Jumat, 31 Januari 2020

Bertambah 6 Unit Lagi, Gudang Garam Nasional Ber-SNI

Bertambah 6 Unit Lagi, Gudang Garam Nasional Ber-SNI

Foto: ist/dok.KKP


Pati (TROBOSAQUA.COM). Pemerintah telah membangun tambahan 6 gudang garam nasional (GGN) di Demak, Jepara, Indramayu, Pamekasan dan Aceh Utara dengan nilai pembangunan masing-masing Rp2,5 miliar. Keenam GGN tersebut adalah sebagian dari 27 GGN yang telah dibangun pemerintah.

 

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo meresmikan Gudang Garam Nasional (GGN) di Kabupaten Pati, Jawa Tegah, mewakili 5 GGN lainnya pada Kamis (30/1).  

 

Menteri Edhy menerangkan, enam GGN itu masing-masing berkapasitas 2.000 ton, sehingga memiliki total daya tampung 12.000 ton. Pembagunan GGN bertujuan memudahkan petani garam mudah dalam menyimpan hasil panen sehingga kualitas garam yang diproduksi tetap terjaga.

 

Dengan diresmikannya GGN di Pati, total gudang yang sudah dibangun di Jawa Tengah sebanyak 9 unit. Adapun 3 unit lainnya ada di Brebes (2 unit) berkapasitas 2.000 ton, dan di Rembang dengan kapasitas 1.000 ton.

 

Dalam peresmian GGN di Pati, Menteri Edhy juga berdialog dengan petani garam, pelaku industri perikanan, dan nelayan. Banyak dari mereka yang mengeluhkan harga garam yang saat ini berada jatuh, hanya dihargai Rp 250/kg dari yang sebelumnya bisa mencapai ribuan rupiah per kilogramnya. Mereka beranggapan jatuhnya harga garam karena masuknya garam impor.

 

Menteri Edhy mengaku sudah berkoordinasi dengan Menko Perekonomian, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan, untuk memecahkan persoalan tersebut. Dia juga sangat ingin garam dalam negeri semuanya terserap dan harganya kembali stabil sehingga tidak ada petambak garam yang merugi.

 

Menurutnya, koordinasi juga dilakukan dengan Kementerian PUPR untuk pembangunan infrastuktur jalan menuju lokasi tambak. Karena salah satu penyebab tingginya ongkos produksi garam adalah tingginya biaya angkut garam dari tambak menuju lokasi penyimpanan.

 

Pugar

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL), Aryo Hanggono, menjelaskan kabupaten Pati merupakan daerah dengan produktivitas garam tertinggi kedua di Indonesia setelah Madura. Tahun lalu, daerah ini menghasilkan 350 ribu ton garam.

 

Aryo menguraikan, produksi garam nasional pada 2019 mencapai 2,85 juta ton. Hal ini tidak terlepas dari program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGaR) yang menerapkan berbagai inovasi teknologi produksi seperti geomembran dan integrasi lahan.
 

Aryo menerangkan GGN sebagai bagian dari Pugar berfungsi menjaga stok garam, karena panen garam tidak berlangsung sepanjang tahun. KKP telah membangun 27 Unit Gudang Garam Nasional (GGN) sesuai SNI 8446:2017, berdaya tampung 2.000 ton masing-masing senilai Rp2,5 miliar.

 

Rokhmin Dahuri staf ahli Menteri KP menggaris bawahi urgensi perbaikan dan pengembangan sistem logistik garam nasional serta perbaikan kuantitas dan kualitas data.

 

“Dengan penelitian dan pengembangan aplikasi teknologi berbasis garam non-evaporasi, Insya Allah Indonesia dapat berswasembada garam bahkan menjadi pengekspor garam utama dunia," kata dia.

 

Dia menegaskan agar pemerintah mengangkat status garam sebagai komoditas, sehingga bisa dibuat penetapan harga dasar yang menguntungkan petambak garam dan sekaligus tidak memberatkan konsumen. ist/ed/ntr

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain