Jumat, 15 Mei 2020

Kesempatan Dalam Kesempitan Pandemi

Kesempatan Dalam Kesempitan Pandemi

Foto: ning


Budidaya perikanan menjadi penyelamat perekonomian pada saat pandemi covid karena sektor ini masih bisa berproduksi. Diperlukan stabilisasi harga, dukungan kebijakan pemerintah, dan jaminan pasokan sarana produksi
 
 
Bisnis perikanan nasional termasuk akuakultur juga terdampak dengan merebaknya pandemo covid-19. Tak terkecuali komoditas primadona nasional, yakni udang yang terpengaruh cukup besar dari segi harga. Diakui Frans Antoni, Wakil Ketua Shrimp Club Lampung (SCL), harga udang drop sejak pandemi Covid. Padahal ia menyebut, seperti tahun-tahun sebelumnya seiring tingginya kurs dolar AS terhadap rupiah, harga udang naik karena udang merupakan komoditas ekspor. Tapi saat ini malah harga udang justru anjlok.
 
 
“Termasuk permintaan udang di dalam negeri sendiri juga merosot karena hotel dan restoran tutup. Yang masih berjalan hanya permintaan pasar swalayan, namun volumenya tidak banyak. Terjadi pergeseran pola permintaan dari sebelumnya food service ke food retail yakni supermarket,” ujar Frans kepada TROBOS Aqua baru-baru ini.   
 
 
Pendapat senada diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Budhi Wibowo terkait pasar retail. Budhi mengungkap, dari anggota AP5I, penjualan ke buyer (pembeli) yang pasarnya food service  menurun, tapi penjualan buyer yang pasarnya retail berjalan lancar. Maka, UPI (Unit Pengolahan Ikan)  yang  penjualannya ke buyer yang pasarnya food service menurunkan jumlah pembelian udangnya tetapi masih kerja.  Mereka terus berupaya untuk menjual ke buyer lainnya.
 
 
Belum lagi pengaruh kondisi saat ini pada komoditas air tawar. Imza Hermawan dari Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) berucap, tiada pembudidaya yang tidak merasakan dampak Covid-19. 
 
 
Tidak tanggung–tanggung, ia sebutkan pembudidaya lele rata–rata sudah menghentikan aktivitas budidaya karena anjloknya penjualan. “Dari bakulan itu anjlok hingga 70 %. Jadi bila biasanya kita panen 1 ton diambil semua oleh bakul, sekarang dari 1 ton hanya diambil sekitar 2 – 3 kuintal,” bebernya. Hal ini, tak lain karena penjualan sebagian besar menuju warung makan seperti pecel lele dan restoran praktis tidak beroperasi. 
 
 
Otomatis, tambah Imza, pembudidaya seperti dirinya ‘mengobral’ lele hasil panenan yang tak terserap pasar secara eceran. “Kita jual seharga yang ada bila ada yang ingin membeli. Bila ada yang beli di harga Rp 12 ribu per kilogram (kg) sekalipun kita iyakan,” ungkapnya. Padahal ia mengakui, harga terjelek yang membuat impas pembudidaya lele ada di kisaran Rp 16 ribu  - Rp 19 ribu per kg untuk daerah Bogor dan sekitarnya.
 
 
Tidak jauh beda dengan komoditas patin. Imza yang juga Ketua Bidang Budidaya Patin APCI ini mengungkap penjualan patin juga drop hingga 70 %. Dari informasi teman–teman di Jawa Timur, beberapa pabrik fillet (daging tanpa tulang) patin di sana banyak yang sudah menutup produksinya. Karena stok menumpuk di gudang dan yang laku hanya 30 % nya,” terang Imza. 
 
 
Turunnya permintaan pun diiyakan Roni, pengusaha Keramba Jaring Apung (KJA) ikan di Danau Ranau, Kabupaten Lampung Barat. Restoran, hotel dan rumah makan stop operasi dan permintaan dari konsumen rumah tangga pun juga berkurang seiring menurunnya daya beli masyarakat. Di danau yang berbatasan dengan Sumsel ini Roni mengelola 56 keramba yang membesarkan ikan mas dan nila. 
 
 
“Sejak Covid terjadi kesulitan pemasaran ikan. Biasanya keramba di Danau Ranau bisa mengirim 10 sampai 12 ton ikan per hari ke berbagai kota di Sumsel dan Lampung, kini turun menjadi 7 hingga 8 ton per hari. Lalu terjadi penurunan harga dari sebelumnya Rp 23 ribu per kg menjadi Rp 22 ribu –Rp 22.500 per kg,” kata pengusaha muda ikan ini.
 
 
Budidaya Terhambat
Frans menambahkan, dalam dua tahun terakhir ini harga udang sudah merosot tajam, ditambah pula hantaman pandemi covid-19. Bahkan pada Maret lalu terjadi paranoid panen di kalangan pembudidaya udang. Muncul kepanikan dan ketakutan cold storage bakal tutup karena ekspor macet serta suplai pakan berhenti. Saat itu berapa pun usia udang dan ukurannya serta harganya dipanen total. Akibatnya harga udang anjlok dan pembudidaya mengalami kerugian besar.
 
 
Setelah panen, lanjut Frans, pembudidaya mengosongkan tambaknya alias tidak langsung menebar benur karena khawatir pabrik pakan tutup sehingga pakan tidak tersedia. Umumnya mereka menunggu usai lebaran nanti baru merencanakan kembali menebar benur. Akibatnya saat ini pembudidaya terpaksa merumahkan tenaga kerjanya.
 
 
Frans sendiri mengaku, perusahannya masih tetap berusaha untuk tetap melanjutkan budidaya, namun hanya 50 % dari kapasitas farm yang dimiliki. “Kalau kami tetap berusaha melanjutkan budidaya meski tidak dalam kondisi kapasitas penuh,” lanjutnya.
 
 
Untuk teknis budidayanya sendiri, Frans mengakui, banyak terjadi kendala di lapangan sejak pandemi covid-19 menyebar ke daerah. Farm-nya di Bengkulu terhambat panen karena warga setempat melarang tenaga panen yang dibawa dari Lampung masuk ke Bengkulu. Padahal saat itu di Bengkulu baru satu orang yang positif covid dan di Lampung baru dua orang.
 
 
Meskipun tenaga yang akan melakukan panen udang tersebut sudah diperiksa Dinas Kesehatan setempat dan dinyatakan sehat serta diizinkan aparat keamanan, warga tetap menolak dengan alasan khawatir membawa virus corona. Akhirnya setelah dimediasi di kabupaten, seminggu kemudian baru diperoleh kesepakatan dan warga hanya mengizinkan 10 orang tenaga yang melakukan panen. Sebelum masuk ke farm, tenaga tersebut disemprot dulu oleh tim dari Puskesmas. Akibatnya panen menjadi molor dan produksi terganggu.
 
 
Jadi, sambung Frans, teknis budidaya tidak sekadar logistik atau jaminan kelancaran distribusi pakan seperti yang dijamin pemerintah. Karena terdapat elemen atau aktivitas lain yang harus dijalankan. Seperti soal panen yang terkendala. Belum lagi soal technical service dan tenaga laboratorium yang harus ke farm guna melakukan monitoring menjadi terhambat karena karantina wilayah. 
 
 
Diingatkannya, tidak mungkin membiarkan udang besar sendiri tanpa dijaga dan diawasi. Apalagi budidaya udang saat ini sedang banyak diserang berbagai penyakit. Jadi, sambungnya, budidaya udang saat ini memiliki risiko super tinggi, karena persoalannya tidak hanya penyakit tetapi juga harga dan berbagai persoalan lain yang muncul akibat pandemi Covid-19.
 
 
Hanung Hernadi, Ketua Umum Forum Komunikasi Praktisi Aquakultur (FKPA) mengibaratkan budidaya udang saat ini ‘sudah jatuh tertimpa tangga pula’. Pada saat serangan penyakit marak, muncul pula wabah covid yang memperparah kondisi budidaya. Saat ini banyak muncul penyakit vibriosis yang menyerang udang muda. Setelah udang sakit tersebut diperiksa di lab, ternyata kandungan vibrionya tinggi.
 
 
Pengosongan kolam juga menjadi  hal lumrah yang dilakukan pembudidaya ikan air tawar, khususnya lele. Imza menyebut, dengan anjloknya permintaan mau tidak mau banyak kolam yang masih terisi ikan. 
 
 
“Dan lele budidayanya cepat, dua sampai tiga bulan sudah panen. Kalau nanti situasi masih seperti sekarang, dan pembudidaya masih memaksakan tanam benih, akan terjadi penumpukan dalam dua bulan mendatang. Makanya banyak yang berhenti, termasuk saya. Tidak ada permintaan pasar, ya otomatis berhenti,” terangnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-96/15 Mei – 14 Juni 2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain