Minggu, 15 Maret 2020

Terawang Pasar Perikanan 2020 dalam Bayang Corona

Terawang Pasar Perikanan 2020 dalam Bayang Corona

Foto: 
Foto Bersama peserta Outlook Perikanan 2020

Ketika 2019 dinilai menjadi tahun yang tidak menyenangkan bagi budidaya, pada 2020 ini sudah muncul tantangan baru
 
 
Gelaran Outlook Perikanan 2020 pun mengupas tuntas tantangan dan peluang budidaya pada 2020 ini. Yaitu dengan tema “Mempercepat Akselerasi Akuakultur di Era Milenial” di Gedung Mina Bahari III Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta (26/2) lalu. 
 
 
Rangkaian acara ini terbagi dalam dua sesi yang diawali oleh sambutan dari Deny Mulyono, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT). Sesi pertama menghadirkan pembicara Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP; Rokhmin Dahuri, Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia; Iwan Sutanto, Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI); Yugi Prayanto, Ketua Bidang Akuakultur Kamar Dagang Indonesia (Kadin); dan Budhi Wibowo, Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pema¬saran Produk Perikanan Indonesia (AP5I). 
 
 
Sesi kedua menghadirkan narasumber Sulistyawati, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Direktorat Jenderal perdagangan Luar Neger Kementerian Perdagangan; Harris Muhtadi, Ketua Divisi Akuakultur GPMT. Disamping itu, narasumber lainnya adalah Yeri Afrizon, Head of Sales and Marketing Regal Springs Indonesia; dan Azzam Bachrur Zaidy, perwakilan Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI). 
 
 
Dalam sambutannya Deny mengatakan, pada 2020 ini produksi budidaya pastinya sudah ditargetkan untuk terus meningkat. “Namun adanya virus Covid-19 ini tentunya menjadi geledek besar, China terkena virus yang berdampak pada kita semua. Yang tentunya akan mempengaruhi pasar kita,” ungkapnya. 
 
 
Menyangkut efek pandemi (penyebaran penyakit global) ini, Iwan buka suara. Ia melihat kondisi saat ini pasar Indonesia masih tetap; yaitu Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang. “Dengan adanya wabah corona, maka kegiatan pariwisata, pesta dan banyak kegiatan yang menurun. Pasar Indonesia memang tidak terganggu secara langsung dengan wabah corona, karena pasar China tidak banyak. Tetapi Ekuador dan India yang pasarnya di China terpotong pasti akan mencari pasar baru,” tegasnya. 
 
 
Strategi Integrasi Budidaya 
Sementara itu, Slamet sebagai representatif pemerintah pun angkat bicara. Ia menekankan, dalam menghadapi tantangan yang ada, kuncinya adalah dengan integrasi perikanan budidaya. “Yang mana adanya perubahan paradigma pembangunan perikanan budidaya dari hanya berorientasi pada peningkatan produksi menjadi berkelanjutan dan berdaya saing. Serta dengan mempertimbangkan potensi daya dukung lingkungan, ekonomi, dan sosial di wilayah pengelolaan perikanan budidaya,” ujar Slamet. 
 
 
Untuk sisi berkelanjutan juga diamini Rokhmin. Ia menuturkan betapa pentingnya stakeholders untuk tidak berpikir jangka pendek, tetapi kedepannya harus dikerjakan. 
 
 
“Agar pembangunan bisa berjalan makanya kita harus memastikan seluruh usaha untuk menerapkan ekonomi skill. Tidak ada lagi yang main bantuan. Sam¬pai sekarang kita membantu rakyat tuh di produksinya saja tapi rakyatnya tidak diperhatikan sehingga rakyatnya miskin. Makanya akuakultur harus kita bangun dengan semangat,” jelas Rokhmin. 
 
 
Yugi pun memberikan pendapatnya dalam menyingkapi tantangan budidaya pada 2020 ini. Dari sisi pemerintah, jelas Yugi, bisa menetapkan regulasi (sesuai dengan masukan dari seluruh pemangku kepentingan) baik UU, PP, Permen dan lainnya; kepastian status lahan karena hal yang paling krusial sering ditemukan di lapangan karena adanya tumpang tindih status lahan penggunaan dan kewenangannya; serta membuat iklim investasi lebih baik dengan melakukan inovasi pada sektor perbankan untuk ikut mendorong pergerakan ekonomi pembudidaya misalnya dengan memberi keringanan bunga pada pembudidaya kecil. 
 
 
Sementara dari pelaku usaha, tambah Yugi, khususnya yang memiliki modal besar dapat membantu pemerintah untuk meningkatkan produktivitas dari perikanan budidaya dengan bekerja sama dengan pembudidaya yang lebih kecil. Disisi lain, pelaku usaha juga bisa melakukan transfer teknologi yang dapat diadopsi dari negara yang lebih maju produksi perikanan bu-didayanya. “Serta melakukan riset untuk meningkatkan produksi perikanan mengenai perikanan berkelanjutan; dan berinovasi mengenai penggunaan jenis pakan sehingga meningkatkan produktivitas,” tuturnya.
 
 
Disisi pelaku usaha pengolahan, Budhi menerangkan perlunya fokus pada beberapa spesies unggulan. “Yang mana teknis budidayanya harus paham; pengembangan spesies yang bisa melibatkan banyak orang; serta pertimbangkan pasarnya, dimana daya saing dengan kompetitornya,” ungkap Budhi. 
 
 
Pasar pun bisa lebih dioptimalkan dengan memanfaatkan celah pasar frozen (produk beku) dan meningkatkan promosi. “Apalagi di sisi promosi. Untuk meningkatkan pasar dalam negeri selain pembenahan jalur distribusi, perlu promosi bersama oleh seluruh stakeholders, baik melalui media sosial (video/foto) maupun pameran food/ seafood,” imbuh Budhi. 
 
 
Membaca Arah Pasar 2020 
Dalam pemaparan sesi kedua, Sulistyawati membahas tentang peluang pasar produk perikanan pada 2020, khususnya pasar ekspor. Selain tantangan yang dihadapi pembudidaya, dalam pema-saran ekspor Sulistyawati pun memaparkan tentang hambatan berupa non-tariff measures terhadap produk perikanan yang dieskpor. 
 
 
Namun, peluang ekspor juga mesti dioptimalkan melalui perjanjian perdagangan yang dilakukan Indonesia dengan negara-negara mitra, seperti China, Korea Selatan, Jepang, dan Cili. “Untuk peningkatan ekspor bagi para pelaku usaha, kita juga memanfaatkan teknologi. Antara lain dengan informasi ekspor yang bisa diakses melalui situs kemendag, pameran dan misi dagang melalui Trade Expo Indonesia, serta digitalisasi perizinan ekspor secara daring. 
 
 
Untuk ekspor, Yeri mengungkap tentang produk perusahaannya yang sudah terkenal di pasar ekspor komoditas tilapia. “Tidak itu saja. Kamipun mulai menggarap pasar lokal, dimana kami menjual produk yang kualitasnya sama baiknya dengan produk ekspor,” ujarnya. 
 
 
Azzam pun turut menambahkan peluang pasar untuk catfish, yang dalam kategori ini banyak didominasi lele dan patin (pangasius). Untuk ekspor, daya saing produk yang dipilih adalah untuk produk frozen dan fillet (daging tanpa tulang). “Untuk menjamin daya saing di pasar ini perlu dilakukan efisiensi usaha di Unit Pengolahan Ikan (UPI), peningkatan kapasitas UPI, integrasi hulu hilir, serta peningkatan nilai tambah produk samping,” jelasnya. 
 
 
Belum sampai ke pemasaran dan ekspor, Harris pun mengingatkan dari segi komponen penting dalam budidaya, yakni pakan. Tantangan pun sudah datang dalam industri pakan ikan dan udang nasional. Sebagai gambaran, ia menerangkan tentang kapasitas produksi pakan udang saat ini berkisar di angka 620 ribu ton per tahunnya. Yang mana pada 2020 ini diprediksi ada kenaikan di pasar dengan adanya investasi baru. 
 
 
Dengan banyaknya investasi baru, Harris menjelaskan tentang prediksi tantangan yang bisa menjadi hambatan bila tidak diantisipasi. Yakni, adanya kompetisi meningkatkan kemungkinan perang harga. “Perang harga bisa menimbulkan produksi pakan berkualitas rendah untuk menekan harga. Kualitas pakan rendah bisa berakibat jeleknya performa komoditas budidaya. Komoditas yang jelek sangat rentan terkena penyakit. Adanya wabah penyakit bisa menurunkan produktivitas hingga merugi¬kan pembudidaya,” Harris mengingatkan. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain