan menggunakan prosedur standar pembuatan pakan dan disimpan dalam wadah tertutup dan kering.
 
 
Uji coba dilakukan di fasilitas produksi PT. Batam Dae Hae Seng (Batam, Indonesia) dan benur udang L. Vannamei diperoleh dari PT Maju Tambak Sumur (Kalianda, Lampung, Indonesia). Benur udang yang sampai di Batam kemudian di masukkan dalam bak pendederan hingga mencapai ukuran yang diinginkan.
 
 
Udang dengan berat awal rata-rata 1,04±0,04 g kemudian dimasukkan kedalam media pemeliharaan akuarium dengan ukuran 70 x 35 x 40 cm (98 L) dan diisi dengan 15 udang per bak (sebanding dengan padat tebar 150 PL’s per m2). Masing-masing perlakuan memiliki 10 replikat yang masing-masing diletakkan secara random. 
 
 
Masing-masing perlakuan dengan 10 replikat per perlakuan diberi pakan uji coba selama 52 hari. Manajemen pakan dilakukan berdasarkan data historis dengan asumsi udang tumbuh 1,2 gr per minggu dan rasio konversi pakan (FCR) 1,5. Pemberian pakan harian disesuaikan berdasarkan pengamatan harian dan juga perhitungan kelulushidupan yang dilakukan setiap 1 minggu.   
 
 
Analisa Parameter
Untuk kajian ini, pH, oksigen terlarut (DO), suhu air dan salinitas dianalisa 4  kali per hari dengan menggunakan Aqua TROLL 500 Multiparameter Sonde instrument dikoneksikan dengan aplikasi AquaEasy (Bosch, Singapore) untuk sistem pencatatan data yang lebih efektif, efisien dan tertelusur. Total ammonianitrogen (TAN), nitrat dan nitrit dianalisa dengan menggunakan absorption spectrophotometry (DR890, HACH, USA).
 
 
Seluruh data pertumbuhan dianalisa dengan menggunakan one-way analysis of variance kemudian diikuti dengan melakukan analisa menggunakan Tukey’s multiple comparison test untuk menentukan perbedaan di masing-masing parameter di tiap perlakuan (P<0,05). Perhitungan pooled standard errors (PSE) dilakukan di seluruh parameter yang diamati untuk menentukan variasi di masing-masing perlakuan. Analisa statistic dilakukan dengan menggunakan SAS system (V9.4, SAS Institute, Cary, NC, USA).
 
 
 
*Peneliti Kementerian Kelautan & Perikanan, bersama 
Aldy Eka Wahyudi, Rifqi Fadhilah, Dea Ananda Prayogi,
 Hartati Sri Devi Saragih, dan Ilham Alimin
(Anggota Masyarakat Akuakultur Indonesia)
 

 
Aqua Update + Akua Tekno + Cetak Update +

Artikel Lain