Kamis, 30 April 2020

Shrimp Club Lampung Bantu APD Medis

Shrimp Club Lampung Bantu APD Medis

Foto: dok.datuk


Lampung (TROBOSAQUA.COM). Shrimp Club Lampung (SCL), wadah berhimpun para pembudidaya udang di Provinsi Lampung menyerahkan bantuan alat perlindungan diri (APD) medis Covid-19 kepada kabupaten Lampung Selatan dan Pesawaran.

 

Penyerahan bantuan dilakukan Wakil Ketua SCL Frans Antoni kepada perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dari kedua kabupaten di Kantor SCL di Teluk Betung, Bandarlampung, akhir pekan lalu.

 

Bantuan untuk Lampung Selatan berupa baju hazmat sebanyak 100 unit, masker 1.000 unit dan helm pelindung wajah sebanyak 100 unit. Sementara bantuan untuk Kabupaten Pesawaran diberikan dalam bentuk uang sebanyak Rp10 juta.

 

Wakil Ketua SCL Frans Antoni yang menyerahkan bantuan tersebut, walaupun bisnis mereka yakni budidaya udang juga terkena dampak pandemi virus corona, namun pengurus bersama anggota SCL tetap berusaha meringankan beban Pemda dan masyarakat di kedua kabupaten sentra udang tersebut.  

 

“Kami sengaja memberikan bantuan dalam bentuk APD karena tenaga medis di rumah-rumah sakit di daerah kekurangan alat tersebut untuk menangani pasien Covid-19,” ujarnya di Sekretariat SCL.     

 

Dijelaskan Frans, bantuan untuk Pesawaran diberikan dalam bentuk uang karena  

pihaknya kesulitan untuk pengadaan APD. “Untuk pengadaan dan pengiriman APD yang diberikan kepada Lampung Selatan saja membutuhkan waktu tiga minggu. Jadi untuk Pesawaran kami berikan berbentuk uang, mudah-mudahan jika Dinas atau rumah sakit yang memesan APD-nya bisa lebih cepat sehingga barangnya bisa segera dimanfaatkan tenaga medis di daerah tersebut,” harap Frans.

 

Frans menambahkan, budidaya udang mengalami kendala sejak pandemi Covid-19 karena terhalangnya panen. Tenaga panen udang yang dibawa pembeli udang ke tambak sering ditolak warga dengan alasan khawatir membawa virus corona, meski sudah berkordinasi dengan pihak dinas kesehatan dan keamanan setempat. akibatnya proses panen udang menjadi terhambat.

 

Akses masuk tenaga technical service dan petugas laboratorium ke tambak juga terkendala. Padahal tenaga mereka sangat dibutuhkan untuk mengontrol dan mengawasi udang yang dibesarkan di kolam.

 

Dampaknya banyak pembudidaya yang menunda tebar benur sehingga pekerja terpaksa dirumahkan sementara. ed/datuk

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain