Sabtu, 15 Pebruari 2020

Jadikan Udang Primadona di Negeri Sendiri

Jadikan Udang Primadona di Negeri Sendiri

Foto: dini
Produk udang olahan mulai banyak diminati konsumen

Perlunya strategi jangka pendek dan panjang dengan kerjasama semua stakeholders perudangan
 
 
Mengisi pasar udang domestik, dibutuhkan kepercayaan dan komitmen dari semua stakeholders. Khususnya dari sisi budidaya. Steven, Petambak Udang di Singaraja-Bali menuturkan, sudah saatnya fokus pasar di dalam negeri. “Dengan situasi global sekarang ini (kasus pandemic corona di Cina yang berimbas juga ke ekonomi global), pasar dalam negeri juga besar jika digarap dengan serius dibanding luar negeri. Bayangkan berapa jumlah penduduk Indonesia? Kita omongnya kan ekonomi NKRI ini,” ungkap Steven. 
 
 
Apalagi sebetulnya petambak nasional tidak semuanya eksportir. Menurutnya, eksportir harus punya izin macam-macam. “Sementara petambak kan gak semuanya eksportir. Sebelum bahan baku diproses, harus memiliki izin supaya barang bisa diekspor,” ujar Steven. Makanya, sudah ada potensi dari sisi hulu untuk merambah pasar dalam negeri. 
 
 
Gayung pun sudah bersambut di kalangan konsumen yang semakin meningkat konsumsi udangnya. Pemerintah pun menilai laju konsumsi ini harus segera disiasati. Dari sisi produksi misalnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan peningkatan produksi udang yang naik menjadi  1,2 juta ton pada 2020 dibanding pada 2019 yang mencapai 1,05 juta ton. 
 
 
Apalagi, menurut data yang dikeluarkan KKP, produksi udang nasional diprediksi akan tercapai. Selain karena produksi udang dari perikanan tangkap, juga dari budidaya, cara meningkatkan pemanfaatan lahan budidaya air payau yang saat ini baru termanfaatkan sekitar 21,64 % atau seluas 605.000 hektar (ha) dari potensi yang mencapai 2,8 juta ha. Dari 605.000 ha tersebut,  pemanfaatan lahan tambak produktif untuk budidaya udang diperkirakan mencapai 40 % atau baru 242.000 ha.
 
 
“Kami optimis produksi udang dalam negeri terus meningkat agar ketersediaan pasokan udang terus terjaga. Sehingga mampu mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri yang semakin meningkat dan juga tidak mengurangi kebutuhan ekspor,” jelas Agus Suherman Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP. 
 
 
Kuatkan Hulu
Terkait pasar udang dalam negeri ini, Steven menyebut, seluruh stakeholders harus mengubah arah kompas pasar. Untuk itu dia menilai petambak seperti dirinya harus perhatikan hal sepele tapi penting. “Bekerja mengikuti SOP (Standart Operating Procedure). Itu kuncinya. Biosekuriti untuk menjamin sustainable budidaya. Perlu binaan, edukasi untuk memacu usaha,” ucapnya. 
 
 
Untuk hilirnya, Steven berpendapat perlu MoU antara petambak dengan pabrik untuk produk olahannya. “Sehingga harga tidak akan ke mana-mana selama production chain, supply chain berjalan. Kita petambak harus berani agreement di harga. Dengan begitu, petambak tak akan galau soal fluktuasi harga. Ini jadinya ada jaminan ke petambak dan jadi semangat kerja. Dan impact-nya kan ke sustainable production,” tambah Steven. 
 
 
Dia pun menambahkan perlunya kerjasama seluruh stakeholders untuk membangun pasar yang bagus. “Saya melihat kita perlu sebuah unit pengolahan ikan jangan hanya fokus ke ekspor. Musti mulai ke retail. Salah satu sub solution-nya adalah membuat produk olahan, produk-frozen food. Buat kemasan sendiri. Buat model franchise dengan minimarket-minimarket. Selama ini petambak ke pengumpul. Kalau ke pengumpul atau ke minimarket-minimarket tadi, mereka yang tebar ke end user,” ungkap Steven. 
 
 
Selain itu, tambahnya, kerjasama juga dijalin dengan pasar-pasar tradisional. Setiap pasar tradisional punya teknisnya sendiri. Untuk beberapa daerah, pasar tradisional sangat potensial. “Juga perlu edukasi dan sosialisasi terkait dengan produk-produk yang berkualitas. Edukasi hulu samai hilir. Misalnya gerakan gemar makan. Budidaya yang bebas antibiotik, dan lain-lain. Itu bagus. Edukasi yang baik, akan memiliki dampak yang signifikan,” terang Steven.
 
 
Untuk memulai inilah, imbuh Steven, yang sering jadi patokan. “Siapa yang harus memulai? Semua harus bergerak bersama-sama,” ujarnya.
 
 
Selama ini Agus Suherman mengatakan, pemerintah pun sudah bertindak melalui sosialisasi, promosi, dan edukasi. Yaitu dari program-program untuk mendekatkan konsumsi ikan kepada konsumen seperti program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Diantaranya, dengan meningkatkan kampanye melalui media, peningkatan partisipasi publik, penguatan peran Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan), serta penguatan intervensi sensitif Gemarikan dalam mendukung program penanganan stunting.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-93/15 Februari – 14 Maret  2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain