Minggu, 15 Nopember 2020

Patin Perkasa Makin Berasa

Patin Perkasa Makin Berasa

Foto: dok. kkp


Patin Perkasa sudah teruji di berbagai daerah, tapi penyebaran masih terhambat
 
 
Ikan patin (Pangasius.Sp) merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan Indonesia, pangsa pasarnya banyak diminati baik dalam maupun luar negeri. Terlebih lagi, ketika fillet (daging tanpa tulang) patin yang berasal dari Vietnam kini di banned (dilarang) oleh beberapa negara, hal tersebut menjadi tantangan bagi para stakeholder patin dalam memenuhi permintaan yang berdatangan. 
 
 
Para pembudidaya segmen pembesaran berlomba agar bisa memproduksi patin dengan daging yang berkualitas serta pertumbuhannya cepat. Bicara mengenai kualitas dan performa patin yang dibudidayakan, akan mengacu kepada sektor pembenihan, yang dimana benih yang berkualitas serta memiliki pertumbuhan cepat dihasilkan. 
 
 
Beberapa waktu lalu telah dirilis strain patin baru yang diberi nama Patin Super Karya Anak Bangsa (Perkasa). Indukan patin unggul ini digadang-gadang memiliki berbagai macam kelebihan dibandingkan patin yang sudah banyak beredar di kalangan pembudidaya.
 
 
Pemuliaan Genetik
Beberapa waktu lalu, TROBOS Aqua bersama TROBOS Communication menggelar acara seminar daring yang bertajuk produktivitas induk catfish (patin dan lele). Dalam acara tersebut Evi Tahapari selaku peneliti madya Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang - Jawa Barat (Jabar)  menjadi salah satu pembicara. 
 
 
Evi mengatakan, disinyalir bahwa keberadaan patin yang beredar di dalam negeri ini telah mengalami penurunan genetik, sehingga berdampak kepada laju pertumbuhan hingga Food Convertion Ratio (FCR). Keadaan ini ujungnya berdampak pada keuntungan para pelaku usaha di bidang pembenihan dan pembesaran patin. 
 
 
“Hal tersebut dapat terlihat dari bervariasinya laju pertumbuhan benih patin di berbagai daerah, sehingga disinyalir telah mengalami penurunan genetik,” ungkap Evi. Sambungnya, terlebih lagi jika melihat perkembangannya, pemijahan buatan patin pertama kali berhasil dilakukan pada tahun 1981, dengan strain patin siam. Hingga beberapa waktu lalu belum adanya pemuliaan genetik induk patin yang beredar di pembudidaya, dengan demikian kemungkinan terjadi penurunan genetik induk patin terjadi di kalangan pembudidaya. 
 
 
Sehingga, ia lanjutkan, pada tahun 2010 - 2017 dilakukan serangkaian kegiatan pemuliaan genetik guna menemukan strain patin unggulan. Kemudian berdasarkan seleksi yang dilakukan didapati generasi kedua yang memberikan respon pertumbuhan lebih cepat. “Pada 12 Juli 2018, Alhamdulillah dirilislah Perkasa sebagai komoditas ikan budidaya,” ungkapnya. 
 
 
Sambung Evi, berdasarkan penelitian yang dilakukan, bisa tumbuh lebih cepat 46 % dibandingkan dengan patin yang sudah umum beredar. Selain itu, memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap serangan Aeromonas. 
 
 
Selanjutnya, patin perkasa dilakukan uji lapang segmen pembesaran di berbagai lokasi seperti, di Sukamandi – Subang, Tulungagung, Bandar Lampung, dan di Waduk Darma – Kuningan. Berdasarkan uji lapang tersebut diperoleh hasil yang cukup baik. Dimana Food Convertion Ratio (FCR)-nya (konversi pakan jadi daging) lebih rendah jika dibandingkan dengan benih yang dihasilkan dari Unit Pembenihan Rakyat (UPR), di Tulungagung nilai FCR-nya diperoleh 1,35 sedangkan patin yang dari UPR didapati nilai 1,50. Kemudian untuk di daerah Kuningan patin perkasa memperoleh nilai 1,59 dan dari UPR 1,90. Untuk di Sukamandi patin perkasa FCR-nya 1,37 dan dari UPR 1,41. 
 
 
Hal tersebut dibenarkan oleh Supangat pembudidaya asal Tulungagung Jawa Timur yang menjadi lokasi uji lapang patin perkasa. Ia katakan bahkan sempat didapati nilai  FCR sebesar 1,1 dimana biasanya angka FCR yang diperoleh di Tulungagung 1,3 - 1,5 dengan jenis patin siam. “Dengan demikian, pembudidaya cukup senang dengan keberadaan patin perkasa karena pertumbuhannya yang lebih cepat, sehingga mendapatkan keuntugan yang lebih,” terang Supangat saat diwawacarai TROBOS Aqua. 
 
 
Sambungnya, perbedaan antara patin perkasa dengan patin siam yang lebih dulu dibudidayakan adalah waktu pemeliharaan yang lebih singkat 1 bulan. Semisal untuk patin siam pemeliharaanya bisa mencapai 6 bulan, sedangkan untuk patin perkasa sudah mencapai ukuran yang sama dengan waktu pemeliharaan 5 bulan dengan bobot rata-rata 1 kg per ekornya. Selisih 1 bulan pemeliharaan tersebut menjadi suatu keuntungan tambahan yang bisa diperoleh para pembudidaya jika menggunakan benih patin perkasa. 
 
 
Selain di fase pembesaran, lanjut Supangat, bahwa pertumbuhan di fase pendederan juga terlihat lebih cepat. Biasanya dengan patin siam untuk mencapai ukuran 6 cm dibutuhkan waktu sekitar 1 bulan dari ukuran ¾ inchi (sekitar 2 cm), sedangkan untuk patin perkasa hanya membutuhkan waktu sekitar 20 hari dari ukuran yang sama. “Memang kami rasakan bedanya dimana pertumbuhan patin perkasa lebih cepat dibandingkan dengan siam, karena memang berasal dari indk hasil seleksi yang ketat sehingga memperoleh benih yang lebih unggul,” ungkap pria yang juga tergabung dengan Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI). 
 
 
Performa Larva
Bicara mengenai benih patin perkasa, Imza Hermawan selaku pembudidaya patin asal Bogor Jawa Barat ikut angkat bicara, Ia sependapat adanya keunggulan pertumbuhan yang lebih cepat, namun tidak berbeda jauh dengan siam yang banyak sudah dibudidayakan. Jika dilihat dari penampakannya induknya, hampir tidak ada bedanya dengan patin siam yang sudah lebih dulu ada, dan juga karena memang patin perkasa merupakan pemuliaan genetik dari patim siam. 
 
 
Selain itu, dalam proses pemijahan yang dilakukan untuk menghasilkan benih patin berkualitas perlu dilakukan treatment (perawatan) khusus terhadap induk–induk patin. Begitu pula untuk induk patin perkasa, seteleh itu baru dilakukan seleksi kembali untuk memilih mana indukan patin perkasa yang baik dan memiliki tingkat rematurasi (proses mengisi telur kembali pasca dipijah) tinggi serta sedikit lemaknya. 
 
 
“Kebetulan saya sendiri memiliki indukan patin Perkasa, dimana dari beberapa ekor induk patin Perkasa yang saya miliki saya lakukan seleksi kembali agar memperoleh indukan yang benar-benar memiliki performa yang baik,” tutur Imza siang itu. Imbuhnya, yang menjadi dasar pemilihan adalah bentuk tubuh, jumlah produksi telur, kecepatan rematurasinya, dan lain-lain. 
 
 
Berdasarkan uji coba yang sudah dilakukan, sebelumnya induk patin perkasa sudah diberikan tanda masing-masing sehingga memdahkan membedakan mana yang benar-benar produktif. Setelah diperlihara dalam kurun waktu tertentu, diperoleh mana indukan patin perkasa yang memang benar-benar memiliki performa lebih unggul, sehingga siap dipijahkan. 
 
 
Setelah dilakukan proses pemikahan patin perkasa, Ia katakan, untuk mencapai ukuran 2 cm diperlukan waktu pemeliharaan sekitar 18 hari dari mulai larva, sedangkan biasanya untuk patin siam memerlukan waktu sekitar 21 hari. Perbedaan selisih 3 hari tersebut, tak jarang pula terjadi dibenih patin siam yang dipijahkan, larvanya memilki performa yang sama dengan patin Perkasa yang pertumbuhannya juga cepat. “Yang berarti, dalam proses pendederan larva patin ini memang adanya keunggulan strain patin Perkasa, namun belum adanya perbedaan yang signifikan dengan patin siam yang sudah pada umumnya beredar di kalangan pembudidaya,” ungkap Imza.
 
 
Dengan demikian, lanjutnya, para pembudidaya patin khususnya segmen pembenihan pada umumnya masih menilai bahwa dengan keberadaan induk patin siam yang banyak digunakan, sudah dirasa cukup. Sehingga, belum banyak yang memiliki indukan patin perkasa yang dihasilkan BRPI Sukamandi. “Sebagai pembudidaya kami menyambut baik dengan adanya pembaharuan strain patin. namun kami berharap adanya strain-strain lanjutan yang keunggulannya benar-benar dirasakan pembudidaya, sehingga berdampak kepada peningkatan mutu serta produksi benih patin,” bebernya.
 
 
Seperti halnya pada komoditas ikan nila, nila-nila unggulan dengan nila yang asal usulnya tidak jelas jika dibudidayakan terlihat sekali perbedaanya. Dengan banyakya strain nila unggulan yang ada, akan menjadi pilihan bagi para pembudidaya di berbagai daerah. Sehingga pembudidaya dapat memilih, strain manakah yang cocok di budidayakan di daerah masing-masing, dan dapat tumbuh optimal.
 
 
Senada dengan Imza, Haji Rojali selaku pembenih patin kawakan asal Cipayung, Jakarta Timur mengatakan, bahwa yang ia rasakan belum adanya perbedaan yang prinsip antara patin perkasa dan siam yang ada. Bahwa saat uji coba pndderan larva patin perkasa di tempatnya memang memiliki hasil yang cukup bagus. “Pada saat uji coba lapang, larva patin perkasa ditebar sekitar 2,2 juta ekor, kemudian sintasanya atau Survival Rate (SR)-nya mencapai 90 %,” terang pria yang sudah memulai usaha pembenihan patin sejak tahun 90’an. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-102/15 November – 14 Desember 2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain