Rabu, 15 April 2020

Standar Ketat SKIPM Luwuk Banggai dalam Melayani Masyarakat

Standar Ketat SKIPM Luwuk Banggai dalam Melayani Masyarakat

Foto: 
Penghargaan Piagam Pegawai Pelayanan Terbaik

Walaupun di tengah pandemi virus corona, SKIPM Luwuk Banggai tetap memberikan pelayanan dalam rangka mendukung lalulintas perikanan, khususnya untuk pasar ekspor
 
 
Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Luwuk Banggai merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) yang berpusat di Luwuk - Sulawesi Tengah (Sulteng). Wilayah kerjanya mencakup Kabupaten Banggai, Tojo Una-una, Banggai Laut, Banggai Kepulauan, Morowali, dan Morowali Utara. 
 
 
Wilayah kerja SKIPM ini diapit oleh dua teluk, yakni Teluk Tolo dan Teluk Tomini. Kepala SKIPM Luwuk Banggai, Darwis menyebutkan, sifat geografis ini memungkinkan potensi sumberdaya alam perikanan tangkapnya yang melimpah. 
 
 
“Sektor perikanan merupakan salah satu primadona di wilayah kerja SKIPM Luwuk Banggai. Hampir semua kabupaten dan kota memiliki potensi sumberdaya ikan hasil tangkapan alam yang luar biasa. Wilayah ini menjadi salah satu pemasok hasil perikanan di daerah Sulawesi,” ujar Darwis. 
 
 
Hasil perikanan ini pun banyak diekspor ke berbagai negara di Asia, Australia, Eropa, dan Amerika pun berhasil ditembus. Produk ekspor yang dominan dilalulintaskan adalah kerapu hidup, lobster, kepiting, nener, sidat, teripang, gurita beku, fillet (daging tanpa tulang) ikan beku, ikan hias laut, produk Chepalopoda semacam cumi dan sotong, ikan demersal, pelagis, dan sebagainya. Sedangkan negara tujuan ekspor yang paling dominan adalah Amerika Serikat, Australia, Hongkong, China, Vietnam, Panama, Malta, Perancis, Yunani, Slovenia, Malaysia, Thailand, Filipina, Jepang, dan Spanyol. 
 
 
Darwis menyebutkan, berdasarkan data pada 2018, total nilai ekspor komoditas hasil perikanan wilayah kerja SKIPM ini mencapai Rp 60.785.727.642. Sedangkan pada 2019 terjadi peningkatan nilai ekspor menjadi Rp 69.945.087.273. Ia pun berharap pada 2020 ini nilai ekspor akan lebih meningkat lagi. 
 
 
 
Untuk memberikan pelayanan prima dalam pengolahan dan pemasaran produk perikanan, terdapat lima Unit Pengolahan Ikan (UPI) di SKIPM Luwuk Banggai yang sudah mengantongi sertifikat HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points). Menurutnya, tingkat kepedulian UPI terhadap pentingnya sertifikasi keamanan dan kesehatan komoditas yang akan dilalulintaskan sangat tinggi. Walaupun demikian, SKIPM ini tetap gencar melakukan sosialisasi terkait pentingnya penerapan sertifikasi untuk meningkatkan daya saing produk di pasar dunia. 
 
 
Tingkatkan Pelayanan 
Dalam rangka meningkatkan pelayanan, SKIPM Luwuk Banggai senantiasa menyediakan sarana dan prasarana yang lebih lengkap. Memperbanyak pos pelayanan baik di pelabuhan maupun bandara. 
 
 
Sama seperti UPT KIPM lainnya di Indonesia, sarana permohonan sertifikat SKIPM Luwuk telah menerapkan permohonan pemeriksaan karantina secara online berupa aplikasi PPK Online. Sedangkan untuk pembayaran PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) juga telah diterapkan pembayaran non tunai berupa pembayaran melalui e-Billing dan penyediaan mesin EDC. 
 
 
“Pelayanan ini akan terus ditingkatkan. Rencananya ke depan akan dikembangkan ruangan pelayanan agar dapat memenuhi semua standar pelayanan publik yang ditetapkan. Selain itu akan disediakan sa-rana informasi dan dokumentasi di ruang pelayanan secara elektronik dan digital,” ungkap Darwis. 
 
 
Saat ini sarana informasi dan komu¬nikasi dengan pengguna jasa menggunakan beberapa media sosial seperti Twitter, Instagram, Facebook, dan grup Whatsapp. SKIPM ini sudah terakreditasi sesuai standar internasional, diantaranya sertifikat ISO/ IEC 17025:2017 sebagai laboratorium penguji, sertifikat ISO/IEC 17020:2012 sebagai lembaga inspeksi, dan sertifikat ISO/IEC 9001:2015 sebagai lembaga pelayanan publik. 
 
 
Darwis mengatakan, selama pandemi virus COVID-19 terjadi beberapa penyesuaian pelayanan. Penerbitan Health Certificate (HC) dan pelayanan laboratorium uji tetap berjalan dan menerapkan standar keamanan bagi petugas pelayanan berupa masker dan sarung tangan. Wadah penyerahan HC tanpa kontak langsung dengan pengguna jasa. Dilakukan pengecekan suhu badan secara reguler kepada petugas pelayanan dan pengguna jasa yang datang. Selain itu juga dilakukan pengaturan jarak fisik antar petugas dan pengguna jasa. Penerapan sanitasi berupa penyediaan hand sanitizer di depan pintu pelayanan dan di dalam kantor pelayanan. Prosedur ini dilakukan dengan sangat ketat demi keamanan, kenyamanan, dan kesehatan semua pihak. 
 
 
Darwis mengungkapkan beberapa harapannya untuk SKIPM Luwuk Banggai. Kedepannya, ia berharap ekspor komoditas perikanan dapat dilakukan langsung dari UPI di wilayah Banggai agar wilayah ini semakin dikenal oleh dunia internasional. Karena selama ini kegiatan ekspor melalui Surabaya. Hanya saja segala dokumen ataupun sertifikat karantina dikeluarkan di SKIPM Luwuk Banggai. 
 
 
Harapan lainnya adalah tidak ada lagi kasus lalulintas komoditas perikanan ilegal. Pada 2019, SKIPM ini berhasil menggagalkan pengiriman kima segar sebanyak 139 kilogram (kg) dan pemasukan stick crab 10 pieces dari Surabaya. Mengamankan 3 ekor ikan napoleon, 10 ekor penyu tempayan, dan 1 ekor penyu sisik dari kegiatan Operasi Gabungan Antara PolAirud Polda Sulteng dengan SKIPM Luwuk Banggai. 
 
 
Menurut Darwis, penyebab utama masih terjadinya kasus ini adalah kesadaran masyarakat dinilai masih kurang akan pentingnya menjaga ekosistem laut. Terutama jenis-jenis ikan yang sudah berstatus dilindungi. Langkah-langkah yang diambil selama ini adalah dilakukannya penindakan tegas dan memperketat kegiatan pengawasan bersama instansi terkait agar memberikan efek jera kepada oknum-oknum pelaku yang masih berusaha melalulintaskan komoditas yang dilindungi. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain