Sabtu, 15 Agustus 2020

Permintaan Pasar Mulai Membaik

Permintaan Pasar Mulai Membaik

Foto: asep


Asa mulai merebak bagi pembudidaya nila dengan naiknya harga ikan 
 
 
Bila menimbang pasar nila domestik, tidak disangsikan betapa besar prospeknya. Hal ini pun diakui Salim Hidayat, Supervisor Technical Partner Fish Feed East Java Area PT Centra Proteina Prima. Tidak muluk–muluk, prospek ini ia amati dari pertumbuhan penjualan pakan yang selalu positif setiap tahunnya. 
 
 
“Target pasar pasti meningkat 10 % setiap tahunnya dengan potensi penjualan 1.000 – 1.200 ton untuk Jawa Timur (Jatim) sendiri. Terlihat pula gambaran ini dari jumlah pembudidaya yang terus meningkat. Misalnya, dari petani (pembudidaya) A berhasil, menular ke petani lainnya, sehingga bertambah terus jumlahnya,” terang laki–laki yang akrab disapa Salim ini.
 
 
Jatim sendiri, jelas Salim, merupakan penyumbang ketiga terbesar dalam penjualan pakan untuk nila dari perusahaannya. Peringkat pertama ditempati Jawa Barat (Jabar), dengan sentra budidaya di waduk seperti Jatiluhur. Sementara peringkat kedua ditempati Lampung, peringkat keempat ditempati Jawa Tengah (Jateng), sementara peringkat kelima ditempati Sumatera Utara (Sumut). 
 
 
Dia mengungkap, untuk nila sendiri belum ada pakan khususnya. Yang saat ini digunakan pembudidaya adalah pakan dengan kandungan protein 25 – 28 %. Saat ini harga pakan di kandungan protein tersebut berkisar Rp 8 ribu per kilogramnya. Yang mana, pertumbuhan harga pakan cenderung stabil bahkan di tahun ini. Yaitu, di kisaran Rp 100 – 200 kenaikan harga pakan satu kilogramnya.
 
 
Tetap Waspada
Cukup berbeda dari optimisme Salim, Sarawoot Chittratanawat, Managing Director, Cargill Aqua Nutrition Malaysia and Indonesia masih mengungkap kekhawatiran. Apalagi, semenjak pandemi merebak, pihaknya memperhatikan adanya penurunan produksi tilapia (nila) di antara pembudidaya mitra dari mulai restoran hingga pasar basah. “Justru, kami lihat ada sedikit kenaikan demand (permintaan) nila di supermarket,” ujarnya yang akrab disapa Pop ini.
 
 
Pop mengatakan, penurunan permintaan konsumen ini tentunya berpengaruh pada penjualan ikan oleh pembudidaya. Karena, menurutnya, di sebagian besar wilayah Indonesia, pasar basah masih ditutup hingga pertengahan Agustus lalu. Pengaruhnya, tentulah besar bagi pembudidaya karena mereka masih banyak yang menjual langsung hasil panen ke pasar basah.  
 
 
Namun demikian, Salim menilai penurunan betul terjadi, namun semenjak dua bulan terakhir sudah menanjak, khususnya di Jatim. “Permintaan pakan turun setidaknya 20 % dari awal tahun. Namun, sejak awal Juli lalu sudah normal kembali. Pengaruh ke permintaan pakan itu cuma pas Maret dan April, ditambah saat itu dolar naik dan ini berimbas ke raw material (bahan baku) kita yang impor juga. Namun mulai dari Mei kemarin sudah ada pergerakan naik sampai sekarang,” ujarnya. 
 
 
Justru kalau di Jatim, arah pasar yang tidak terlalu banyak ke restoran atau supermarket, menjadi nilai plus. Alasannya, pasar nila langsung ke pasar basah. Dan saat ini, terang Salim, pasar basah sudah banyak yang beroperasi.
 
 
Nilai plus lain yang membantu adalah segmen pasar. Yakni, tidak melulu ke arah pembudidaya segmen konsumsi size kecil. Dari pabrikan pakan, bisa menyasar segmen pasar pembudidaya size besar atau sekitar 300 gram up hingga pembudidaya ke kolam pancing. “Kita ada segmen pasar yang mulai berkembang kolam pancing yang semi hiburan, terutama untuk ikan nila, mas, dan gurami,” ungkapnya. 
 
 
 
Harga nila di daerah Jatim seperti di Lamongan dan Gresik, sempat drop di kisaran Rp 14 – 15 ribu per kg dengan size 4 - 6 ekor per kg-nya. Namun, ia optimis karena tren penurunan ini juga mirip di tahun sebelumnya. Dimana tren akan kembali meningkat sejak Juli dan Agustus. “Biasanya nanti di Oktober hingga Desember bisa meningkat menjadi Rp 25 ribu – 30 ribu per kg nya,” ujar Salim. Di Jatim sendiri, pembudidaya banyak membudidayakan nila gift di daerah payau atau tambak.  
 
 
Walau menurut Salim sudah ada napas lega, pembudidaya nila asal Subang–Jabar, Deden Agus Zaelani tetap mewanti kewaspadaan. Pasalnya, dia melihat pasar saat ini tidak sestabil tahun–tahun sebelumnya. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-99/15 Agustus – 14 September 2020

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain