Sabtu, 12 September 2020

Tambak Super Intensif di Takalar Hasilkan 50 Ton Perhektar

Tambak Super Intensif di Takalar Hasilkan 50 Ton Perhektar

Foto: ist/dok.ZOOM-KKP


Takalar (TROBOSLIVESTOCK.COM).Panen 15 ton udang  dari 3 petak tambak super intensif, masing-masing 1.000 meter persegi, bukan lagi mustahil.  Angka ini setara dengan produktivitas panen 50 ton perhektar tambak.

 

Prestasi itu benar-benar terjadi di Instalasi Tambak Percobaan (ITP) Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP), desa Punaga, kecamatan Mangarabombang, kabupaten Takalar - Sulawesi Selatan pada (12/9).

 

"Atau kisaran 5 ton per petaknya. Masing - masing petak berukuran luas kisaran 1.000 meter persegi. Sementara padat tebarnya  500 ekor per meter persegi," ucap Kepala BRPBAPPP Maros, Indra Jaya Asaad.

 

Panen ini disaksikan oleh Kepala Badan Riset Sumber Daya Manusia (BRSDM) Sjarief Widjaja dan Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan, Lilly Apriliya Pregiwati melalui aplikasi daring Zoom. Serta dihadiri langsung Kepala Pusat Pendidikan Kelautan Perikanan Bambang Suprakto dan Kepala Bidang Riset Perikanan Budidaya Pusat Riset Perikanan, Agus Cahyadi.

 

Sjarief mengapresiasi budidaya udang super intensif ini. Serta menantikan inovasi selanjutnya untuk dunia kelautan dan perikanan. "Biar lahan kita produktif perikanan, tidak hanya produktif pertanian," ungkapnya.

 

ITP ini dirancang sebagai sarana penelitian dan pengembangan teknologi budidaya udang vannamei superintensif yang ideal. Profesor Rachman Syah, peneliti BRPBAPPP yang meneliti budidaya super intensif ini menerangkan lebih detail.

 

Dari kolam yang ada di ITP, telah diujicoba budidaya udang vannamei dengan berbagai padat penebaran dari 300 sampai 1.250 ekor per m2 dengan produksi antara 3,48 sampai 12,2 ton per 0,1 ha dengan tingat produktivitas dari 1,94 sampai 6,76 kg per m3 per musim tebar.

 

Berdasarkan analisa usaha, maka biaya produksi tercatat pada kisaran Rp 30.526 sampai Rp 41.240 dengan nilai rata-rata Rp 33.522±4.092,- per kg udang, dengan tingkat keuntungan antara Rp 198 sampai 665 juta dengan nilai rata-rata Rp 484±177 juta per 0,1 ha per tahun (2 siklus produksi).

 

Rachman juga menerangkan tentang tantangan budidaya superintensif, yakni beban limbah budidaya yang dapat mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan perairan. Ujungnya, menurunnya daya dukung perairan pesisir bagi keberlanjutan usaha budidaya udang itu sendiri. Oleh karena itu, pada 2020, kajian diarahkan untuk memperbaiki sistem budidaya vannamei dari aspek manajemen kualitas air terutama pembuangan sludge dan kotoran yang terbentuk selama budidaya.

 

Mekanismecompensatory growth dari udang dimanfaatkan secara efektif sehingga dapat memperpendek masa pemeliharaan  pada fase pembesaran, menghindari waktu krisis di DOC-30-40, meningkatkan frekuensi penebaran melalui optimalisasi pemanfaatan lahan dan pola tebar atau siklus produksi, serta meningkatkan produksi dan efisiensi biaya.dini

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain