Senin, 15 Juni 2020

Udang Jerbung, Apa Bisa Untung?

Udang Jerbung, Apa Bisa Untung?

Foto: asep


Ketahanan dan keseragaman udang jerbung diklaim sudah lumayan baik, tapi masih terganjal di pertumbuhan yang lambat
 
 
 
Di tengah ketidakpastian pasar udang global akibat pandemi Covid-19, kabar baik rupanya datang dari pasar udang di Amerika Serikat (AS). Meski data terbaru impor udang AS, yang dimuat di laman milik NOAA Fisheries baru tercatat hingga bulan April, tetapi angkanya cukup menggembirakan bagi Indonesia. 
 
 
Empat bulan pertama di tahun ini, tepat di saat virus Covid-19 mengguncang perkonomian dunia, ekspor udang ke AS justru alami tren kenaikan dibanding tahun lalu. Hingga April 2020, ekspor udang Indonesia ke AS sudah mencapai 50.160 metrik ton (MT). Lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 38.998 MT, atau alami kenaikan sebesar 28,6 persen (year on year).
 
 
Tren kenaikan ekspor udang ke AS bisa menjadi angin segar yang meniupkan harapan positif bagi para petambak nasional. Harapan ini juga bisa menjaga asa pemerintah yang telah menarget kenaikan udang 250 persen hingga lima tahun ke depan. Sebagai  gambaran, pada tahun 2019, GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) memperkirakan produksi udang nasional hasil budidaya, yang didominasi udang vannamei, mencapai kurang lebih 320 ribu ton. Angka ini didapatkan dari 351 ribu ton pakan yang terjual. 
 
 
Salah satu upaya pemerintah dalam ambisi peningkatan produksi udang nasional adalah dengan pengembangan udang lokal, seperti udang jerbung (Penaeus merguiensis). Sebabnya, selama ini produksi udang nasional didominasi oleh udang “impor” vannamei. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto mengungkapkan bahwa selama tahun 2013 – 2018, udang vannamei berkontribusi sebanyak 65 – 70 persen produksi udang nasional. 
 
 
Upaya pengembangan udang lokal, kata Slamet, sudah dimulai oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara.  “Di BPBAP Jepara telah berhasil menginisisasi program pemuliaan buatan (seleksi breeding) untuk penyediaan stok benih udang merguiensis bermutu bagi masyarakat pembudidaya di Indonesia,” katanya melalui keterangan tertulis kepada TROBOS Aqua. 
 
 
Pasar Terbuka
Dalam catatan Species Fact Sheets Penaeus merguiensis (De Man, 1888) yang dikeluarkan FAO, udang jerbung memiliki nama global sebagai banana prawn atau banana shrimp. Udang ini secara alami tersebar di berbagai wilayah di dunia, terutama Indo-West Pacific seperti Teluk Persia hingga Thailand, Hong Kong, Filipina, Indonesia, Papua Nugini, hingga Australia. Udang tersebut hidup di perairan laut dan payau antara kedalaman 10 – 45 meter.
 
 
Udang jerbung atau yang dikenal juga dengan udang putih, sudah lama menjadi salah satu jenis seafood yang diperdagangkan di dunia. Namun selama ini udang tersebut lebih banyak dihasilkan dari kegiatan penangkapan. Dalam catatan FAO tadi, tren produksi penangkapan banana shrimp terus meningkat sejak tahun 1950-an. 
 
 
FAO juga mencatat adanya angka hasil budidaya udang putih sejak tahun 1970-an. Namun tidak disebutkan negara mana saja yang telah melakukannya. Produksinya sempat tinggi pada kurun waktu 2000 – 2010 dan mencapai sekitar 100 ribu ton. Tapi kemudian drop setelah tahun 2010.    
 
 
Potensi jerbung sebagai bahan baku seafood yang bernilai ekonomi dibenarkan oleh Slamet. Menurutnya, warga Jepang dan negara-negara di Asia Timur memiliki minat yang tinggi untuk mengkonsumsi udang ini. Selain karena rasanya yang lezat, Slamet menyebut alasan lain konsumen Jepang menyukai udang merguiensis ini karena warnanya yang cenderung lebih merah saat dimasak. “Kita tahu bahwa konsumsi warga Jepang dan negara Asia Timur lainnya terhadap komoditas udang sangat tinggi. Sehingga pasarnya sangat terbuka,” ungkapnya. 
 
 
Di Indonesia sendiri, merguiensis memiliki banyak nama seperti udang putih, udang jerbung, menjangan, udang perempuan, udang popet, udang kelong, udang peci, udang pate, dan masih banyak lagi nama daerah yang berbeda. Keragaman nama lokal merguiensis ini menunjukkan bahwa udang tersebut tersebar di berbagai daerah di Indonesia. 
 
 
Slamet mengatakan, penyebaran udang yang merata di seluruh perairan Indonesia ini diklaim bisa memudahkan pengembangannya. Dan secara teknis, pengembangan udang lokal dipercaya bisa mengurangi risiko penyakit karena sudah terbiasa dengan perairan Indonesia. “Tidak tergantung dari impor dan bahkan aman dari penyakit introduksi,” sebutnya. 
 
 
Menurut Slamet, untuk memenuhi permintaan benih vannamei sepanjang tahun 2016 hingga April 2020, Indonesia telah mengimpor induk vanname sebanyak 7.683.313 ekor. Dengan rata-rata impor setiap tahunnya mencapai 200 ribu induk. 
 
 
SPF Empat Jenis Virus
Peneliti udang jerbung dari BBPBAP Jepara, Abidin Nur bercerita bahwa mulanya ide pengembangan induk udang lokal berasal dari Kepala BBPBAP Jepara, Sugeng Raharjo. Di tahun 2016, kata Abidin, kepala balainya berpikir untuk menginisiasi pengembangan induk udang lokal. 
 
 
Beberapa pertimbangannya antara lain karena banyaknya petambak udang tradisional di Indonesia. Sehingga penting untuk menyediakan alternatif spesies budidaya agar tidak tergantung pada jenis vannamei dan windu.  “Apalagi windu, banyak yang trauma dengan penyakit masa lalu. Sehingga tidak semua orang mau mengerjakan windu,” sambung Abidin. Sementara jika petambak tradisional menggunakan spesies udang vannamei, keuntungannya tidak terlalu banyak karena produktivitasnya terbatas dan harganya di bawah udang windu. 
 
 
Pada tahun 2017, Abidin bersama tim di balai Jepara kemudian dipercaya untuk memulai pengembangan induk jerbung. Pemilihan jenis udang jerbung, sesuai yang dikatakan Slamet, karena ketersediaannya yang banyak di perairan Indonesia. Abidin menuturkan, dalam satu tahun pertamanya ia hanya fokus pada teknik pembenihan jerbung. “Karena begitu udang mau dikembangkan, bagaimana dengan benihnya? Sebagai institusi pemerintah, kami belajar lebih awal untuk teknik pembenihannya.” kata Abidin. 
 
 
Tak perlu waktu lama, dalam setahun Abidin sudah bisa menguasai teknik pembenihan jerbung. Ia dan tim bahkan sudah membuat Juknis (Petunjuk Teknis) pembenihan udang merguiensis di tahun 2018. Juknis ini dibuat untuk memudahkan nantinya jika induk sudah mulai dilepas ke masyarakat. “Siapa pun yang memproduksi nanti, hasilnya akan sama atau bisa lebih bagus,” tambah Abidin.
 
 
Tapi pekerjaan jauh dari selesai. Pengembangan komoditas baru, apalagi udang, perlu dilakukan dengan hati-hati agar tragedi windu tidak terulang lagi. Abidin tidak ingin saat jerbung bisa didomestikasi sebagai komoditas budidaya, pembudidaya malah justru menggunakan induk liar dari alam. Karenanya, secara bersamaan institusinya juga perlu menjamin ketersedian induk yang berkualitas dan terkontrol. 
 
 
“Pertama menjamin kualitas induk, terutama SPF (Specifc Pathogen Free), ya. Kedua kalau ini berkembang, kita tidak lagi mengandalkan induk dari alam. Karena induk sudah tersedia,” jelas Abidin. Untuk itu, ia melakukan screening (penyaringan) yang ketat terhadap pemilihan induk agar induk yang dihasilkan berkualitas. Dengan cara seperti itu, ia mengklaim benih yang dihasilkan dari induk tersebut sudah SPF dari empat jenis virus. Antara lain WSSV (White Spot Syndrome Virus), IHHNV (Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus), TSV (Taura Syndrome Virus), dan IMNV (Infectious Myonecrosis Virus). 
 
 
Saat ini, pengembangan induk jerbung sudah masuk generasi ketiga. Ia berharap, sekitar di generasi ketujuh, induk jerbung sudah bisa menghasilkan benur yang optimal untuk diaplikasikan oleh masyarakat. Berkaca pada pengembangan udang vannamei yang butuh puluhan generasi untuk sampai pada kualitas seperti saat ini, pengembangan jerbung juga diakui Abidin tidak bisa langsung sekejap jadi.  
 
 
“Masyarakat kan begitu ini dikenalkan pengennya langsung seperti vannamei. Mudah-mudahan masyarakat bersabar. Namanya pemuliaan itu kan pekerjaan kesabaran. Mudah-mudahan dalam beberapa generasi ke depan sudah bisa rilis,” jelas Abidin penuh harap. 
 
 
Ia juga cukup senang mendapati udang jerbung memiliki siklus reproduksi yang lebih cepat dibanding windu. Jika windu memerlukan waktu 14 – 16 bulan untuk dewasa dan bisa dipijahkan, udang jerbung ternyata hanya membutuhkan waktu 8 bulan saja untuk menjadi induk. Hal ini tentunya bisa menjadi percepatan pengembangan jerbung dari generasi ke generasi. 
 
 
Pengembangan udang lokal merguiensis agar bisa dibudidayakan dengan optimal ternyata tidak hanya dilakukan oleh Indonesia saja. Negara-negara lain yang perairannya memiliki udang merguiensis ada juga yang sudah mengembangkan. Menurut Abidin, beberapa negara yang sudah mengembangkan merguiensis antara lain Australia, Vietnam, Bangladesh, dan India. 
 
 
Salah satu tujuannya antara lain sama seperti Indonesia agar tidak banyak tergantung pada induk impor. India misalnya, mereka mengembangkan udang merguiensis karena merasa biaya impor induk vannamei cukup besar. 
 
 
Sasar Petambak Tradisional
Sejak awal pengembangannya, merguiensis sudah ditujukan untuk menjadi alternatif komoditas bagi petambak tradisional yang selama ini banyak menggunakan windu. Windu menjadi pilihan banyak petambak tradisional karena meski produktivitasnya rendah, tetapi bisa diimbangi oleh harga jual yang cukup tinggi. Selain itu, proses budidayanya pun cukup dengan hanya mengandalkan pakan alami saja tanpa memerlukan pakan tambahan pelet. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-97/15 Juni – 14 Juli 2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain