Selasa, 15 September 2020

Waspadai Kematian Dini Udang

Waspadai Kematian Dini Udang

Foto: datuk


Petambak udang perlu mengingkatkan kewaspadaan pada musim pancaroba ini, serangan bakteri kian mengganas
 
 
Sudah sejak tahun lalu, area pertambakan di beberapa daerah di provinsi Lampung alami fenomena gejala kematian dini. Fenomena kematian udang yang menyerang pada masa-masa awal budidaya ini merupakan wabah yang terbilang baru dan berbeda dari penyakit udang yang sudah biasa menyerang sebelumnya. Belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah mengenai jenis penyakit apa yang sampai saat ini masih ramai di perbincangkan para petambak di Lampung. Namun para mereka menamai wabah ini dengan Fenomena Kematian Dini (FKD). 
 
 
Manajer Produksi tambak udang milik Merry Group, Ery Brahmantiyo mengatakan bahwa FKD mulai muncul di tambak mereka pertama kali pada tahun lalu. Terutama pada tambak yang berlokasi di Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan. Namun menurutnya, wabah ini sudah lebih dulu muncul di Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur. 
 
 
"Informasinya sebelum menyebar ke Lampung Timur, tambak di pantai timur Sumatera Utara sudah duluan mengalami gejala kematian dini. Dari informasi itu diduga FKD menyebar melalui perairan pantai timur Sumatera, dari timur terus ke selatan“ ujar Ery saat diwawancarai TROBOS Aqua di Bandar Lampung baru-baru ini. 
 
 
Ia tidak mengetahui persis berapa banyak daerah yang terdampak FKD. Namun ia menaksir penyebarannya memang sudah cukup luas mulai dari pantai timur Lampung hingga teluk lampung di Kabupaten Lampung Selatan. “Kalau melihat garis pantai sebenarnya sudah cukup luas, tapi tidak berarti tambak di garis pantai tersebut positif FKD semuanya,” katanya hati-hati.
 
 
Lebih Ganas
Menurut Ery, FKD sudah menyerang udang di tambaknya pada DOC 20 hari. Hasil pengamatan pada udang yang terkena FKD, ia menemukan salah satu bakteri bergenus Vibrio dengan kepadatan yang cukup tinggi. "Mencapai sepuluh pangkat empat atau sudah di atas normal," ungkapnya. 
 
 
Akibat wabah ini, Ery harus melokalisir kolam yang terdampak secara signifikan dengan kematian yang tinggi dan langsung mematikan udang-udang yang tersisa. Namun pada tambak yang tingkat kematiannya rendah, ia masih bisa memanennya. 
 
 
Untuk menahan FKD lebih menyebar lagi di tambaknya, ia pun terpaksa menyetop produksi selama satu siklus atau sekitar lima bulan. Ery menilai penyakit FKD ini cukup ganas. Bahkan menurutnya lebih ganas dari pada serangan WSSV (White Spot Syndrome Virus)  dan Myo. Keganasan itu, lanjut Ery, antara lain dipengaruhi oleh kecepatan serangannya yang luar biasa. 
 
 
Selain soal kecepatannya, serangan salah satu bakteri jenis Vibrio ini membuat efek buruk yang ganda pada udang. Udang yang terkena bakteri tersebut akan mengalami pengecilan hepatopankreas dan membuat warnanya jadi pucat. Sementara pada udang yang sehat, hepatopankreasnya cenderung berwarna cokelat. 
 
 
Selain melalui serangan langsung pada bagian tubuh udang, bakteri tersebut juga memberikan efek yang mematikan bagi udang ketika bakteri tersebut alami kematian dan menjadi racun di dalam kolam. “Jadi udang banyak yang mati buka karena gagal molting, melainkan karena keracunan. Bahkan dari hasil riset disebutkan racun yang dikeluarkan Vibrio yang mati tersebut lebih berbahaya daripada pestisida.” ungkapnya.
 
 
Ery mengungkapkan pada saat munculnya FKD pertama kali di tambak Ketapang, cuaca saat itu sedang pancaroba. Menurutnya suhu air menjadi sangat fluktuatif. “Karena bisa saja ketika panas terik tiba-tiba turun hujan. Akibatnya selain terjadi kegoncangan suhu juga salinitas air kolam turun. Untuk mengatasinya kita aplikasi mineral bisa membantu.
 
 
Lingkungan yang Mendukung
Hal senada mengenai adanya peran cuaca dalam merebaknya wabah penyakit pada udang yang disebabkan oleh bakteri, seperti oleh kelompok bakteri Vibrio, juga disampaikan oleh Head of Shrimp Technical Team Departement PT Suri Tani Pemuka (STP), Narendra Santika Hartana. Dalam suatu acara seminar udang yang diadakan STP di Pangkal Pinang beberapa waktu yang lalu, ia menyampaikan bahwa di kuartal ketiga tahun lalu atau menjelang ahir 2019, suhu permukaan air laut cenderung panas akibat musim kemarau yang relatif lebih panjang. 
 
 
Suhu yang agak panas itu membuat bakteri-bakteri yang bersifat oportunistik seperti kebanyakan dari jenis Vibrio berkembang dengan optimal. “Sementara kita tahu bakteri Vibrio parahaemolyticus, Vibrio harveyi, dan Vibrio lainnya, itu kondisi idealnya ada di 31 derajat celcius,” jelas dokter hewan yang biasa dipanggil Rendra ini. 
 
 
Selain karena masalah kemarau yang lebih panjang, kenaikan suhu permukaan air juga terjadi sebagai efek pemasanan global. Rendra mengutip sebuah pernyataan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan bahwa sejak tahun 2013, suhu permukaan air laut akan naik sebesar 0,5 derajat Celcius. Sehingga jika suhu permukaan air di tahun 2013 normalnya di kisaran 27 – 29 derajat Celcius, maka di tahun 2020 sudah bisa menyentuh 30 derajat Celcius. “Ini semakin mendekati suhu idealnya untuk hidup bakteri,” simpulnya.
 
 
Tak hanya suhu, berkembangnya bakteri yang pesat di suatu perairan bisa dipicu juga oleh bahan terlarut oranik total atau TOM (Total Organic Matter) yang cukup tinggi. Sepanjang tahun 2019, Rendra melakukan sebuah surveillance (pengamatan) kualitas air laut di beberapa daerah pertambakan di provinsi Lampung.
 
 
Hasil dari pengamatan itu terlihat bahwa di sepanjang tahun lalu ia menemukan nilai TOM hampir di semua daerah, yang meliputi Padang Cermin, Kalianda, Pesisir Barat, dan Pantai Timur memiliki nilai di atas 60. Sementara menurutnya, ambang batas TOM yang optimal untuk budidaya tidak melebihi nilai 60. Rendra mengungkapkan bahwa TOM tersebut juga bisa menjadi makanan bakteri. Jika nilainya tinggi, maka potensi bakteri untuk berkembang lebih banyak juga tinggi. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-100/15 September – 14 Oktober 2020

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain