Minggu, 15 Maret 2020

Pilih-Pilih Teknologi Pembenihan Lele

Pilih-Pilih Teknologi Pembenihan Lele

Foto: rizki


Ragam versi teknologi atau metode pembenihan lele berkembang, lantas bagaimana sebenarnya teknologi pembenihan lele intensif yang ada kini
 
 
Seiring perkembangan zaman, perkembangan teknologi pun tak dapat dipungkiri. Saat ini berbagai macam cara dan upaya telah dilakukan para pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah agar bisa mengoptimalkan prosuksi benih ikan dalam negeri. Dampaknya, banyak model atau sistem pembenihan yang diaplikasikan para pembudidaya di Indonesia, dari mulai tradisional hingga intensif. 
 
 
Bicara mengenai pembenihan, lele merupakan ikan konsumsi air tawar yang tergolong mudah untuk dipijahkan. Oleh karena itu, ikan berkumis ini banyak dijadikan bahan penelitian agar memaksimalkan jumlah produksinya dan juga cara pembenihannya agar lebih efektif dan efisien. Namun dengan banyaknya metode atau sistem pembenihan yang ada di dalam negeri, manakah yang lebih efisien dan efektif penerapannya bagi para pembudidaya?
 
 
Intensif RAS
Tim TROBOS Aqua menyambangi sebuah lokasi usaha pembenihan lele di daerah Cibubur, Jawa Barat (Jabar). Helmi Taufik S selaku pembudidaya lele yang menerapkan sistem Resirculating Aquaculture System (RAS) menyampaikan, bahwa tak dipungkiri lagi dengan semakin minimnya lahan-lahan di daerah maupun perkotaan, akan semakin sulit melakukan usaha budidaya ikan. Maka dari itu perlunya sentuhan teknologi dalam budidaya ikan saat ini, dalam hal ini pembenihan lele. Terutama yang masih menggunakan sistem konvensional, sudah pasti menggunakan lahan yang cukup banyak dalam usahannya. 
 
 
Disamping itu, lanjut Helmi, tak hanya bicara mengenai lahan yang digunakan, kualitas benih juga menjadi perhatian jika masih menggunakan cara-cara tradisional. Dalam penerapannya akan banyak menghadapi kendala dari perubahan cuaca, kurangnya pakan alami, dan manajemen kualitas air yang buruk. Maka dari itu dengan mencoba mengadopsi teknologi RAS di luar negeri untuk diaplikasikan ke pembenihan lele, dan ternyata hasilnya cukup baik. 
 
 
Dengan mengaplikasikan sistem RAS pada pembenihan, Helmi jelaskan lebih gamblang, lahan yang digunakan hanya berukuran 10 x 15 meter (m) atau 150 meter persegi (m2), dan wadah pemeliaharaan berupa bak fiber berukuran 1 x 2 m sebanyak 32 unit. Dimana 32 unit bak fiber tersebut di kelompokan menjadi 8 line (baris), dan setiap line terdiri dari 4 bak fiber yang pembuangan airnya saling berhubungan menuju satu bak filtrasi. Air-air dari bak fiber di proses dengan 2 macam filter, yakni filter mekanis dan biologis sehingga air kembali bisa didistribusikan kembali ke wadah pemeliharaan. 
 
 
Cara kerja bak filter dari sistem RAS, kata Helmi, dimana bak filter telah disekat menjadi 3 - 4 bagian, dimana bagian pertama diisi bio filter foam berbentuk busa. Tujuannya untuk memisahkan kotoran/limbah padat dengan halus. Kemudian dari sekat pertama mengalir ke sekat kedua, dan bagian kedua ada filter biologis berupa ring keramik atau bisa juga diisi bioball. Perannya adalah memfilter air secara biologis dan meminimalisir bakteri yang kurang baik.  Setelah itu, akan mengalir ke bagian terakhir melalui pipa paralon yang disinari ultra violet terlebih agar mematikan bakteri. Selanjutnya di pompa kembali menuju bak-bak fiber dengan keadaan bersih. 
 
 
“Produksi yang dihasilkan dari sistem pembenihan RAS bisa mencapai 600.000 an ekor benih lele per siklus dengan ukuran 3 - 4 cm hingga 4 - 5 cm, hal ini jelas lebih menghemat jauh lahan jika dibandingkan dengan tradisional. Jika dengan sistem tradisional rata-rata berpatokan 1.000 ekor per m2, yang berarti dalam 1 kolam ukuran 1x2 hanya diisi 2 - 3 ribu ekor, namun dengan RAS 1 bak fiber berukuran 100 x 200 x 50 cm bisa mencapai 20.000-an ekor,” ungkapnya. 
Selain RAS, ia katakan, ada juga pembenihan lele sistem intensif lainnya yang menggunakan unit indoor hatchery (ruang penetasan dan perawatan larva) dan kolam indoor. Tujuannya agar saat proses pemijahan dilakukan, tidak terpengaruh akan perubahan cuaca yang tidak menentu. 
 
 
Kemudian, dengan penggunaan indoor hatchery kuaitas air lebih mudah di kontrol sehingga sintasan (SR) larva lele tinggi. “Pemilihan sistem RAS bertujuan untuk menghemat lahan budidaya, dan juga menghasilkan benih lele dengan kualitas yang lebih baik, karena benih dirawat dengan intensif dan treatment (perlakuan) khusus,” terang pria yang akrab disapa Helmi.  
 
 
Intensif Non RAS
Di lain dearah ada Sahban I Setioko selaku pemilik Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Pasir Gaok, Bogor – Jabar ikut bicara mengenai pembenihan lele intensif di indoor hatchery. Menurutnya, sudah menjadi Standar Operasional Prosedur (SOP) bahwa pemeliharaan larva sebaiknya di indoor hatchery. Hal ini karena bisa meminimalisir serangan bakteri dan juga menjaga kualitas air lebih optimal terutama di suhu dan pH (kadar asam di perairan) air. Dengan demikian, SR larva bisa lebih tinggi dibandingkan pemijahan lele yang dilakukan di luar ruangan (outdoor).
 
 
Mengenai pembenihan lele intensif banyak model yang ada di Indonesia, ada yang menggunakan RAS, akuarium, dan lain-lainnya. “Intinya pembenihan intensif adalah pembenihan yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan terus menerus, dengan dukungan resources (sumber daya) yang tepat, sehingga memperoleh hasil yang optimal. Dan dikatakan optimal bila terget kualitas, kuantintas, dan kontinuitas dapat diterima pasar,” tutur Pria yang lokasi usahanya sering dijadikan tempat penelitian.
 
 
Berbeda cara dengan Helmi, Sahban lebih rinci menerangkan, pembenihan intensif tak hanya RAS. Seperti yang diterapkan di UPR Pasir Gaok juga bersifat intensif, yakni menggunakan sarana indoor hatchery dan kolam pendederan indoor, serta treatment khusus yang bertujuan mangantisipasi dampak perubahan cuaca yang berakibat pada kematian benih. Lahan yang kami gunakan sekitar 317 m2, dengan pembagian 161 m2 bangunan hatchery dan 156 m2 kolam indoor dan tandon air. Wadah pemeliharaan larva berupa akuarium berukuran 100 x 200 x 40 cm sebanyak 40 unit, dan kolam bundar berukuran diameter 2,5 m sebanyak 23 unit. 
 
 
Proses produksinya, dimulai dari pemijahan buatan dengan metode donor sperma jantan, kamudian telur di tebar di akuarium yang sudah dilapisi kain hapa (kain halus yang di jahit kotak) untuk media menempel telur. Setelah menjadi larva lele baru dipanen dan dihitung secara volumetrik, untuk satu akuarium diisi larva lele sebanyak 35 - 40 ribu ekor. Kemudian larva dipelihara selama 14 hari sampai mencapai yukuran 1 - 2 cm di indoor hatchery, seteleh itu dipindahkan dan di bagi ke kolam-kolam pendederan. 
 
 
“SR yang umumnya terjadi disni sekitar 67 %, perhitungannya pada saat mengisi larva ke akuarium sebanyak 35 - 40 rb ekor dengan estimasi total larva 1,4 juta ekor. Setelah 14 hari di pelihara di hatchery, benih dipindahkan ke kolam pendederan dan dipelihara hingga mencapai ukuran 3 - 4 cm. Kemudian jumlah benih yang dipanen kurang lebih sekitar 900 ribuan ekor jika tidak ada hambatan,” jelas Sahban.
 
 
Memang untuk sistem yang diterapkan di UPR Pasir Gaok mengharuskan pergantian air secara rutin dan dalam jumlah banyak, tidak seperti RAS yang minim pergantian air. namun dengan sistem ini kualitas air dipertahankan bening dan parameter airnya baik selalu, karena air yang akan digunakan telah ditampung dan diberikan telah di-treatment sehingga saat masuk ke wadah budidya ikan tidak stress. 
 
 
Kelebihan dan Kekurangan
Untuk sistem RAS, Helmi menggambarkan, penerapannya di segmen pembenihan belum banyak yang menggunakan. Beberapa orang melihat pertama dari nilai investasinya yang cukup besar, karena masih banyak yang berpikiran untuk melakukan usaha pembenihan lele dengan cara konvesional saja bisa. Padahal, sudah teruji bahwa dengan RAS pembenihan bisa meminimalisir lahan dan meningkatkan produksi usaha. 
 
 
Kedua, terlebih lagi para pembudidaya berpikir jika menjalankan sistem RAS lebih rumit dari segi instalasi serta maintenance (peratawan) filternya. Namun, jika ditelaah lebih jauh, mereka yang belum intensif masih harus melakukan pergantian air kolam secara berkala, menyikat kolam, dan lain-lain. Hal tersebut sudah jelas lebih membutuhan tenaga dan biaya yang lebih. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-94/15 Maret – 14 April  2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain