Sabtu, 15 Pebruari 2020

Seriuskan Garap Pasar Udang Domestik!

Seriuskan Garap Pasar Udang Domestik!

Foto: ramdan


Saat pasar ekspor udang mulai stagnan, bila digarap serius pasar domestik bisa menjadi peluang  potensial 
 
 
Komoditas udang hingga saat ini masih menjadi andalan ekspor perikanan nasional. Tren permintaan dunia yang terus tumbuh seiring harga udang yang relatif tinggi menjadikan pasar dunia jadi tujuan utama pemasaran komoditas primadona ini. Bersaman tumbuhnya pasar udang global, perimtaan dalam negeri (domestik) pun ikut bergerak positif. 
 
 
Pertumbuhan Permintaan
Respon masyarakat Indonesia terhadap produk udang sebetulnya sudah menciptakan peluang besar. Seperti ditulis dalam TROBOS Aqua edisi 89 lalu, pemerintah dan pelaku usaha pun mengakui pasar udang domestik cenderung tumbuh dari 2017 lalu. Pemerintah melalui Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) pun mencermati, konsumen udang sangat potensial untuk tumbuh dan berkembang. 
 
 
Hal ini, dapat dilihat dari permintaan udang dalam negeri semakin naik seiring dengan meningkatnya tingkat konsumsi ikan nasional, dimana udang termasuk didalamnya. Data yang dikeluarkan KKP menunjukkan, tingkat konsumsi ikan nasional pada 2018 sebesar 50,69 kg per kapita yang meningkat sebesar 7,08 % dibanding pada 2017 lalu yang mencapai 47,34 kg per kapita. Bahkan, menurut survei penghitungan sementara KKP capaian angka konsumsi ikan nasional di 34 provinsi, pada 2019 telah menunjuk ke angka 55,95 kg per kapita per tahun. 
 
 
“Sementara itu rata-rata tingkat konsumsi udang nasional menurut data pada 2018 sebesar 1,75 kg per kapita atau meningkat 29,36 % dibanding pada 2017 yang mencapai 1,35 kg per kapita. Dan pada 2019 yang masih dalam penghitungan, kami prediksi kenaikannya juga berkisar 29 %," terang Agus Suherman, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP. 
 
 
Berdasarkan data KKP, provinsi Kalimantan Utara memiliki tingkat konsumsi udang tertinggi di Indonesia sebesar 5,53 kg per kapita pada 2018 lalu. Sementara Kota Nunukan merupakan kota dengan tingkat konsumsi udang tertinggi secara nasional sebesar 5,65 kg per kapita. 
 
 
Peningkatan ini, terang Agus, harus bisa dicermati oleh pemerintah khususnya KKP. “Apalagi laju pertumbuhan penduduk semakin meningkat sehingga menjadi peluang tersendiri terhadap kebutuhan pangan berbahan baku ikan,” ungkap Agus. Tidak itu saja menurutnya. Ia menilai, dengan naiknya tingkat konsumsi ikan menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan gizi dari bahan ikan. Tinggal bagaimana stakeholders memanfaatkan peluang ini menjadikan udang primadona di negeri sendiri.
 
 
Pengembangan Pasar
Pengembangan pasar udang dari ekspor ke domestik ditegaskan Thomas Darmawan Ketua Komite Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Menurutnya, ada kecenderungan penurunan permintaan ekspor yang menjadi pertimbangan besar untuk menguatkan pasar domestik. 
 
 
“Contohnya, penurunan impor perikanan dari China juga perlu menjadi pertimbangan. Ada keadaan emergency (darurat) di sana sehingga ada penurunan permintaan konsumsi, seperti lobster yang sebelumnya banyak diimpor dari Australia. Tentunya hal ini bisa berpengaruh terhadap konsumsi produk perikanan lainnya seperti ikan dan udang. Mengantisipasi penurunan ekspor jika kedepan terjadi keadaan emergency seperti ini, kita harus siap di pasar lainnya, yakni pasar dalam negeri,” terang Thomas.
 
 
Selain itu, hal yang memantik penyegeraan pasar udang domestik juga ia utarakan. Thomas tak menampik ada penurunan suplai udang Indonesia yang diekspor ke luar negeri. Sebagai gambaran, dia merinci hasil ‘intaian’ dia ketika mengikuti seminar di India beberapa waktu lalu. Yakni pemetaan pasar global dari produsen-produsen udang terbesar di dunia. 
 
 
“Ekspor udang Indonesia itu terdiri dari udang vannamei sebanyak 75 %, monodon 12 %, dan sisanya 13 % merupakan hasil tangkapan. Saat awal 2019 kita mengalami sedikit penurunan dalam tren suplai dunia, yang kemudian menanjak ketika memasuki pertengahan tahun. Tapi menurun lagi ketika memasuki Oktober hingga akhir tahun kemarin. Bisa dibilang dari tahun sebelumnya, tren suplai kita untuk ekspor itu menurun,” terang Thomas.
 
 
Maka dari itu, dia mengartikan hal ini sebagai suatu tanda bahwa pasar alternatif, seperti pasar dalam negeri harus dianggap serius. “Konsumsi dalam negeri sudah harus digenjot. Mesti digarap serius,” ungkapnya.
 
 
Gambaran kekhawatiran penurunan ekspor pun dijelaskan Agus Somamiharja, Anggota Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Kesejahteraan Stakeholders Kelautan dan Perikanan. Membandingkan dari India sebagai eksportir terbesar udang dunia saat ini, dia melihat Indonesia bukannya menanjak, tapi masih cenderung stagnan.  
 
 
“Pasar ekspor kita dari dulu itu selalu paling banyak ke dua negara, yakni Amerika Serikat (AS) dan Jepang. Tapi kedepannya, kompetisi untuk memasuki pasar di sana juga akan semakin kompetitif. Akan banyak negara produsen lain yang mengincar. Kita digerogoti oleh yang lain,” ungkap Agus Soma dalam acara pertemuan antar stakeholders beberapa waktu lalu di Jakarta.
 
 
Dia menambahkan, gambaran pasar untuk ekspor lain pun belum tentu secerah pasar AS dan Jepang. Sebagai contoh, imbuh Agus Soma, pasar Eropa lebih memilih eksportir seperti Ekuador yang menawarkan udang yang sudah cocok dengan kriteria dan sertifikasi yang mereka minta.  
 
 
“Sementara India itu juga sistemnya betul-betul dijaga oleh pemerintahnya agar stabil produksinya. Padat tebar maksimal mereka di kisaran 60 - 70 ekor per meter persegi (m2). Kalau di kita kebanyakan untuk ekspor itu sistemnya intensif, padat tebar bisa 200 - 250 ekor per m2 ,” beber Agus Soma. 
 
 
Penerapan tambak pun dilakukan secara massal di India dengan penerapan regulasi yang ketat dari pemerintahnya. “Hasilnya, mereka cukup stabil produksinya dan diterima di pasar ekspor global. Kalau kita, karena sistem intensif hanya segelintir orang yang sanggup, produksi cenderung tidak stabil,” imbuh Agus Soma. 
 
 
Respon Pelaku Usaha
Hanya saja, jika ingin mendemonstrasikan alihan ke pasar domestik, banyak pekerjaan rumah yang sedianya dilakukan. Joko Sasongko, Ketua Shrimp Club Indonesia Jawa Barat (Jabar)-Banten mencontohkan, belum adanya pemetaan pasar menjadi gambaran abu-abu penyerapan pasar domestik dibandingkan ekspor. 
 
 
“Dari sisi pemetaan pasar, belum ada pemetaan masuk ke ekspor atau domestik. Sebagai petambak tahunya ya jual panen semuanya, gak ngecer. Kalau sisi pedagang itu belum ada edukasi ke pasar domestik. Dan bagi pedagang, mau gak mau perang di harga, yang paling tinggi dia jual di situ, dan ekspor (harganya) sejauh ini paling bagus,” terang Joko.
 
 
Belum adanya pemetaan pasar untuk arahan ke ekspor atau domestik juga diamini Kristiawan, Manajer Produksi CV Bening Jati Anugrah. Sebagai pelaku usaha di bidang pengolahan perikanan lokal, bahan baku udang ia cari dari pengekspor dalam bentuk ‘rejekan’ ekspor di Muara Baru, Jakarta. “Artinya rejekan bukan kualitas produknya jelek. Tapi karena standar ukurannya gak masuk ukuran ekspor, misal terlalu kecil. Untuk bahan baku kualitas masih bagus dan layak konsumsi,” terang ungkap laki-laki yang akrab disapa Wawan ini.
 
 
Wawan harus mencari rejekan, karena selama ini dia belum menemukan pedagang yang khusus menjual udang ke arah domestik. Kualitas udang yang ia cari sesuai standar pengolahan perusahaannya, lebih banyak ia temukan dalam produk ekspor.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-93/15 Februari – 14 Maret  2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain