Rabu, 15 April 2020

Strategi Mendorong Budidaya Lobster

Strategi Mendorong Budidaya Lobster

Foto: 
dok. kkp

Rencana revisi Permen 56/2016 soal pengelolaan lobster menjadi angin segar bagi pembudidaya marikultur, dengan harapan pemerintah mengizinkan benih lobster untuk dibudidayakan
 
 
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) dalam laporannya yang berjudul "Cultured Aquatic Spesies Information Programme Panulirus homarus (Linnaeus 1878)" menyebutkan bahwa lobster (Panulirus sp.) adalah salah satu komoditas yang memiliki nilai jual dan permintaan yang tinggi. Rata-rata harganya bisa mencapai USD 20 per kg. Tetapi permintaan yang tinggi ini tidak serta merta diikuti oleh ketersediaan yang tinggi, apalagi peningkatan produksi. 
 
 
Beberapa negara konsumen besar lobster antara lain Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Tiongkok. Masyarakat di Tiongkok biasa mengkonsumsi lobster dalam bentuk sashimi (mentah dan segar) sebagai menu makan malam. Daging segar lobster diiris dan disajikan dengan hiasan kepala dan ekornya yang masih utuh. Lobster yang diperdagangkan ke Tiongkok umumnya berasal dari hasil budidaya, terutama dari Vietnam. Tetapi ada juga yang berasal dari hasil tangkapan yang berasal dari AS.  
 
 
FAO menyebut hanya ada dua negara yang melakukan budidaya lobster. Keduanya adalah Vietnam dan Indonesia. Tetapi budidaya di Indonesia sempat terkendala karena larangan penangkapan benih di bawah 200 gram yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 56 Tahun 2016. Sehingga rujukan teknis budidaya dalam laporan tersebut hampir seluruhnya mengacu pada teknik budidaya yang berkembang di Vietnam. 
 
 
Sementara dalam laporan lain, FAO juga menyebut beberapa negara produsen lobster dari hasil tangkapan, seperti Kanada, Amerika Serikat, dan Indonesia. Masih dalam laporan FAO, yang dirilis setidaknya di tahun 2017 menyebutkan bahwa produksi lobster di Vietnam pada tahun 2010 tidak kurang dari 1.500 ton per tahun. Sebagian besar diekspor ke Tiongkok. 
 
 
Vietnam juga disebut telah menguasai pasar lobster hasil budidaya dengan jumlah produksi sebanyak itu dan nyaris tanpa ada pesaing. Sementara produksi lobster budidaya Indonesia, di tahun yang sama hanya 200 ton saja. Terlebih sejak ada larangan penangkapan lobster di bawah 200 gram untuk segala kepentingan termasuk budidaya.
 
 
Wacana Revisi
Nilai jual lobster dan permintaannya yang tinggi ini menjadi salah satu alasan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, berencana merivisi Permen KP 56/2016 sejak akhir tahun lalu. Dalam Permen tersebut disebutkan bahwa lobster di bawah 200 gram dengan panjang karapas 8 cm dilarang ditangkap, baik untuk diekspor maupun untuk dibudidayakan. 
 
 
Namun wacana revisi Permen yang sudah digulirkan ke publik beberapa bulan ini belum ada kesimpulannya. Padahal pemerintah dalam hal ini KKP sudah melakukan beberapa kali diskusi publik, kajian, hingga kunjungan ke Australia untuk melihat teknologi hatchery lobster yang dikembangkan di sana. 
 
 
Diskusi-diskusi yang berlangsung mengenai lobster mengarah pada perlu tidaknya lobster untuk dibudidayakan dan atau diekspor langsung. Terutama pada stadia-stadia di bawah 200 gram yang selama ini dilarang ditangkap. Lebih jauh dari itu, kajian peluang lobster untuk dibudidayakan tidak hanya pada fase pendederan dan pembesaran saja, tetapi juga sampai pada perlu tidaknya membangun hatchery. 
 
 
Meski Permen KP baru soal pengelolaan lobster belum keluar, tetapi arah pemerintah, dalam hal ini KKP untuk mengembangkan budidaya lobster terbilang serius. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangan pers tertanggal 14/2 mengatakan bahwa pihaknya tengah menyiapkan strategi untuk mendorong industri budidaya lobster. Menurutnya hal ini sebagai tindak lanjut atas masukan masyarakat yang ingin membudidayakan lobster.
 
 
Slamet, dalam keterangan tersebut menyebutkan bahwa akan ada manfaat ganda dari rencana pengembangan budidaya lobster. Selain manfaat ekonomi dari adanya lapangan pekerjaan baru, budidaya lobster juga bermanfaat sebagai buffer stock (penyangga stok) lobster di alam melalui kegiatan restocking (penebaran lobster ke alam dari sebagian hasil budidaya). 
 
 
"Kata kunci pemanfaatan nilai ekonomi dan perlindungan kelestarian sumber daya benih lobster sebenarnya ya di budidaya. Oleh karena itu, tidak ada alasan ke depan untuk tidak mendorong industri budidaya lobster nasional," ujar Slamet dalam keterangan pers tersebut. 
 
 
Kualitas Budidaya vs Tangkap
Adanya rencana revisi Permen soal pengelolaan lobster telah menjadi angin segar bagi para pemangku kepentingan, terutama nelayan dan pembudidaya. Meski belum final, upaya pemerintah tampaknya akan mengarah pada pengembangan budidaya. Upaya tersebut disambut gembira oleh Ketua Himpunan Pembudidaya Ikan Laut Indonesia (Hipilindo), Effendy Wong beserta para anggotanya. Ia akan menjadikan lobster sebagai pengganti komoditas ikan air laut (marikultur) yang kondisinya sedang sepi. 
 
 
Dalam suatu acara FGD (focus group discussion) lobster di Gedung Mina Bahari 4 KKP beberapa waktu yang lalu, Effendy optimis jika lobster bisa dikembangkan di Indonesia. Bahkan ia yakin jika Indonesia bisa memproduksi lobster 10 kali lipat lebih besar dibanding Vietnam meski sudah kalah start.  
 
 
Optimisme Effendy ini bukan hisapan jempol belaka. Ia yakin dengan apa yang diucapkannya itu karena ia sendiri telah mencoba membesarkan lobster dan menjalaninya selama kurang lebih 10 tahun. Sebelum ada larangan Permen 56/2016 itu. 
 
 
Ia sudah mempelajari karakteristik lobster saat dibudidayakan. Menurutnya, sedikitnya ada tiga hal penting yang harus diperhatikan agar budidaya lobster berjalan lancar. Antara lain kedalaman air, jenis dan kualitas pakan, serta manajemen kebersihan wadah budidaya. Dengan memperhatikan ketiganya, kualitas lobster budidaya bisa setara dengan lobster hasil tangkapan. 
 
 
Menurut Effendy, lobster hasil budidaya selama ini kerap kurang diterima pasar karena ada stigma bahwa kualitasnya tidak sebagus hasil tangkapan. Terutama soal warna dan ketahanan hidup saat pengiriman kepada pembeli. Lobster hasil budidaya sering digambarkan dengan warna yang cenderung pucat dan mudah mati. Padahal katanya, itu akibat cara budidaya yang kurang tepat. 
 
 
Untuk menghasilkan warna yang cerah, sambung Effendy, Lobster perlu dipelihara di kedalaman yang optimal sebagaimana ia biasa hidup di karang-karang. Menurut pengalamannya selama ini, kedalaman 9 meter bisa menghasilkan lobster dengan warna yang tidak pucat. "Pada kedalaman 9 meter bentuk tubuh udah menyerupai hasil alam. Warnanya juga bagus," ungkap Effendy. Ia memberi alasan bahwa pada kedalaman yang relatif dangkal, lobster banyak terpapar sinar matahari sehingga warnanya jadi lebih pucat.
 
 
Soal isu perbedaan kualitas lobster hasil budidaya dan tangkapan juga pernah didengar oleh Ketua Koperasi Pembudidaya Alam Bahari asal Tanjung Lesung Banten, Didi Supardi. Sependapat dengan Effendy, Didi juga mengatakan bahwa hal itu disebabkan teknis budidaya yang kurang tepat. Menurutnya, selain faktor kedalaman, kecerahan warna lobster juga dipengaruhi oleh jenis dan kualitas pakan yang diberikan. 
 
 
Ia menyebut pakan jenis kekerangan bisa membuat warna lobster menjadi lebih cerah karena kandungan kalsiumnya yang tinggi.  Kalsium yang tinggi bisa membantu pengembangan cangkang dan membuat warnanya lebih muncul. “Kalau menurut saya, saya tanya mereka yang berkata (kualitas lobster budidaya kurang bagus), saya bariskan lobster tangkapan dan budidaya. Mereka bisa bedakan? Gak bakalan,” ungkap Didi sedikit menantang.  
 
 
Stigma negatif lain yang diberikan pada lobster budidaya adalah ketahanannya saat dikirim dalam kondisi hidup. Menurut Effendy, masalah ini bisa diatasi dengan memuasakan lobster selama kurang lebih satu minggu sebelum dipanen. Hal itu juga diakui oleh Didi. Menurutnya, pemuasaan lobster sebelum ditransportasikan penting dilakukan untuk mencegah terjadinya proses ekskresi. Ekskresi  berupa feses dalam wadah bisa mengganggu kualitas air dan menyebabkan lobster stress, bahkan mati. Menurut Didi, pemuasaan ini tidak jauh beda dengan ikan-ikan budidaya pada umumnya yang perlu dipuasakan sebelum dipanen dan dikirim hidup-hidup. 
 
 
Pendederan - Pembesaran
Perkembangan budidaya lobster di Indonesia sampai saat ini masih hanya di segmen pembesaran saja. Terlebih dengan adanya Permen 56/2016, pembudidaya tidak bisa menangkap benih lobster atau lobster di bawah ukuran 200 gram untuk dibudidayakan. Karenanya nyaris tidak ada kemajuan pengembangan pembenihan lobster. Didi bersama kelompoknya pun hanya melakukan pembesaran dari ukuran sedikit di bawah 200 gram, sampai ukuran 210 – 215 gram. “Panen empat sampai lima bulan,” tambahnya. 
 
 
Didi bersama kelompoknya biasa mendapatkan benih lobster dari para nelayan di sekitar Panimbang Banten. Ia membeli lobster itu dengan harga rata-rata 90 ribu per kg. Harga ini, kata dia, sama untuk semua jenis lobster yang di budidayakan. Sementara harga jual pada ukuran 210 – 215 gram relatif sama di kisaran Rp 300 per kg. Menurutnya, harga yang dipukul rata ini karena ukuran lobster yang masih relatif kecil. Sementara jika sudah berukuran jauh lebih besar lagi, harga tiap jenisnya bisa berbeda.
 
 
Dengan waktu budidaya yang relatif singkat itu, Didi menggunakan teknik budidaya yang sederhana. Ia menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) seperti untuk budidaya ikan-ikan marikultur lainnya. Dalam KJA berukuran 4 x 4 m2, Didi menebar lobster sekitar 200 ekor atau dengan biomassa kurang lebih 20 kg. Ia mengaku mengambil segmen budidaya yang lebih singkat karena belum menguasai teknis yang mendalam. Risiko budidaya juga cenderung lebih sedikit. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-95/15 April – 14 Mei  2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain