Selasa, 15 Desember 2020

Ekspansi di Masa Pandemi

Ekspansi di Masa Pandemi

Foto: syafi
Pertambakan di Ujung Kulon, Banten

Industri tambak udang tak begitu terimbas pandemi, ini bisa jadi momentum untuk mengejar target peningkatan produksi nasional
 
 
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada masa awal pandemi Covid-19 ditetapkan, sempat membuat gelombang kepanikan di banyak sektor usaha. Industri pengolahan hasil perikanan misalnya, ada yang sempat dikabarkan akan mengurangi dan bahkan menyetop produksi. Isu seperti ini tak ayal memicu efek domino pada industri pendukungnya, salah satunya industri tambak udang sebagai pemasok bahun baku.
 
 
Kepanikan yang melanda industri processing (pengolahan) udang langsung menimbulkan ketidakpastian bagi para petambak. Sebab udang yang mereka produksi belum tentu bisa diserap penuh oleh pabrik. Hal ini setidaknya dirasakan oleh Manager PT Randomayang Tambak Lestari, Herry Handoyo di Sulawesi Barat (Sulbar).
 
 
Menurut Herry, pabrik pengolahan udang di dekat lokasinya sempat dikabarkan akan mengurangi karyawan dan menutup pabrik sementara. Menanggapi isu itu, ia pun membuat langkah antisipatif dengan mengurangi kapasitas produksi. Ia khawatir jika produksi dilakukan seperti biasa, udang yang ia produksi tidak terserap dengan baik. Akibatnya, Herry yang semula biasa menebar udang dengan kepadatan 200 ekor/m2, ia turunkan hingga kepadatan 170 - 180 ekor/m2.
 
 
Namun beruntung kepanikan tak berjalan lama, pabrik processing di daerah Herry menambak juga tetap berjalan normal. “Setelah siklus itu panen, kami tebar lagi dengan densiti yang sama (200 ekor/m2). Ternyata isu pabrik tutup dan mengurangi karyawan itu kelihatannya tidak terjadi,” ujarnya.
 
 
Tak Banyak Terimbas
Produksi udang di tambak Henry yang kembali normal itu, salahsatu indikasi pandemi tak begitu berpengaruh langsung pada produksi udang. Perjalanan logistik yang sempat diperketat di awal-awal pandemi, mendapat pengecualian bagi logistik pengangkut hasil perikanan. Sehingga pengiriman hasil panen menuju pabrik juga tetap berjalan normal. 
 
 
Namun demikian, Herry mengakui jika selama pandemi harga udang di Sulbar cenderung lebih rendah dibanding masa sebelum pandemi. “Kemarin September sempat naik sedikit, tapi belum normal seperti dulu. Oktober dan November juga turun lagi,” ungkapnya. Penurunan terbesar secara khusus terjadi pada udang-udang besar size 20-an (20 ekor/kg) yang bisa mencapai 25 persen. 
 
 
Tak begitu berimbasnya pandemi pada industri tambak udang juga dirasakan oleh petambak muda asal Bali, Steven Kurniadi. Menurutnya, pada tahun ini produksinya relatif lebih lancar. Alih-alih terkendala pandemi, tantangan di tambak selama tahun ini justru tetap berasal dari masalah klasik perudangan, yaitu penyakit. “Yang lagi trending mulai awal Maret itu adalah AHPND atau EMS,” katanya.
 
 
Hadirnya penyakit yang pernah menghancurkan negara-negara produsen udang di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya ini membuat Steven lebih waspada menerapkan SOP budidaya. Terutama pengecekan kualitas air laut di sekitar tambak yang akan digunakan untuk budidaya. “Sampai saya cek dua kali air lautnya. Kalau negatif (AHPND), baru saya mulai berani melangkah,” ujar Steven. 
 
 
Meski AHPND jelas menjadi ancaman, tetapi ia justru membuat para petambak merasa kepepet dan perlu mingkatkan kualitas budidayanya. Seteven mengaku jika sebelumnya ia tidak pernah melakukan PCR pada air laut yang akan disedot, sekarang terpaksa melakukannya. “The power of kepepet itu lebih besar power-nya. Karena jadi harus ekstra steps. Tapi ternyata kita mampu,” katanya kepada TROBOS Aqua. 
 
 
Karena langkah-langkah antisipatif yang lebih ketat itu, Steven menduga bahwa membaiknya produksi di tahun ini salah satunya disebabkan oleh hal tersebut. Tak hanya oleh Steven, langkah-langkah antipasipatif terhadap AHPND juga dilakukan oleh para petambak lainnya di berbagai daerah.  
 
 
Membaiknya produksi udang di Indonesia selama pandemi ini terlihat juga dari data ekspor ke negara tujuan utama, yaitu Amerika Serikat (AS). Dalam data yang disajikan oleh laman NOAA Fisheries, akumulasi ekspor udang dari Indonesia ke pasar AS di bulan Oktober 2020 alami peningkatan dari tahun sebelumnya.
 
 
Hingga bulan ke-10 itu, Indonesia sudah berhasil memasok udang ke AS sebanyak 133.604 metrik ton (MT). Angka tersebut meningkat dari periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai 107.589 MT. Akumulasi hingga bulan ke-10 di masa pandemi ini bahkan sudah menyamai jumlah satu tahun penuh di 2019 yang mencapai 133.163 MT.
 
 
Secara global, tren positif industri perudangan di masa pandemi ini, terlihat juga dari tren impor AS. Meski sempat alami penurunan volume impor pada masa awal pandemi, tetapi tidak lama kemdian jumlahnya kembali meningkat tajam. Bahkan sejak bulan ke-9, akumulasi volume impor udang oleh AS telah menembus angka 535.165 MT atau senilai USD 4,6 miliar. Angka tersebut adalah tertinggi untuk periode yang sama sejak 1976.
 
 
Momen Ekspansi?
Kuatnya industri tambak udang di saat pandemi juga dikemukakan oleh Direktur PT Prima Dwimitra, Suseno. Menurut pendiri perusahaan yang bergerak di bidang konsultansi dan pembangunan tambak udang ini, tidak terimbasnya tambak udang oleh pandemi ini dapat terlihat dari pembangunan tambak yang cenderung meningkat. Bahkan menurutnya, di tahun ini cukup banyak calon petambak dan investor yang berkonsultasi soal pembangunan tambak dengannya.  
 
 
Bertahannya industri tambak udang yang bahkan cenderung berkembang di saat pandemi, dapat menjadi momentum yang baik bagi pemerintah untuk terus melanjutkan program peningkatan nilai ekspor hingga 2,5 kali lipat. Kabar positif berkembangnya tambak ini juga bisa menjadi pemicu yang positif bagi para investor untuk menanamkan modalnya di industri tambak udang.
 
 
Meski belum ada data produksi udang yang disepakati bersama oleh semua stakeholder, namun Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan KKP, Tinggal Hermawan, menyebutkan bahwa target peningkatan nilai ekspor 2,5 kali lipat hingga tahun 2024 direfleksikan dengan peningkatan produksi hingga mencapai 1,29 juta ton di tahun tersebut. “Kita belum punya data yang pasti, yang fix terkait data produksi sehingga kita olah dengan berbagai rumus dari data ekspor. Ini tentu akan jadi perdebatan tentang angka ini,” ujarnya di acara Konsultasi Publik bertema “Revitalisasi Tambak Udang untuk Mencapai Target Peningkatan Produksi Udang Nasional” secara daring (12/11). 
 
 
Untuk mencapai target tersebut, KKP saat ini tengah menyiapkan dan menjalankan beberapa program strategisnya. Dari pemaparan Tinggal di acara itu, sedikitnya ada 4 program yang tengah dicanangkan. Antara lain pembentukan klaster tambak, revitalisasi dan intensifikasi tambak tradisional dan tambak mangkrak, pengembangan tambak milenial, hingga mendorong investasi baik dari lokal maupun asing. 
 
 
Dari keempat program itu, KKP sudah memiliki beberapa daerah yang menjadi target pengembangannya. Antara lain Aceh Timur, Lampung Selatan, Cianjur (Jawa Barat bagian selatan), Sukamara-Kalimantan Tengah, dan Buol Sulawesi Tengah. Menurut Tinggal, di lokasi-lokasi tersebut akan dibangun tambak sub-cluster percontohan dengan luas awal 5 hektar. Bahkan untuk mempercepat pengembangannya, pemerintah terbuka untuk bekerja sama dengan swasta dalam membangun tambak di daerah itu. 
 
 
“Aceh Timur sudah ada kerjasama dan MoU komitmen dengan daerah setempat. Mereka memberikan lahan yang siap dikembangkan investor, pemerintah, dan lain-lain, sampai 10 ribu hektar. Sudah ada pembicaraan termasuk dengan grup besar (swasta) untuk di Aceh Timur. Begitu juga untuk daerah Lampung Selatan, Cianjur, Sukamara, dan Buol,” ungkap Tinggal.  
 
 
Dengan strategi seperti itu, KKP menargetkan ada lahan produksi baru seluas 100 ribu hektar hingga tahun 2024. Target itu dicapai baik dengan ekspansi atau pembukaan lahan baru maupun revitalisasi tambak yang mangkrak.
 
 
Pembangunan tambak berbasis klaster seperti ini bertujuan untuk memudahkan manajemen lingkungan di kawasan tersebut. Selain itu, juga untuk memudahkan pembinaan dan penguatan permodalan. Klaster-klaster seperti ini nantinya akan tergabung menjadi satu dan terintegrasi. “Akan membuat kawasan tersebut bisa berkelanjutan,” tambah Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto dalam acara Diskusi Publik yang sama. 
 
 
Selain daerah-daerah yang disebutkan oleh KKP tadi, Suseno juga menyebut beberapa daerah lain yang sedang digarap untuk lahan pertambakan. Baik melalui ekspansi maupun revitalisasi. Beberapa daerah itu antara lain di Pulau Bangka, Lombok, dan Sulawesi. “Lahan baru banyak di wilayah Bangka dan Sulawesi. Untuk revitalisasi banyak di daerah pantura (pantai utara Jawa),” ungkap pria yang biasa dipanggil Seno ini. 
 
 
Rata-rata pembangunan tambak yang sedang Seno lakukan saat ini berkisar 5 – 20 hektar. Tetapi pengecualian dari rata-rata itu, ada juga pembangunan hingga 100 - 400 hektar seperti yang dilakukannya di Lombok, Bangka, dan Sulawesi. 
 
 
Menurut Seno, jika dilihat dari track record para investor yang akan ekspansi tambak, banyak di antara mereka adalah pemain baru. Persentasenya mencapai 60 persen jika dibandingkan dengan pemain lama. Namun demikian, pemain baru ini masih melangkah dengan hati – hati. Tambak yang mereka ingin bangun baru pada kisaran 5 – 20 hektar. 
 
 
Sementara para pemain lama yang telah memiliki tambak sebelumnya, melakukan ekspansi yang tak tanggung. “Tapi secara peluasan lahan pemain lama cenderung lebih luas ekspansinya, bisa sekaligus ekspansi 50 - 100 hektar. Bahkan kami lagi menyiapkan desain tambak di Pulau Bangka 400 hektar,” ungkap Seno. 
 
 
Meski momentumnya cukup baik untuk melakukan ekspansi tambak udang, tetapi Herry menilai investor juga tetap masih berhati-hati. Sebab menurutnya, pengusaha yang bermain udang lumrah memiliki unit usaha lain. Usaha lain ini yang menurut Herry mungkin saja terimbas pandemi sehingga perlu investor perlu mengalokasikan dananya lebih dulu pada usaha tersebut.  
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-103/15 Desember 2020 – 14 Januari 2021
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain