Kamis, 15 Oktober 2020

STP Luncurkan Mobile Diagnostic Laboratory

STP Luncurkan Mobile Diagnostic Laboratory

Foto: 
Hengky Santoso didampingi Nunung Nugroho menggunting pita

Sebagai upaya STP membantu pelanggan dan mitra mendapatkan akses fasilitas laboratorium budidaya udang yang mudah dijangkau melalui layanan laboratorium keliling
 
 
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) melalui anak usahanya, PT Suri Tani Pemuka (STP) Unit Aquafeed Lampung, Rabu (16/9) siang meluncurkan fasilitas laboratorium keliling bernama ‘Mobile Diagnostic Laboratory STP’ secara virtual, untuk pelanggan dan mitra STP di wilayah Bangka dan Belitung. Kehadiran ‘Mobile Diagnostic Laboratory STP’ ini sebagai upaya STP membantu pelanggan dan mitra mendapatkan akses fasilitas laboratorium budidaya udang yang mudah dijangkau melalui layanan laborato¬rium keliling. 
 
 
Dengan protokol kesehatan yang ketat, seremonial peluncuran ‘Mobile Diagnostic Laboratory STP’ ditandai dengan pengguntingan pita oleh Hengky Santoso, Head of Unit STP Lampung didampingi Nunung Nugroho, Head of Sales Pakan Udang Unit Aquafeed Lampung di halaman kantor pabrik pakan PT STP di Katibung, Kabupaten Lampung Selatan. Dari kantor pusat PT STP Jakarta, Erik Harjadi Lisnan, Assistant to Head of Aquafeed PT STP menyatakan, ‘Mobile Diagnostic Laboratory STP’ menjadi salah satu upaya untuk dapat menjangkau pelanggan lebih dekat, baik yang di Lampung maupun di Bangka. 
 
 
“Kami berharap fasilitas ini dapat membantu proses budidaya udang para pelanggan dan mitra kami menjadi lebih optimal, dengan mempertimbangkan faktor-faktor, keberlanjutannya,” ujar Erik. Ia menjanjikan Mobile Diagnostic Labora¬tory STP’ juga akan hadir di beberapa kota lainnya seperti di Gresik dan Banyuwangi – Jawa Timur, Medan – Sumatera Utara, serta Sulawesi Selatan.
 
 
Kemudahan Akses Fasilitas Lab Budidaya Udang 
Pengadaan ‘Mobile Diagnostic Laboratory STP’ ini sebagai upaya STP membantu pelanggan dan mitra mendapatkan akses fasilitas laboratorium budidaya udang yang mudah dijangkau melalui layanan laboratorium keliling. “Terutama mitra kita yang lokasi tambaknya jauh dari laboratorium PT STP di Katibung ini,” ujar Hengky Santoso dalam sambutannya. 
 
 
Untuk itu, lanjut Hengky, di tahap pertama mobil lab tersebut akan ditempatkan di Bangka - Belitung lengkap dengan peralatan dan petugas labnya. Selanjutnya, PT STP akan menghadirkan mobil lab serupa untuk wilayah Bengkulu. “Lalu tahun depan kedua mobil lab ini akan kita lengkapi dengan perangkat Polymerase Chain Reaction (PCR) sehingga akan menjadi lab berjalan yang bisa mengecek berbagai kebutuhan petambak,” sambungnya. 
 
 
Dijelaskan Hengky, penggunaan mobil lab ini tidak terbatas untuk para pelanggan dan mitra PT STP saja, tetapi juga untuk petambak lainnya. “Sebab kita ingin mem¬bantu semuanya agar produksi udang kita berkembang pesat,” tambahnya. Dalam operasionalnya mobil lab tersebut akan berkeliling ke pelanggan dan mitra secara berkala. “Jadi tidak menunggu permintaan dari pelanggan dan mitra, tetapi secara berkala akan berkeliling ke tambak-tambak pelanggan dan mitra untuk mengecek paramater air dan udang,” jelas Hengky. 
 
 
Dengan begitu, diharapkan kehadiran mobil lab tersebut akan membantu pelanggan dan mitra dalam mencegah berbagai penyakit yang berpotensi muncul di tambaknya. Sebab kemungkinan timbulnya berbagai macam penyakit dalam budidaya udang menjadi sebuah hambatan bagi pelaku bisnis budidaya udang. 
 
 
Abdan, karyawan PT STP yang akan mengoperasikan ‘Mobile Diagnostic Laboratory STP’ di Bangka juga memberi penjelasan. Selain untuk mengecek berbagai parameter air, ucapnya, lab keliling ini juga dilengkapi mikroskop yang bisa mendeteksi gejala berbagai penyakit udang, termasuk AHPND. 
 
 
“Jika menunjukan ada gejala penyakit setelah pemeriksaan mikroskop, sampel akan dikirim ke lab di Lampung atau Jakarta. Tujuannya, untuk memastikan penyakit apa saja yang diderita sampel tersebut melalui PCR. Dari hasil pengecekan tersebut tim teknis STP akan memberi rekomendasi kepada pelanggan dan mitra upaya untuk mengatasi penyakit tersebut,” tutur Abdan yang menyatakan siap bertugas di Bangka. 
 
 
Lalu, ketika tahun depan mobil ini sudah dilengkapi dengan perangkat PCR maka sampel tidak perlu lagi dikirim, tetapi langsung dicek di tempat. Dan hasilnya bisa langsung diketahui sehingga upaya yang harus dilakukan untuk melokalisir penyakit bisa segera dilakukan. 
 
 
Gelar Webinar Waspada AHPND 
Bersamaan dengan peluncuran ‘Mobile Diagnostic Laboratory STP’, STP Lampung juga menggelar webinar terkait penyakit AHPND pada udang. Tampil menjadi narasumber adalah Sarwana, Head of Technical Support PT Suri Tani Pemuka (STP) beserta tim; Itang Hidayat, Head of Aquaculture Technology Development PT STP dan Iswadi, Head of Hatchery PT STP dengan moderator Rudi Kushariyanto, Technical Support PT STP. 
 
 
Tampil secara virtual, Sarwana memaparkan makalah dengan topik ‘Pengendalian Patogen Berbasis Bukti’. Pada bagian awal pemaparannya, Sarwana menguraikan sejarah dan perkembangan AHPND-- yakni penyakit yang menyebabkan nekrosa atau kematian jaringan hepatopankreas pada udang secara akut. 
 
 
Sarwana memaparkan soal surveilans yang dilakukan STP dengan mengamati tren penyakit dan melakukan tracing terhadap sumber infeksi penyakit. Metode surveilans yang dilakukan berupa surveilans pasif yakni lewat rekapitulasi data lab PCR bulanan berdasarkan sampel yang masuk. Dan surveilans aktif dengan cara tim turun ke lapangan melakukan sampling dengan jenis sampel yang spesifik. 
 
 
Sarwana menyimpulkan, penanganan kasus AHPND harus dilakukan dengan komprehensif yang meliputi seleksi benur, manajemen lumpur, pengendalian kestabilan kolam, dan aplikasi imunostimulan. Lalu kontrol vibrio di kolam budidaya dan benur menjadi faktor utama disamping menjaga kestabilan kolam budidaya. 
 
 
“Yang tidak kalah pentingnya perlunya keterbukaan informasi. Jangan menganggap AHPND sebagai stigma negatif. Koordinasi antar-farm dapat menekan penyebaran AHPND di suatu lingkungan budidaya,” urai Sarwana. 
 
 
Menyambung pemaparan Sarwana, pembicara berikutnya Itang Hidayat mengupas lebih jauh soal vibrio para. Menurut Itang, Vibrio para tidak saja meracuni udang tetapi juga berbahaya bagi manusia. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar pekerja atau operator lapangan di tambak harus diproteksi dari risiko terinfeksi. Biosekuriti, sanitasi, dan higienitas lingkungan kerja harus diper-hatikan. Tutup luka dengan pembalut luka kedap air saat harus turun ke dalam air kolam untuk sifon. Sebab Vibrio para dapat masuk dan menginfeksi manusia lewat luka terbuka, telinga, dan oral. 
 
 
Pada bagian akhir pemaparannya Itang menguraikan sejumlah tindakan yang bisa dilakukan petambak guna mencegah AHPND, yakni: optimasi water preparation di tandon; dan pembuatan IPAL tambak udang budidaya (sludge management). Yang lainnya adalah pengendalian blooming Vibrio spp di air kolam melalui aplikasi monosodium persulfat (Virkon™); glutaraldehida (Anti Germen Forte™); benzalkonium klorida; penyesuaian feeding rate pakan dan debit penggantian air; serta pembersihan dasar kolam. Itang juga mengingatkan petambak untuk memanfaatkan GIS kebijakan satu data pemerintah guna penetapan intake air laut, menyesuaikan data batimetri, data fisika, kimia, dan geografis untuk memperoleh kualitas air laut bagus dengan TOM, TSS, TAN rendah. 
 
 
Pembicara lainnya yakni Iswadi, lebih banyak menyoroti soal biosekuriti dan skrining hatchery sebagai upaya antisipasi penyakit EMS/AHPND. Menurut dia, budidaya udang di era EMS harus memperhatikan tiga komponen yang terdiri dari lingkungan, inang dan penyakit. 
 
 
Iswadi menegaskan, dalam mencegah penyebaran AHPND tidak cukup hanya mengandalkan benur berkualitas dan bebas penyakit, tetapi semua pihak yang terlibat dalam budidaya harus memiliki komitmen bersama memerangi penyakit, terutama EMS. “Kegagalan negara produsen udang lainnya dalam mencegah menyebarnya EMS/AHPND harus menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia,” pungkasnya. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain