Sabtu, 17 Oktober 2020

Kebutuhan Tepung Ikan Akan Tembus 1,2 Juta Ton pada 2024

Kebutuhan Tepung Ikan Akan Tembus 1,2 Juta Ton pada 2024

Foto: ist/dok.ZOOM-IAC2020


Jakarta (TROBOSAQUA.COM). Pada 2024 kebutuhan tepung ikan sebagai bahan baku pakan diprediksi menembus 763,8 ribu hingga 1,2 juta ton. Pasokan sebesar itu dibutuhkan untuk mendukung produksi akuakultur (khusus ikan dan udang) yang akan mencapai 10,1 juta ton.

 

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Rokhmin Dahuri saat membuka acara forum diskusi daring Indonesian Aquafeed Conference (IAC) 2020 yang diselenggerakan oleh Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), MAI, dan US Soybean Export Council (USSEC) melalui palikasi Zoom (13-14/10).

 

Menurut koordinator tim penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan ini,  untuk memproduksi tepung ikan ini, dibutuhkan 4,6 sampai 6,9 juta ton ikan segar. Angka tersebut didapatkan dengan memprediksi komposisi kebutuhan tepung ikan pada pakan ikan sebesar 10 – 40 % dan pada pakan udang sebesar 20 – 30 %.

 

Dengan target produksi auakultur dan kebutuhan bahan baku pakan sebanyak itu, Rokhmin menyarankan agar pemerintah membuat strategi untuk memastikan target tersebut bisa tercapai dan berkelanjutan. Ia juga mendorong para pemangku kepentingan di industri pakan ikan dan udang untuk mencari dan mengembangkan bahan baku alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan.

 

Industri Akuakultur

Industri Akuakultur terus berkembang pesat dalam beberapa dekade terahir. Rata-rata pertumbuhannya lebih dari 10% per tahun sejak tahun 1970-an. Pada saat ini, produksi akuakultur sudah mencapai 52% dari total produksi ikan global. Pertumbuhan akuakultur yang terus meningkat itu membutuhkan pasokan pakan yang mencukupi dan berkualitas.

 

Sementara pada sambutan Menteri Kelautan dan Perikanan yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budaya, Slamet Soebjakto menyebutkan bahwa target produksi akuakultur nasional akan mencapai 22,65 juta ton (termasuk rumput laut) pada 2024. Jumlah produksi tersebut akan membutuhkan pakan ikan dan udang sebanyak 12 – 13 juta ton.

 

“Tentunya hal ini perlu didukung ketersediaan pakan, baik dari pabrikan, maupun pakan mandiri,” kata Slamet mengutip sambutan Menteri KP.

 

Menurutnya, arah kebijakan pengelolaan pakan ikan nasional dalam Rencana Strategis KKP 2020-2024 adalah menuju ke arah pengelolaan yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. “Mandiri, artinya secara bertahap kita harus mulai mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor,” jelas Slamet.

 

Forum Aquafeed Pertama

Acara daring IAC 2020 yang mengusung tema “Quality, Efficiency & Credibility” merupakan forum diskusi pertama berskala nasional bagi para pemangku kepentingan di industri pakan akuakultur. Forum yang didukung juga oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan ini bertujuan untuk memberi solusi dalam penyediaan pakan yang berkualitas dan kompetitif dalam mendukung kemajuan industri akuakultur di Indonesia. Forum daring selama dua hari ini mengahadirkan banyak pembicira berkualitas baik dari dalam maupun luar negeri.

 

Menyoal tema yang diusung, salah satu narasumber ahli nutrisi dari IPB University Prof. M. Agus Suprayudi menyatakan bahwa pakan ikan yang bagus tidak hanya ditinjau dari aspek kualitas pakan dan teknologinya saja, tetapi ditinjau dari empat kriteria. Keempatnya antara lain bagus untuk ikan, bagus untuk lingkungan, bagus dari aspek keamanan pangan, dan bagus dari aspek bisnis yang bisa menguntungkan tidak hanya bagi industri pakan, tetapi juga bagi agen dan pembudidaya.

 

“Di sini lah tantangan yang real bagi kita sekarang. Teknologi nutrisi dan pakan hanya bagian kecil. Yang terpenting bagaimana pakan yang bagus itu menguntungkan untuk semua,” jelas guru besar IPB ini. 

 

Menurut Ketua GPMT Haris Muhtadi, industri akuakltur tanah air sangat tangguh dalam menghadapi pandemi Covid-19. Banyak negara produsen perikanan dunia yang mengalami penurunan produksi secara drastis akibat pandemi ini. Tetapi industri akuakultur Indonesia justru tidak terdampak secara signifikan. Oleh karena itu kondisi ini perlu menjadi motivasi bagi industri pakan untuk terus mendukung pertumbuhan akuakultur nasional dengan menghadirkan pakan yang efisien dan berdaya saing.


Ia juga mengapresiasi atas keberhasilan acara IAC perdana tersebut. Menurutnya IAC 2020 berhasil secara kualitatif dan kuantitatif dan akan sangat bermanfaat bagi peserta dan industri pakan akuakultur.

 

“Secara kuantitif pesertanya lebih dari 400 orang. Secara kualitatif pembicara level internasional, baik pembicara asing maupun lokal. Pokok bahasan yang disapampaikan bervariasi dan fokus pada aquafeed, formula dan produksi, dan juga pemilihan bahan baku pengganti fishmeal. Diskusinya pun sangat berutu,” ujarnya. ed/asep

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain