Senin, 15 Juni 2020

Achmad Poernomo: Perikanan di Era New Normal

Achmad Poernomo: Perikanan di Era New Normal

Foto: 
Achmad Poernomo

Dalam beberapa bulan terakhir ini kosa kata bahasa Indonesia telah bertambah satu lagi yaitu new normal yang banyak diterjemahkan dengan Kenormalan Baru. Tidak hanya di Indonesia, new normal telah menjadi jargon baru di tingkat global, dibicarakan di tingkat pemerintahan, dunia ilmiah dan tentu saja masyarakat awam.  Dua kata ini timbul mengikuti meruyaknya pandemi global Covid19 yang telah mempengaruhi pola dan gaya hidup manusia nyaris di seluruh dunia. 
 
 
Istilah New Normal
Apa sesungguhnya new normal yang banyak disebut oleh banyak pejabat dan dikutip oleh belasan media nasional dan internasional, bahkan menjadi perbicangan masyarakat banyak itu? Sejatinya, istilah ini sudah digunakan untuk menggambarkan perubahan sikap atau perilaku rakyat Amerika, termasuk skuad pemadam kebakaran New York setelah peristiwa September 2011 (Taylor, 2002; Porter, 2003). 
 
 
Namun kini istilah tersebut kini lebih banyak dikaitkan dengan Roger McNamee sebagaimana judul bukuya The New normal: Great Opportunities in a Time of Great Risk yang terbit pada tahun 2004. Ia adalah  seorang tech investor, yang menyatakan bahwa kita harus beradaptasi dengan tata permainan baru dalam jangka panjang. Dan memang itulah yang saat ini terjadi; karena pandemi Covid19 kita harus hidup dengan pola yang baru di hampir seluruh sektor. Kita, dan perikanan,  telah berada pada era new normal.
 
 
Artikel ini memang membahas pemikiran bagaimana perikanan menjalani new normal karena Covid19. Meskipun demikian, elok untuk disimak bahwa new normal untuk perikanan (tangkap) sebenarnya bukan hal baru. Pada 2016, Valerie Hickey dalam blog-nya (blog.worldbank.org) menulis bahwa perikanan sedang menuju kebangkrutan. 
 
 
Mengutip publikasi the World Bank (The Sunken Billions), ia menyebut terjadinya kehilangan nilai ekonomi perikanan laut global sebesar USD 50 miliar per tahun akibat pengelolaan yang tidak benar. Angka tersebut pada tahun 2017 diestimasi ulang oleh the World Bank menjadi sekitar USD 83 milyar (The Sunken Billions Revisited: Progress and Challenges in Global Marine Fisheries). 
 
 
Untuk mengatasi hal tersebut, Hickey menyatakan perikanan laut harus berbenah dengan praktik sustainable fishing sebagai new normal. Menurut Hickey, hal ini dapat dicapai dengan tata kelola yang baik dengan memanfaatkan sains, teknologi dan data yang juga lebih baik. 
 
 
Terdengar lazim, namun sebenarnya hal ini menuntut cara pandang yang berbeda dan upaya bersama yang luar biasa, baik oleh saintis, industri teknologi, pemerintah dan pelaku usaha perikanan. Indonesia sudah seharusnya mulai menerapkan hal ini lebih baik lagi bila ingin tetap menjadi negara perikanan terbesar nomor dua di dunia setelah China.
 
 
Perikanan Tangkap
Kembali kepada new normal karena Covid19, kita dituntut untuk beradaptasi dengan virus corona di sekitar kita yang kita tidak pernah tahu di mana keberadaannya. Kita hanya bisa menduga-duga dan dengan segala data dan informasi tentangnya kita dipaksa melakukan perubahan gaya hidup untuk menghindari infeksi. Maka kita harus menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari di segala bidang, baik dalam ranah pribadi di rumah, di jalan, di tempat kerja, di tempat terjadinya interaksi ekonomi dan sosial bahkan di rumah-rumah ibadah. Interaksi antar manusia menjadi sangat dibatasi dengan masker, cuci tangan dan jaga jarak (social distancing).
 
 
Dunia pangan termasuk perikanan sebenarnya tidak harus terlalu khawatir tentang virus corona ini. Pada awal April yang lalu, FAO dan WHO telah menyatakan bahwa sejauh ini kecil kemungkinan manusia dapat tertular Covid19 melalui makanan. Hal ini karena Covid19 adalah penyakit respiratori dan rute utama transmisi adalah melalui orang per orang atau melalui percikan ludah atau bersin dari orang yang telah terinfeksi, dan tidak ada bukti bahwa virus Corona dapat berkembang biak di makanan. Mereka membutuhkan hewan atau manusia sebagai inang untuk bermultiplikasi.
 
 
Dengan demikian, sampai ada bukti baru, maka satu-satunya jalan untuk mencegah merebaknya virus ini melalui perikanan adalah penguatan praktik sanitasi dan higieniapara pekerja sepanjang rantai produksi, dari hulu sampai hilir dalam menangani ikan dan produknya. Hal ini mutlak diikuti dengan pemenuhan protokol kesehatan yang telah ditentukan. 
 
 
Sejatinya, praktik sanitasi dan higiena merupakan suatu keharusan di industri perikanan. Sejak ikan ditangkap atau dipanen, ikan harus mendapatkan perlakukan istimewa untuk memastikan keamanan pangannya.
 
 
Masalahnya, sebagaimana komoditas pangan lainnya, perikanan melibatkan puluhan ribu pekerja baik di hulu maupun hilir.  Ini merupakan tantangan berat bagi pelaku usaha dan industri di dalam mendisiplinkan para pekerjanya, apatah lagi dengan ditambah dengan protokol kesehatan untuk mencegah merebaknya Covid19 di antara para pekerja. 
 
 
Di sub sektor perikanan tangkap (laut) penerapan protokol kesehatan menjadi tantangan tersendiri mengingat sifat kegiatannya di tengah laut. Para Anak Buah Kapal (ABK) akan bersama-sama berada di kapal penangkap selama jangka waktu yang relatif lama. Ruang kerja dan ruang tidur yang terbatas menyebabkan potensi kontak fisik sangat tinggi. 
 
 
Di Amerika yang penerapan regulasinya lebih tertib-pun sempat kecolongan. Belum lama ini, 92 dari 126 ABK kapal American Dinasty milik perusahaan American Seafoods dilaporkan sakit menjelang mendarat di pelabuhan Washington dan dinyatakan positif Covid19 setelah dites di darat. Kasus ini juga terjadi di 2 kapal penangkap ikan lainnya di perusahaan yang sama. Beberapa kasus juga telah dilaporkan di perusahaan sejenis. Protokol kesehatan yang telah dijalankan ternyata dipandang tidak mencukupi. Alih-alih 14 hari karantina, ABK yang menunjukkan hasil positif uji cepat hanya dikarantina selama 5 hari.
 
 
Di Indonesia memang belum ada laporan mengenai ABK yang tertular Covid19 sebelum atau sesudah berlayar. Bisa jadi memang tidak ada, atau bisa jadi tidak pernah dilakukan pengujian. Meskipun demikian, sudah selayaknya Otoritas Pelabuhan Perikanan membuat prosedur yang mewajibkan ABK menjalani tes cepat Covid19 sebelum berlayar. 
 
 
ABK yang reaktif tidak diperkenankan berangkat dan harus menjalani karantina mandiri atau tes lanjutan.  Ini tentu bukan perkara yang mudah dan membutuhkan kedisiplinan pelaku usaha sebagai pemilik kapal maupun ketegasan petugas di lapangan. Belum lagi bila kita memasukkan perahu nelayan berskala kecil yang banyak terlewat dari pemantauan petugas.
 
 
Perilaku masyarakat di sekitar Pelabuhan Perikanan-pun menunjukkan keprihatinan. Awal bulan ini sebuah berita di satu stasiun televisi (berita sore TransTV) menayangkan kerumunan penjual dan pembeli ikan di salah satu Pelabuhan Perikanan yang ada di Situbondo, Jawa Timur, propinsi yang sampai artikel ini ditulis masih menunjukkan laju kenaikan tertinggi penderita Covid19. 
 
 
Ditayangan terlihat jelas mereka tidak mengenakan masker sama sekali, berkerumun bahkan saling berdesakan membeli ikan dan tidak tampak petugas pelabuhan menertibkan. Hal ini tentu tidak akan terjadi manakala ada prosedur protokol kesehatan yang ditegakkan bagi siapapun yang memasuki kawasan pelabuhan.
 
 
Perikanan Budidaya & UPI
Untuk perikanan budidaya, baik di tambak maupun di kolam, setidaknya protokol masih lebih mudah ditegakkan. Unit budidaya biasanya tertutup atau terbatas bagi orang luar, walaupun kalau panen terkadang ada saja masyarakat yang masuk dan berebut sisa-sisa panen. 
 
 
Unit Pengolahan Ikan merupakan tempat kerumunan pekerja yang cukup besar. Tidak sedikit UPI yang mempunyai pekerja dalam jumlah ratusan orang per shift. Dari aspek sanitasi dan higiena, UPI merupakan yang terbaik, apalagi UPI yang usdah mendapatkan SKP dan/atau HACCP. Prosedurnya tersusun baik dan penegakannya juga bagus.
 
 
Meskipun demikian, UPI bisa menjadi satu klaster sumber penularan manakala protokol kesehatan tidak ditegakkan melengkapi prosedur sanitasi dan higiena yang telah ada. Terlebih lagi, pihak perusahaan tidak bisa memonitor keseharian para pekerja manakala sudah kembali ke rumah masing-masing. 
 
 
Protokol kesehatan yang perlu mendapat perhatian adalah pengukuran suhu setiap masuk dan pulang kerja, uji cepat deteksi Covid19 secara berkala serta pengurangan jumlah pekerja setiap shift-nya untuk mengurangi kepadatan di dalam pabrik. Tentu hal yang terakhir ini berat bagi pengusaha karena pasti akan mengurangi produksi. 
 
 
Meskipun demikian, ini tentu lebih baik daripada perusahaan harus diliburkan untuk 2 - 4 pekan gegara ada sejumlah pekerja yang positif Covid19, sebagaimana pernah dialami perusahaan rokok terkenal di Jawa Timur. Ditutupnya perusahaan pengolahan ikan karena ada pekerja yang tertular Covid19 tentu tidak dikehendaki dan bisa menjadi iklan buruk di pasar luar negeri mengingat produk olahan ikan kita banyak diekspor.
 
 
Mata rantai terakhir dari pasokan ikan adalah retailer atau toko atau bahkan lapak ikan segar di pasar tradisional maupun pasar modern dan pasar ikan higienis yang banyak dibangun oleh KKP. Sanitasi dan higiene maupun penerapan protokol kesehatan di tempat-tempat ini tentu bervariasi dan sangat tergantung kepada pengelola.
 
 
Yang perlu mendapat perhatian lebih adalah pasar tradisional. Fakta dan berita di media menunjukkan bahwa kedisiplinan di tempat ini adalah yang paling rendah, termasuk di lapak ikannya. Maka pengelola atau pemerintah kota/kabupaten perlu melakukan upaya yang lebih keras.
 
 
Dari ke semuanya, tentu kita boleh berharap bahwa era new normal ini dapat mengembalikan perikanan ke posisi semula sebelum terjadinya pandemi Covid19. Kunci utama untuk kembali ke posisi tersebut adalah kedisiplinan para pelaku usaha dan masyarakat dalam menegakkan protokol kesehatan yang ditetapkan. 
 
 
Peran utama pemerintah adalah memastikan semua itu bisa terlaksana. Edukasi harus tetap diberikan kepada semua pihak untuk meyakinkan bahwa semuanya itu semata untuk kesehatan masyarakat dan tentu saja kesehatan usaha atau industri perikanan. Kita tidak pernah tahu apakah new normal ini akan kembali ke old normal, ataukah ia akan menjadi normal yang justru abnormal dan harus kita jalani terus menerus pada masa mendatang.
 
 
 
*Pakar & Dosen Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain