Sabtu, 15 Agustus 2020

Stimulasi Pasar Nila Domestik

Stimulasi Pasar Nila Domestik

Foto: asep


Pasar nila yang prospektif harus ‘pintar–pintar’ memancing minat konsumen lokal yang masih terbelenggu kondisi pandemi 
 
 
Dalam edisi 96 lalu, TROBOS Aqua telah membahas dampak serius pandemi Covid–19 terhadap komoditas perikanan nasional. Dan pastinya, wabah ini telah berdampak keras bagi stakeholders (pemangku kepentingan) ikan air tawar dari hilir ke hulu.
 
 
Hilirnya, berupa pola konsumsi ikan yang menurun karena daya beli turun dan masyarakat tidak keluar rumah. Disamping itu, banyak rumah makan tutup. Efeknya, merambah ke hulu hingga pembudidaya harus menyetop usahanya karena rendahnya penjualan ikan. 
 
 
Namun, hal menarik diutarakan Riski Febri Setiawan, Kepala Unit Pengolahan PT Laju Banyu Semesta (Labas) yang mengamati perubahan pola konsumsi ikan selama pandemi. Dia menyebut ada penurunan permintaan produk mereka dari rumah makan. Saat awal pandemi merebak, sebutnya, Labas merasakan dampak penurunan permintaan sekitar 10 – 20 % untuk produk yang diarahkan ke rumah makan. 
 
 
Hilir atau pasar seperti Labas, terang laki – laki yang kerap disapa Olin ini, mau tidak mau harus ‘pintar–pintar’ memancing konsumen. Pihaknya, yang sudah merambah ke produk olahan nila dan lele semenjak dua tahun terakhir, pun merasakan perubahan ini. Labas, dikenal menjual produk–produk olahan sidat seperti sirayaki dan kabayaki, ikut merambah frozen (beku) nila dan lele bumbu kuning yang sudah bersih isi perut dan sisik.
 
 
“Dalam pandemi, pastinya kita ada terdampak, cuma kondisinya gak terlalu signifikan. Karena sudah kita bangun bukan hanya pasar restoran, tapi juga pasar retailan yang dimana bisnisnya tetap terus jalan,” ungkapnya. Sehingga, ada kenaikan permintaan dari sisi retail dan end user berupa produk ready to cook atau siap untuk dimasak. 
 
 
Dia mengisyaratkan, masyarakat seakan ‘dipaksa’ melakukan hal yang tidak biasanya dalam menghadapi pandemi. Yaitu, agar melihat, menyeleksi, dan mengkonsumsi produk ikan yang praktis siap masak tanpa harus keluar rumah. 
 
 
“Contohnya, produk nila dan lele bumbu ini. Ada kenaikan permintaan karena ada konsumen yang rindu makan di pecel lele. Jadi kita kasih pilihan. Dibanding keluar tapi ada dampak kena korona, silakan stay at home tapi barang kita produksi dan kita kirim ke rumah, langsung digoreng dan disantap. Dimana sekarang kondisinya kita gak bisa makan sembarangan,” lanjutnya. 
 
 
Dari segi kuantitas, Labas yang memusatkan operasinya di Bogor – Jawa Barat (Jabar) ini paling banyak menjual olahan nila dan lele bumbu kuning dibanding sidat. Penjualan nila dan lele bumbu mendekati 1 ton setiap bulannya. Sementara sidat menjadi keunggulan Labas karena lebih bernilai tinggi. Olin mencontohkan, sirayaki bisa dijual seharga Rp 550 ribu – Rp 600 ribu per kilogram (kg). Sementara frozen nila bumbu dihargai Rp 45 ribu per kg.
 
 
Hulu dari Hilir
Makanya, Olin berargumen, bicara pasar saat ini, juga tak lepas bicara pandemi. “Ada beberapa kalangan yang menghindari pasar atau rumah makan, makanya kita lihat pasar frozen naik di beberapa perusahaan. Pelaku usaha juga yang biasanya tidak menyiapkan produk frozen, jadi berlomba untuk genjot menyiapkan frozen food,” bebernya. 
 
 
Dia pun mensyukuri pihaknya sudah berinovasi di produk beku ini jauh sebelumnya. “Sekarang kita ambil momennya. Alhamdulillah–nya kita sudah mulai dua tahun belakangan, sehingga sudah punya pasar,” tambah Olin. Saat ini Labas bisa memanfaatkan bahan baku nila dan lele hingga 150 – 200 kg seharinya untuk produksi.
 
 
Walau masih ada keraguan karena pandemi, Olin berani berkata optimis untuk pasar domestik nila. Apalagi komoditas nila bisa dicapai banyak kalangan bawah hingga menengah karena harganya terjangkau. 
 
 
“Untuk menjangkau berbagai kalangan, kita pun memberi harga produk ini mendekati produk segar di pasaran. Misalkan nila segar, di pasar Jakarta bisa sekitar Rp 36 ribu – Rp 38 ribu per kg. Hanya ditambahkan sekian ribu melalui produk kita sudah dibumbui dan tinggal goreng,” terangnya.
 
 
Belum lagi dari kapasitas penyimpanan yang praktis dari produk olahan ini. Olin lagi mencontohkan, untuk satu kg nila pack produk Labas bisa isi 4 – 6 ekor. Dia pun melihat jumlah ikan ini cukup untuk satu keluarga kecil. “Nilai plusnya, bisa disimpan lagi. Goreng saja dua ekor, sisanya bisa dimasukkan lagi ke freezer. Cukup beda dengan ikan segar yang harus dihabiskan saat itu juga,” imbuhnya. 
 
 
Untuk memajukan pasar domestik harus dipancing dari pasar (hilir) juga diamini Deden Agus Zaelani, pembudidaya nila asal Subang – Jabar. Dia beropini, konsumen nila tetaplah ada, namun butuh kreativitas dari segi pasar untuk menggaet. 
 
 
Untuk mendorong ceruk pasar ini, butuh kreativitas dari segi hilir. Menambahi Olin, Deden pun punya usul. Salah satunya, bandar atau broker ikan yang mengambil ikan dari pembudidaya bisa kerjasama sama dengan katering dan pengolah (seperti Labas). Ia menilai, hal ini akan lebih bagus untuk memancing pasar. 
 
 
“Coba mengkreasikan pembudidaya masukin ke broker/bandar, bandar masukin ke pengolah. Pengolah nanti kerjasama dengan katering yang nyuplai makanan ke industri padat Sumber Daya Manusia (SDM). Sehingga, pasarnya lebih kontinu karena udah jelas untuk orang atau end user - nya nanti udah ketahuan jumlah berapa, sehingga kapasitasnya akan ketahuan berapa,” ulas Deden ketika dihubungi TROBOS Aqua melalui sambungan telepon. 
 
 
Selain itu, segmentasi pasar pun bisa lebih dikembangkan. Jika Olin menimbang pasar nila yang bisa menyasar berbagai kalangan, Deden menilai berbeda. Sebabnya, sebagai contoh dirinya pembudidaya di air deras tentulah membutuhkan modal lebih tinggi sehingga ikan yang diproduksi pun dihargai lebih mahal. “Komoditas air deras bisa tetap menengah ke atas tentu lebih bagus karena karena harganya lebih bagus dan margin keuntungan lebih tinggi,” tukasnya. 
 
 
Perluas Pasar Domestik
Karena Deden berucap, jika hanya bergantung pada pasar segar lokal, akan sangat sulit. Dia beralasan, jika nila hanya masuk ke pasar tradisional hingga supermarket, permintaan tetap bisa drop kalau tidak ada operasi. Menambahi demand yang rendah, ia melihat pasar lokal saat ini juga masih seragam. 
 
 
“Artinya, saya juga cari pasar ke beberapa titik, posisinya sama. Misal Jakarta, Bandung, Pandeglang, posisinya sama dengan kondisi permintaan yang sedang turun. Akhirnya, komoditas itu pun bergeser ke ayam, karena konsumen melihat harga ayam lebih murah, pada larinya ke ayam. Masyarakat kita, dikasih pilihan ikan atau ayam pasti lebih milih ayam karena lebih mudah dikonsumsi dan gampang diolah dengan berbagai varian,” terang laki–laki yang akrab dipanggil Deden ini.
 
 
Belum lagi, jika hanya bergantung pada konsistensi suplai tanpa mengkreasikan ‘pancingan’ pasar. Deden menaksir, hal ini tidaklah cukup. Karena, nila terbilang konsisten dan tidak ada masalah dari segi budidayanya. Sehingga, dari segi suplai pun saat ini tidak ada masalah.
 
 
“Pasar domestik masih prospektif karena tetap ada konsumen. Namun saat ini supply (suplai) dan demand (permintaan) tidak seimbang. Sekarang supply ketinggian, demand-nya lemah,” ujar pembudidaya kolam air deras ini.
 
 
Apalagi jika ia membandingkan dengan pola pasar tahun lalu, di periode yang sama ia mengalami tahun ini adanya penurunan demand sehingga harga ikan pun turun. Tahun sebelumnya, ujar Deden, pergerakan harga lebih stabil. Sedangkan dalam masa sekarang, harga ikan ia akui bisa sangat rendah karena menurunnya permintaan. 
 
 
“Dibandingkan tahun lalu, persentase penjualan ikan bisa turun hingga 15 %. Imbasnya, sekarang ukuran pun tidak menjadi faktor pembatas lagi. Sekarang ini misalnya ikan sudah bisa jadi uang, ya udah diuangkan saja, gak usah tunggu ukuran ideal begitu. Ikan udah mulai dijual dari ukuran sekilo 5 (5 ekor dalam 1 kilogram). Kalau pasarnya sudah mulai minta, kita kasih,” beber Deden. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-99/15 Agustus – 14 September 2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain