Senin, 15 Juni 2020

Tetap Melayani di Tengah Pandemi

Tetap Melayani di Tengah Pandemi

Foto: 
Bulan Bakti KIPM

Selama ini BKIPM Tanjung Pinang sudah menerapkan pelayanan online, jadi pada saat pandemi pengguna jasa sudah terbiasa tidak bertatap muka langsung
 
 
Pandemi COVID-19 yang melanda dunia saat ini, tidak menyurutkan langkah Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau dalam melayani masyarakat. Pelayanan sertifikasi dilakukan seperti biasa, namun dengan standar protokol COVID-19 yang sangat ketat. Seperti pemeriksaan suhu, penggunaan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak fisik antara petugas pelayanan dan pengguna jasa. 
 
 
Dikatakan Kepala BKIPM Tanjung Pinang, Felix Lumban Tobing, sebenarnya selama ini Balai-nya sudah menerapkan pelayanan online. Permohonan sertifikat sudah menggunakan aplikasi PPK Online. Begitu juga dengan pembayaran PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) telah menerapkan pembayaran non tunai. Jadi pada saat pandemi ini muncul, pengguna jasa sudah terbiasa tidak bertatap muka langsung saat mengurus Sertifikat Kesehatan Ikan. 
 
 
Untuk proses lalu lintas komoditas perikanan di wilayah kerja BKIPM Tanjung Pinang, Felix melihat masih berjalan cukup normal. Terutama ekspor komoditas ikan segar ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Di¬katakannya, bahkan pada saat nilai mata uang dollar Amerika Serikat mengalami penguatan terhadap rupiah, banyak diantara pengusaha perikanan di wilayahnya justru mendapatkan keuntungan lebih. Namun proses ekspor sempat terhambat beberapa saat karena Malaysia menerapkan penguncian wilayah (lockdown). 
 
 
Kabar baik lainnya yang disampaikan Felix adalah awal Juni ini dilakukan ekspor perdana komoditas perikanan dari wilayah kerjanya ke negara China. Tentunya hal ini kabar menggembirakan di tengah pandemi yang mengguncang ekonomi nasional. 
 
 
Lalu Lintas Komoditas 
BKIPM Tanjung Pinang memiliki sebelas wilayah kerja. Diantaranya Pelabuhan Laut Tanjung Balai Karimun, Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah, Pelabuhan Laut Kijang, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kabupaten Natuna, Pelabuhan Laut Moro, Pelabuhan Laut Bandar Bentan Telani Lagoi, Pelabuhan Laut Tanjung Uban, Pelabuhan Laut Lingga, dan Pelabuhan Sri Bintan Pura. 
 
 
Diungkapkan Felix, wilayah kerjanya dikenal kaya dengan sumber daya perikanan yang melimpah terutama ikan-ikan karang. Tidak heran negara-negara seperti Thailand, Vietnam, Malaysia kerap melakukan pencurian ikan.
 
 
Kegiatan operasional perkarantinaan ikan dan mutu hasil perikanan yang telah dilaksanakan meliputi kegiatan ekspor, impor, pemasukan domestik, dan pengeluaran domestik. Komoditas unggulan yang dilalulintaskan di wilayah ini adalah ikan karang seperti kerapu, kakap, napoleon, ikan demersal, chepalopod, dan lainnya. Negara tujuan ekspor utamanya adalah Malaysia, Singapura, Jepang, Hongkong, dan Amerika. 
 
 
Felix mengungkapkan data ekspor komoditas perikanan pada tahun 2018 sebanyak 9.353 ton senilai Rp 293,7 miliar. Tahun 2019 tercatat terjadi peningkatan volume ekspor menjadi 11.000 ton, namun nilainya turun menjadi Rp 289 miliar. “Kami berharap tahun 2020 ini terjadi peningkatan nilai ekspor. Kita harus selalu optimis walaupun sedang menghadapi tantangan yang sulit,” ujar Felix. 
 
 
Saat ini, terdapat 31 Unit Pengolah Ikan (UPI) di wilayah kerja BKIPM Tanjung Pinang yang sudah mengantongi sertifikat HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) dengan berbagai grade. Menurutnya tingkat kepedulian UPI terhadap pentingnya sertifikasi keamanan dan kesehatan komodi¬tas yang akan di lalulintaskan sangat tinggi. 
 
 
Tahun-tahun sebelumnya hanya 7 UPI yang mengantongi sertifikat HACCP. Sekarang meningkat menjadi 31 UPI. Hal ini tentu tidak lepas dari kerja keras tim BKIPM yang aktif melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang pentingnya sertifikasi ini. “Sertifikasi adalah modal penting untuk meningkatkan daya saing perusahaan di pasar dunia,” tegas Felix. 
 
 
Sejauh ini, produk-produk yang dilalulintaskan di wilayah ini sebagian besar dalam bentuk segar. Ia berharap pengusaha melakukan inovasi dengan membuat produk olahan, karena nilai ekonominya akan lebih tinggi. Sisa produk olahan juga masih bisa dimanfaatkan misalnya untuk pupuk alami. Selain itu tentunya membuka lapangan kerja bagi masyarakat. 
 
 
Terkait dengan pelayanan, BKIPM sudah menerapkan standar internasional. Balai ini sudah dilengkapi sertifikat seperti ISO/IEC 9001:2015 sebagai lembaga pelayanan publik, ISO/IEC 17025:2017 sebagai laboratorium penguji, serta sertifikat ISO/ IEC 17020:2012 untuk lembaga inspeksi. Balai ini juga menyediakan sarana informasi dan komunikasi dengan pengguna jasa melalui media sosial seperti Twitter, Facebook dan Instagram. 
 
 
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, BKIPM Tanjung Pinang juga berkoordinasi dengan berbagai instansi, seperti Bea dan Cukai, TNI Angkatan Laut, Kepolisian, Otoritas Bandara dan Pelabuhan, serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kementerian Kehutanan. Koordinasi yang kuat antar instansi ini diperlukan untuk mencegah terjadinya lalu lintas komoditas yang ilegal. 
 
 
Berbagi di Tengah Pandemi 
Bulan Bakti Karantina dan Mutu merupakan kegiatan rutin BKIPM seluruh Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan ikan, mutu, dan keamanan hasil perikanan, serta keamanan hayati ikan. Biasanya diisi dengan berbagai kegiatan sosial, sosialisasi, pelepasliaran benih ikan, dan sebagainya. 
 
 
Akibat pergerakan yang terbatas, kegiatan bulan bakti tahun ini agak berbeda. BKIPM Tanjung Pinang mengisinya dengan membagikan paket nasi dan lauk ikan kepada masyarakat sekitar. Kegiatan ini bertepatan dengan bulan puasa, tentunya sangat membantu masyarakat yang terdampak corona. 
 
 
Diceritakan Felix, pada 19 Mei lalu juga diadakan pembagian 1400 paket ikan sehat dan bermutu untuk masyarakat Tanjung Pinang dan Bintan. BKIPM bekerjasama dengan event organizer untuk menyelenggarakannya. 
 
 
Paket ikan dibagikan kepada masyarakat yang terdampak serta petugas medis di rumah sakit rujukan yang setiap harinya bekerja keras menangani virus COVID-19. Kegiatan ini disambut baik masyarakat dan mendapat apresiasi yang tinggi dari pemerintah setempat. 
 
 
“Kami diberi bantuan oleh BKIPM pusat untuk membeli ikan yang sehat dan bermutu untuk dibagikan kepada masyarakat yang terdampak corona. Total 1.400 paket atau 4,8 ton ikan. Setiap paket berisi 3 kg ikan tongkol dan layang. Ikan yang dibagikan harus berasal dari tangkapan masyarakat. Tidak boleh impor,” papar Felix. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain