Rabu, 15 Januari 2020

Aplikasi Probiotik Cegah Berak Putih

Aplikasi Probiotik Cegah Berak Putih

Foto: 
Berfoto bersama seusai diskusi

Cegah udang terserang WFD dengan probiotik dan imunostimulan
 
 
Pembahasan mengenai penyakit selalu menjadi topik menarik yang dikupas dalam setiap diskusi atau seminar tentang budidaya udang. Karena penyakit merupakan permasalahan yang mengancam kelangsungan budidaya. Termasuk penyakit berak putih atau white feces disease (WFD) yang menjadi salah satu topik pada diskusi budidaya PT Inve Indonesia bekerja sama dengan Forum Komunikasi Praktisi Aquakultur (FKPA) di Bandarlampung- Lampung, belum lama ini. 
 
 
Pada diskusi tersebut tampil tiga pembicara; yakni Abru Arfindee, Sales Engineer Farm PT Inve Aquakultur Asia; Budi Novianto, Account Manager PT Inve Indonesia dan Agus Subagio, Sales Engineer PT Inve Aquakultur Asia. Diskusi dibuka Ketua FKPA Hanung Hernadi dan dihadiri Mario Hoffman, Key Distributor Project Manager PT Inve Aquakultur dan Agusri Syarif, Ketua Ikatan Petambak Pantai Barat Sumatera (IPPBS). 
 
 
Abru Arfindee yang tampil pertama menyebut bahwa berak putih merupakan sindrom. Alasannya, hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Terdapat sejumlah kemungkinan penyebabnya; yakni racun plankton, pakan, infeksi bakteri gregarin dan lainnya. Selain itu, urai Abru, di Thailand, WFS juga diduga disebabkan bakteri (Vibrio spp). “WFS juga menyebabkan kematian dan FCR (rasio konversi pakan) tinggi,” ungkap Abru. 
 
 
Gejala dan Penanganan WFS
Terdapat sejumlah gejala yang muncul ketika udang mulai terserang WFS. Di antaranya, usus kelihatan berwarna putih, nafsu makan berkurang sehingga konsumsi pakan menurun dan kerapas. Lalu, akan terlihat kotoran berwarna pucat putih atau terang yang mengambang di air. Kemudian disusul dengan pertumbuhan yang lambat dan variasi ukuran yang tajam. 
 
 
Untuk mengendalikan WFS, Abru mengatakan, harus dimulai dari persiapan kolam. Setelah panen, keringkan dan bersihkan kolam dengan benar. Pastikan semua sampah organik bersih dan kolam dalam kondisi baik. Kolam juga harus bebas dari inang berupa kerang, kepiting, udang liar dan lain-lain. 
 
 
Untuk kolam yang pada siklus sebelumnya mengalami kasus EHP, perlu diaplikasi kapur, baik untuk kolam tanah maupun kolam HDPE guna meningkatkan pH sebelum memasukan air. “Periksa bagian bawah plastik HDPE dengan benar. Cek bagian mana yang tidak terakumulasi dengan baik atau mengandung air atau ada lobang di sisi kolam. Sebab area tersebut dapat menyebabkan masalah pada siklus berikutnya jika tidak dikelola dengan baik, terutama pada kasus EHP,” ia mengingatkan. 
 
 
Lalu, sesuaikan posisi aerator guna memastikan lumpur terakumulasi di tengah dan dasar kolam bersih serta oksigen dapat masuk. Perlu diingat EHP sulit dibunuh sehingga perlu berhati-hati dalam menanganinya sejak awal. Untuk kolam HDPE dapat dipertimbangkan untuk mendisinfeksi HDPE dan/atau peralatan lainnya. 
 
 
Kemudian, autofeeder juga cukup membantu agar udang mengkonsumsi pakan yang masih berada dalam air. Dengan autofeeder pakan dimakan udang ketika masih mengambang dalam air. Berarti lebih sedikit melubernya nutrisi ke dalam air dan itu secara otomatis akan mengurangi kehilangan nutrisi. 
 
 
Sementara pada pemberian pakan secara manual, besar kemungkinan pakan juga akan merusak dasar kolam lebih cepat. Autofeeder memberi makan udang lebih sedikit daripada manual sehingga bisa membatasi konsumsi pakan. 
 
Pembicara juga memaparkan aplikasi probiotik untuk kesehatan usus udang yang diawali dengan mengutip hasil penelitian sejumlah pakar. Jadi, ungkap pembicara, aplikasi probiotik mampu memulihkan kondisi usus dan hepatopancreas guna menjaga kesehatan udang. Probiotik mampu membunuh Vibrio. Karena itu untuk mengontrol Vibrio dalam usus perlu menggunakan probiotik secara terus-menerus agar menjadi dominan di usus. 
 
 
Di samping itu aplikasi probiotik pada pakan juga memberi manfaat lainnya. Di antaranya, FCR menurun; mengurangi sampah organik dan Vibrio di dasar kolam sehingga meminimalisasi potensi terjadinya WFD.
 
 
Pada bagian akhir Abru menambahkan, pemantauan sangat penting untuk meminimalkan masalah. “Pemantauan ketat dan tindakan cepat dapat memecahkan masalah 100 %,” tutupnya. 
 
 
Bioremediasi 
Sementara itu Budi Novianto, membawakan makalah Bioremediasi, Pendekatan Strategis untuk Budidaya Udang. Menurut dia, bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi polutan di lingkungan. Saat bioremediasi terjadi, enzim-enzim yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan. 
 
 
“Pendekatan strategis bisnis PT Inve dalam budidaya udang adalah sukses budidaya yang ditentukan oleh manajemen risiko, penyakit dan biosekuriti. Tujuan akhirnya adalah keuntungan, konsistensi/prediktablitas dan keberlanjutan usaha,” jelasnya. 
 
 
Disebutkannya, sistem budidaya yang dikembangkan PT Inve adalah strategi penggantian air secara terbatas dan menjaga keseimbangan bakteri. Lalu untuk biosekuriti, menurut Budi, harus dilakukan kontrol lingkungan dengan melakukan disinfeksi semua peralatan dan lingkungan budidaya. 
 
 
Adapun alasan penggantian air secara terbatas, diuraikan Budi, karena setiap air baru memberi keuntungan bagi patogen. Bakteri baik berkembangnya lambat. Waktu yang dibutuhkan Bacillus sp untuk multiplikasi selama 6 jam. Sebaliknya bakteri buruk berkembang cepat. Waktu multiplikasi Vibrio sp hanya 20 menit. Jadi pembatasan penggantian air juga berarti mengurangi risiko. 
 
 
Budi menggarisbawahi, fermentasi tidak direkomendasikan jika tidak dilakukan dalam kondisi yang tepat. Ia mengingatkan, jika menggunakan molase, berarti memberi makanan untuk Vibrio sp. sehingga dapat menyebabkan ketidakseimbangan dari efek probiotik yang ditargetkan. Apalagi setelah fermentasi 24 jam, Vibrio sp. dapat mencapai lebih dari 104 CFU/ml. 
 
 
Karena itu, lanjutnya, probiotik perlu digunakan sejak awal agar menjadi dominan dalam air tambak dan perlu terus diaplikasikan guna menjaga spesiesnya tetap dominan di dalam kolam. 
 
 
Probiotik usus berfungsi untuk pencernaan (enzim), penghambat bakteri berbahaya, dan untuk berkompetisi dengan pathogen. Aplikasi probiotik ke air untuk mendominasi bakteri baik di lingkungan tambak dan menciptakan kepadatan tinggi bakteri menguntungkan (flok) dalam air yang dapat dikonsumsi kembali oleh udang. 
 
 
“Termasuk mencegah dan mengendalikan bakteri berbahaya agar tidak bertambah jumlahnya dan menyebabkan masalah pada usus dan hepatopancreas udang,” urai Budi. 
 
 
Sementara Agus Subagio menambahkan, meskipun melalui tes VCR menunjukan udang negatif EHP. Namun petambak jangan berpuas diri dulu karena masih ada potensi terserang WFD. 
 
 
Ia juga mengingatkan, ketika udang terserang WFD maka kondisi tubuhnya lemah sehingga mudah terserang penyakit lainnya. “Karena itu untuk mencegah udang terserang WFD harus dikuatkan ususnya dan hepatopancreasnya dengan probiotik dan imunostimulan,” pembicara merekomendasikan. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain