Kamis, 30 April 2020

Petambak Terdampak Pandemi, Waspadai Penyakit Baru Udang

Petambak Terdampak Pandemi, Waspadai Penyakit Baru Udang

Foto: dok.istimewa


Lampung (TROBOSLIVESTOCK.COM). Di tengah pandemi Covid-19, muncul jenis penyakit baru pada udang di Cina, disebut Decapod, dengan gejala kepala putih dan insang menguning, namun gejala itu tidak selalu spesifik.

 

Kepala Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Lampung Rusnanto menyebutkan, udang yang sekarat akan kehilangan kemampuan berenang, lalu tenggelam ke dasar kolam. Hepatopancreas memucat dengan bidang insang kuning disertai usus dan lambung kosong. Juga bisa otot memutih dan antena terpotong

 

Oleh karenanya ia minta pembudidaya agar melakukan tindakan biosekuriti yang lebih ketat dalam menjalankan budidaya. “Jika di Lampung sudah ada tanda-tandanya harap segera melaporkannya ke BKIPM,” ujar Rusnanto akhir pekan lalu, pada rapat Pengurus Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Korda Lampung.

  

Agus Setiawan, peserta rapat lainnya, selain decapod, pembudidaya agar mewaspadai virus yang mengalami mutasi sehingga memunculkan penyakit baru pada udang. Kini, menurut ia, virus VNN dapat menyerang udang vanamei dan udang galah, seperti CMNV.

 

Agus mengumpulkan informasi dari teknisi tambak di perairan Teluk Lampung bahwa tambak-tambak di kawasan tersebut telah terserang Vibrio. Penyakit ini banyak menyebabkan kematian udang di bawah usia 30 hari.

 

“Untuk mempelajarinya berbagai penyakit baru tersebut, telah ada kesepakatan dari 3 negara yaitu Jepang - Thailand - Indonesia untuk menelitinya secara bersama. Untuk Indonesia yakni UGM, Unmul, Unila yang mengajukan proposal penelitian untuk uji lab dan uji lapangan terhadap virus baru udang yang sedang berkembang ini,” jelasnya.

 

Bambang Nardiyanto yang juga Sekretaris Umum FKPA mengusulkan agar MAI segera melakukan mapping zonasi penyakit udang/ikan tersebut sehingga dapat melakukan blocking. “Dan selanjutnya merumuskan strategi pengendalian yang dapat dilakukan. “

 

Dampak Covid-19

Rapat virtual ini dipimpin oleh Ketua MAI Korda Lampung  Supono dan diikuti segenap pengurus dari kalangan akademisi, praktisi dan instansi terkait.

 

Persoalan lain yang juga dikupas peserta rapat adalah dampak Covid-19 terhadap sektor perikanan di Lampung. Dian R dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Tulangbawang melaporkan bahwa sejak pandemi virus corona, terjadi penurunan penampung ikan di daerahnya sehingga mengakibatkan pembudidaya kesulitan dalam pemasaran ikan. Sementara di sisi lain, harga pakan mengalami kenaikan.

 

Eri Bramantyo, praktisi tambak udang juga memaparkan, saat ini sekitar 50% tambak udang di Lampung kosong karena pembudidaya menunda penebaran dan menurunkan produksi akibat pandemic Covid-19.

 

Problem berlanjut, petambak kesulitan menjual udang. Dan bahkan pada awal pandemi covid harga udang mengalami penurunan. Hingga kini harga udang tidak stabil sehingga pembudidaya sulit menetapkan stategi, seperti kepadatan tebar dan waktu panen udang. Sebaliknya biaya produksi terus naik sehingga marjin keuntungan pembudidaya anjlok.

 

Terkait kesulitan pemasaran ikan yang dialami pembudidaya, Habibi dari DKP Lampung menyatakan, jika ada kesulitan pemasaran ikan, agar dapat memberikan informasi komoditas apa saja yang akan panen ke DKP Lampung.

 

Lisa Derni juga dari DKP menambahkan,  untuk pembudidaya udang yang akan panen diharapkan dapat melaporkannya paling tidak 2 minggu sebelum panen. “DKI berencana membeli stok ikan/udang dari Lampung,” tuturnya.

 

Debi Hardian juga dari DKP Lampung minta pengusaha perikanan agar mendata pekerja yang terdampak covid karena dikhawatirkan dapat terjadi PHK. Melihat tren data produksi ia memperkirakan dampak covid akan terasa hingga 3-6 bulan kedepan.

 

Kasus penutupan dan perusakan tambak udang di Kabupaten Pesisir Barat yang dilaporkan Ketua IPPBS Agusri Syarief juga dibahas peserta rapat. Ketua FKPA Hanung Hernadi berharap, agar MAI merapatkan barisan untuk menangani permasalahan budidaya perikanan di Lampung. Setiap permasalahan yang dihadapi pembudidaya di daerah, MAI harus turun tangan menyuarakannya ke berbagai instansi terkait. datuk

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain