Rabu, 15 April 2020

Achmad Poernomo: Memitigasi Dampak Covid19

Achmad Poernomo: Memitigasi Dampak Covid19

Foto: syafi


Pada saat penulis merampungkan artikel ini, penulis menerima pesan dalam group whatsapp yang isinya menawarkan udang dari Kulon Progo. Pesan tersebut menawarkan udang (ukuran 50 ekor per kg) dengan harga Rp 90.000 per kilogram. Menurut pesan tersebut, udang dijual murah karena supermarket setempat tidak bersedia menampung.  
 
 
Terlepas apakah harga tersebut adalah harga konsumen atau harga tambak, namun itu mengisyaratkan adanya penurunan harga karena pasokan yang tidak terserap. Berita online bahkan menyebutkan udang ukuran 50 tersebut sudah menukik ke Rp 60.000 per kilogram di Cidaun. 
 
 
Informasi yang penulis terima dari pelaku usaha perikanan budidaya juga cukup mengkhawatirkan. Pasar lele di seluruh Jawa turun rata-rata 50 %, dan ada penumpukan di kolam karena tidak terserap pasar. Semakin lama di kolam akan menimbulkan kerugian, karena harga lele berukuran besar lebih murah dari pada yang berukuran di bawahnya, sementara pengeluaran untuk pemeliharaan berlangsung terus.
 
 
Saudaranya lele, yaitu patin nasibnya hampir serupa. Diinformasikan pasar patin turun 30 % dan akan turun terus ke 50 % karena serapan pasar tradisional cenderung menurun. Selain itu, pabrik fillet juga menurunkan produksi, dan konon pasar fillet sudah turun 50 %.
 
 
Dampak Corona
Penurunan permintaan akan ikan dan udang sebesar 20 – 30 % memang telah diindikasikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (Men KP) dalam Raker dengan Komisi 4 DPR pada tanggal 6 April yang lalu telah terjadi.  Harga udang budidaya ditengarai menurun antara 6 – 15 %. 
 
 
Namun yang harus diwaspadai, di sisi produksi banyak komoditas yang siap panen. Untuk perikanan budidaya, potensi panennya mencapai lebih dari 450  ribu ton dalam kurun waktu April hingga Juni 2020. Rinciannya 105 ribu ton untuk potensi panen udang, dan sisanya untuk komoditas perikanan budidaya air laut dan tawar. Hasil tangkapan air tawar dan laut diprediksi akan mencapai 1,67 juta ton dan 131,5 ribu ton. 
 
 
Dengan semakin meruyaknya wabah corona (covid19), pemerintah telah mengambil langkah-langkah percepatan penangggulangan yang semakin ketat dan sedikit banyak akan mempengaruhi ekonomi negara maupun masyarakat. Menteri Keuangan telah mengindikasikan melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesa yang hanya berkisar 2,3 persen karena virus corona (ADB meramalkan 2,5 %), Konon ini terutama disebabkan oleh menurunnya konsumsi rumah tangga, investasi dan konsumsi pemerintah yang juga turun.  
 
 
Konsumsi rumah tangga menurun menjadi 3,2 persen hingga 1,6 persen, dengan kata lain ini menunjukkan menurunnya daya beli masyarakat. Padahal kebiasaan dari tahun ke tahun, menjelang dan selama bulan puasa justru pengeluaran masyarakat untuk konsumsi meningkat. Maka bisa diduga dalam beberapa bulan ke depan, akan terjadi penumpukan logistik bahan makanan, termasuk ikan. 
 
 
Dalam situasi seperti ini, maka Unit Pengolahan Ikan (UPI) juga akan menghentikan atau setidaknya mengurangi produksinya. Perumahan tenaga kerja untuk menekan penularan virus corona menjadi salah satu sebab. Hal lain adalah pasar yang mengecil.  Selain UPI, banyak industri lain yang juga telah merumahkan bahan melakukan PHK pegawainya. Kabar terakhir, 160 ribu lebih pekerja di DKI telah di-PHK.
 
 
Dampak Pasar Internasional
Di pasar internasional, prospek produk perikanan kita juga sebenarnya tidak menggembirakan. Betul diberitakan bahwa pada akhir Maret yang lalu kita berhasil melakukan ekspor ke sejumlah negara sebanyak 3.200 ton dengan nilai hampir Rp 195 miliar. 
 
 
Kalau dicermati lebih dalam, itu adalah pemenuhan kontrak beberapa bulan sebelumnya ketika corona belum melanda negara importir.   China, importir terbesar kedua produk perikanan kita tidak tercatat sebagai salah satu negara tujuan ekspor kita beberapa pekan yang lalu itu, karena China sudah mulai terkena wabah sejak bulan Desember 2019. 
 
 
Saat ini, negara-negara tujuan ekspor kita, yaitu Amerika, China, Jepang, dan Uni Eropa, hampir semua sudah diserang wabah ini, dan sudah melakukan pembatasan-pembatasan sosial atau lockdown. Amerika saat ini merupakan negara dengan jumlah penderita sakit akibat covid19 paling tinggi di dunia. Pemerintah setempat sudah menginisiasi karantina di berbagai negara bagian. 
 
 
Neraca importasi produk perikanan oleh Jepang sebenarnya sudah menunjukkan tren yang menurun sejak Desember 2019. Impor total (dari sisi nilai) pada Februari 2020 hanya sekitar separuhnya bila dibandingkan bulan Desember 2019. Niai ekspor kita turun dari USD 60,1 juta pada bulan Nopemver 2019 menjadi USD 42,4 juta pada Februari 2020 (Suhana, 2020). Saat ini Pemerintah Jepang telah menetapkan status darurat untuk Tokyo dan 4 prefecture lainnya.
 
 
Pembatasan-pembatasan di atas dengan sendirinya menyebabkan aktivitas masyarakat dan perdagangan sangat jauh berkurang. Maka daya serap negara-negara itu terhadap produk kita juga akan menurun. Stimulus apapun yang diberikan kepada eksportir rasanya tidak akan memberikan manfaat yang signifikan selama pasar masih tidak bergerak akibat pandemi global tersebut. 
 
 
Upaya Pemulihan
Dengan demikian, yang dapat kita lakukan adalah menunggu sampai negara-negara tersebut pulih dari dampak serangan corona. China dikabarkan saat ini sudah mulai pulih, pasar binatang (seafood) di Wuhan yang menjadi sumber pertama timbulnya virus corona  sudah mulai dibuka. Semoga ini menjadi pertanda baik, meskipun kita mengetahui bahwa produk yang kita ekspor ke China umumnya bernilai lebih rendah dari pada produk yang kita kirimkan ke Amerika, Jepang, maupun Uni Eropa.
 
 
Maka sambil menunggu pasar internasional rebound, upaya sebaiknya difokuskan kepada penanggulangan di dalam negeri. Setidaknya ada 2 masalah besar yang harus diatasi yaitu di mana hasil panen yang melimpah itu akan disimpan, dan apa yang bisa diperbuat untuk membantu dunia usaha perikanan agar tidak terpuruk akibat vovid19.
 
 
Membahas penampungan hasil panen yang melimpah itu, kita sebenarnya sudah punya konsep yang baik yaitu Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) sesuai dengan Pemen KP nomor 5 tahun 2014. Situasi seperti sekarang ini merupakan kesempatan  untuk menilai apakah SLIN yang sudah 5 tahun kita rintis itu telah menunjukkan kinerjanya. 
 
 
Puluhan cold storage, truk berpendingin dan sebagainya telah disediakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) selama kurun waktu tersebut. Namun benarkah kita telah membangun suatu sistem ataukah hanya cukup sekadar menyediakan sarana-prasarana. Bila sistem itu telah terbangun, setidaknya permasalahan menampung hasil panen dan pendistribusiannya di masa sulit sekarang ini dapat sedikit teratasi.
 
 
Mobilisasi gudang pendingin telah menjadi salah satu solusi yang akan dicoba oleh KKP. Langkah pertama adalah inventarisasi jumlah dan kapasitas gudang pendingin, baik yang dikuasai oleh pemerintah (Pusat, Daerah, BUMN atau BUMD), swasta maupun masyarakat. 
 
 
Melengkapi data itu diperlukan  peta distribusi keberadaan gudang pendingin tersebut dan dikaitkan dengan sentra-sentra perikanan. Dengan demikian akan jelas betul hubungan antara produksi dan kapasitas gudang pendingin di sentra perikanan tertentu membentuk sub SLIN, yang pada gilirannya harus tersambung secara nasional.
 
 
Insentif Permodalan
Permasalahan berikutnya yang timbul adalah darimana dana yang diperlukan untuk menampung ikan hasil panen atau tangkapan tersebut. Meskipun perusahaan swasta besar dapat membiayai penampungan di gudang miliknya, namun peran pemerintah menjadi sangat krusial di sini. 
 
 
Dana untuk penanggulangan dampak Covid19 tentunya sebagian bisa dipakai untuk membeli ikan hasil panen dan operasional penyimpanannya di gudang-gudang milik pemerintah. Dana ini bisa ditarik kembali ketika pada saatnya ikan dapat dilepas kembali ke pasar. 
 
 
Alternatif lain yang perlu dipertimbangkan juga adalah penerapan Sistem Resi Gudang untuk ikan beku. Meskipun demikian sepanjang pengetahuan penulis, hanya rumput laut kering yang selama ini bisa memanfaatkan  sistem ini, sedangkan untuk ikan beku masih dalam taraf uji coba. Maka perluasan penerapan sistem ini untuk ikan beku perlu diinisiasi secepatnya. 
 
 
Untuk mengurangi beban gudang pendingin maka pilihan yang dapat dilakukan adalah mengurangi suplai. Dan ini bisa dilakukan untuk perikanan tangkap. Dengan menyediakan insentif dalam berbagai bentuk bagi nelayan yang tidak melaut, maka produksi perikanan tangkap bisa dikurangi. Tentu ini hanya berlaku misalnya untuk kapal dengan tonase tertentu (misal 10 GT ke bawah). Nelayan di perairan umum sebagian besar berskala kecil dan insentif yang disediakan akan sangat bermanfaat di tengah situasi yang sulit ini. 
 
 
Perikanan budidaya sebaliknya saat ini tidak dapat dikurangi suplainya mengingat mungkin sebagian besar ikan atau udang sudah berada di tambak atau kolam dan menunggu saat panen.  Maka sub sektor ini kiranya perlu mendapat perhatian sedikit lebih.
 
 
Dengan berbagai pembatasan sosial yang diterapkan oleh pemerintah, maka mobilitas masyarakat menjadi sangat terkendala, dan ini bisa mempengaruhi moda dalam memperoleh bahan makanan. Salah satu yang dapat difasilitasi oleh pemerintah adalah pemasaran secara daring. 
 
 
Saudara tua KKP yaitu Kementerin Pertanian (Kemtan) sudah lama membuka Toko Tani di berbagai propinsi untuk membantu para petani memasarkan hasil panennya, sekaligus memudahkan masyarakat dalam memperolah produk pertanian. Selama merebaknya covid19 ini, Kemtan bekerjasama dengan provider layanan antar secara daring dengan biaya antar ditanggung pemerintah. Tidak ada salahnya bila KKP menerapkan pola serupa dengan melibatkan BUMN atau BUMD perikanan dalam menyediakan ikan beku atau segar secara daring.
 
 
Pandemi covid19 masih belum jelas kapan berakhirnya, namun kehidupan para pelaku usaha perikanan tidak dapat kita hentikan. Penanggulangan dampak dengan fokus menyelesaikan permasalahan di dalam negeri lebih mendesak daripada memperbaiki kinerja ekspor. Memperlancar rantai pasok serta memberikan dukungan kepada para pelaku usaha melalui berbagai insentif dan bantuan keuangan menjadi pilihan yang dapat diambil. 
 
 
 
*Pakar & Dosen Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain