Jumat, 15 Mei 2020

Menggeser Nilai Produk Akuakultur

Pembudidaya harus mau meningkatkan nilai tambah hasil budidaya dengan mengembangkan pasar olahan 
 
 
Imbas pandemi corona, tidaklah harus dipandang dari sisi negatif. Dan pembudidaya pun sangat setuju akan hal ini. Imza Hermawan dari Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), menilai efek positif yang semula tidak diduga bisa menjadi peluang. 
 
 
Ia memisalkan pembudidaya selama ini mengandalkan bakul yang datang membeli ikan pun terpaksa memutar otak. Dikarenakan efek pandemi membuat bakulan menurunkan jumlah pembelian. “Ternyata dari sini pembudidaya pun mencari cara menjual, yakni berjual secara eceran walau tidak banyak. Tapi yang penting kita bisa jual hasil panen kita,” ujar Imza.
 
 
Di sisi lain, ia melihat keakraban pembudidaya pun lebih melekat dibanding sebelumnya. Adanya tenggang rasa untuk saling membantu rekam sesama pembudidaya yang kesulitan menjual hasil panennya. “Contohnya ada pembudidaya yang tidak bisa jualan karena bakulnya terpaksa berhenti. Kita–kita yang masih punya langganan pun memberi info penjualannya, atau kita kasih info mana bakulan yang masih aktif. Kita saling bantu,” tambahnya.
 
 
Untuk sesama pembudidaya pun, Imza berbagi saran di tengah–tengah situasi yang sebelumnya tidak pernah terjadi ini. Kondisi serba sulit ini pun, terang Imza membawa pengaruh ke seluruh lini yang terkait, seperti tenaga kerja budidaya. 
 
 
“Tapi bagi kita harus kita kasih bulanan–nya. Nggak mungkin tidak bayar sama sekali. Kita kasihan mau hidup darimana mereka. Kita tidak pernah punya pengalaman kondisi seperti ini. Jadi kita harus hati – hati. Sementara kita turunkan dulu volume produksi, lihat kondisi keuangan, pantau situasi satu hingga dua bulan mendatang, membaik atau nggak,” ucap Ketua Bidang Budidaya Patin APCI ini.
 
 
Dari harapan pun ia usulkan kepada pemerintah terkait kesusahan yang mendera pembudidaya. Dimana adanya bantuan langsung tunai yang bisa memanfaatkan ikan pembudidaya sehingga bisa terserap. Hal ini sudah dilakukan di beberapa lokasi yang merupakan kerjasama APCI dengan pemerintah daerah setempat. 
 
 
Menggeser Value Produk
Dalam hal lain, peralihan pemasaran produk perikanan dengan ‘wajah’ variatif pun semakin didengungkan. Seperti pemasaran online (daring), sebut Imza, yang tumbuh di kondisi sekarang. Walapun ia juga mengakui, dampak ‘dadakan’ pandemi masih membuat pasar daring berjuang beriringan waktu untuk benar–benar tumbuh dan menjadi pasar andalan produk budidaya. 
 
 
Dan konsep penjualan daring ini pun sudah harus menjadi andalan di masyarakat. Seperti dilakukan Yosep Purnama, pembudidaya nila dan udang galah asal Kabupaten Garut – Jabar yang memasarkan produknya memanfaatkan teknologi, yakni dengan daring media sosial dan grup Whatsapp. 
 
 
Ia menyatukan konsep daring untuk penjualan produksi budidaya nilanya. Tidak tanggung–tanggung, berkah terselubung perubahan konsep penjualan pun ia rasakan di masa sulit dalam pandemi covid-19.  “Saya menggeser value–nya. Dimana bentuk pemasaran produknya lebih ke olahan. Pendapatan saya meningkat hampir 300 % dibanding hanya menjual segar sebelum masa pandemi ini,” ucapnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-96/15 Mei – 14 Juni  2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain