Sabtu, 15 Pebruari 2020

Rahasia Bikin Udang Ukuran Besar

Rahasia Bikin Udang Ukuran Besar

Foto: trobos


Menjaga padat tebar rendah dan kualitas air adalah rumus utama untuk menghasilkan udang ukuran besar. Meski kemungkinan penyakit masih tetap ada, tapi dampaknya bisa minimal
 
 
Budidaya udang masih tetap menggiurkan karena harganya yang masih di atas rata-rata komoditas perikanan lainnya. Apalagi jika bisa menghasilkan udang ukuran besar, semakin bagus pula harga yang akan didapat. Tapi untuk menghasilkan udang ukuran (size) besar bukan lah pekerjaan mudah, tidak semua petambak bisa dan mau. Karena dibutuhkan strategi yang jitu. Apalagi dalam budidaya udang, penyakit masih menjadi kendala utama yang selalu dikhawatirkan para petambak. 
 
 
Petambak senior, Agung Prihasto, membagikan rahasia bagaimana cara menghasilkan udang ukuran besar. Alumni Petambak Dipasena ini kini tengah mengelola tambak di Ujung Kulon, Banten, milik Haji Buntara sebagai Direktur Produksi. Menurut pria yang akrab disapa Agung ini, pihaknya memiliki visi untuk memproduksi ukuran besar karena harganya yang menggiurkan. 
 
 
Apalagi jika diproduksi dalam jumlah yang banyak, memproduksi udang besar bisa meningkatkan posisi tawar petambak saat menjual udangnya kepada pembeli. Udang vannamei ukuran besar ini biasanya diasumsikan pada udang ukuran 20 ekor per kg atau lebih besar lagi. 
 
 
Bersahabat dengan Myo
Untuk memanen udang ukuran besar, kata Agung, dibutuhkan waktu budidaya kurang lebih hingga 125 hari. Selama kurun waktu tersebut, Agung harus menjaga kelangsungan hidup ikan tetap tinggi. Menurutnya, keberhasilan mencetak udang besar bukan karena proses budidaya yang bebas dari penyakit, karena penyakit tetap saja ada. Tetapi karena mampu bersahabat dengan penyakit tersebut. 
 
 
Menurut Agung, penyakit yang selama ini kerap menyerang adalah IMNV (Infectious Myonecrosis Virus) atau yang lebih dikenal myo. Bahkan menurutnya, penyakit ini bisa  datang pada usia budidaya sekitar satu bulan setengah. Tetapi dengan tingkat gejala yang masih cukup rendah. Baru setelah dua bulan gejalanya bisa meningkat. “Kalau persiapan bagus, air bagus, kemungkinan dua bulan itu baru muncul (myo),” tambahnya.
 
 
Seiring datangnya penyekit myo, kematian pun tidak terelakkan. Kematian tersebut bagi Agung sangat wajar. “Tapi kita pertahankan kematian itu agar jangan sampai membesar,” tukasnya. Hal ini ia katakan karena sering mendapat sangkaan bahwa proses produksi udang ukuran besar itu harus bebas dari serangan penyakit dan kematian.
 
 
Kewajaran kematian yang dimaksud oleh Agung ini dicerminkan dengan angka kelangsungan hidup sekitar 80 – 90 persen di penghujung budidaya. “Sampai ahir panen itu masih ada kematian. Tapi masih wajar. Tapi kalau sudah tidak wajar, kita panen,” tegasnya. 
 
 
Kualitas Air dan Padat Tebar
Untuk menjaga penyakit tidak mengganas, Agung melakukan kombinasi manajemen kualitas air dan padat tebar. Hampir semua parameter air yang perlu diketahui dalam berbdudidaya diukur olehnya. Mulai dari pH, suhu, DO (dissolved oxygen/kelarutan oksigen), TOM, alkalinitas, hingga mineral kalsium dan magnesium. “Hampir semuanya kita ukur,” ungkapnya. 
 
 
Ia menambahkan, kualitas air sangat penting untuk kelangsungan budidaya, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Selain memastikan kualitas air dalam tambak, Agung juga memastikan perairan di sekitar tambak tetap bagus untuk bisa dimanfaatkan dalam jangka panjang. Ia bahkan melengkapi area tambaknya dengan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) untuk memastikan air limbah tambak tidak langsung masuk perairan umum. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-93/15 Februari – 14 Maret  2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain