Rabu, 15 Januari 2020

Sukses Bersama Sahabat STP

Sukses Bersama Sahabat STP

Foto: 
Imam Sutejo berhasil menghidupkan kembali tambak-tambak rehat di wilayah Kaliungu

Melalui program pengembangan dan pendampingan tambak udang, STP ikut membantu meningkatkan skala usaha budidaya udang
 
 
Imam Sutejo memulai budidaya tambak udangnya sejak 2017 di wilayah Kaliungu, Kendal Jawa Tengah. Sebelum memulai usaha tambaknya sendiri, pria ini telah malang melintang di sektor budidaya udang . “Bisa dibilang Saya ini sekolahnya di perudangan mulai dari 9 tahun di Jawa Timur, 16 tahun di Jawa Barat, dan 3 tahun di Vietnam,” kisahnya. Dengan pengalamannya yang cukup lama mengelola tambak udang serta dukungan dari teman-teman petambak mandiri, Imam mulai membuka tambaknya sendiri yang diawali dari 6 kolam pada 2017.
 
 
Memilih Kendal sebagai lokasi tambak bukan tanpa tantangan. Tetapi Imam berhasil menjalankan budidaya di wilayah tersebut. Bahkan daerah Kendal yang semula masuk red zone sudah mulai berkembang aktif jadi tambak-tambak baik tradisional, semi intensif, maupun intensif. Dari situ terbangunlah komunitas-komunitas petambak yang ternyata juga berasal dari berbagai profesi seperti dokter, ataupun dari kalangan pemerintah yang tertarik untuk bertambak. 
 
 
Bukan Kemitraan, Imam mengklaim komunitas yang dibangunnya dilandasi filosofi Sukses Bersama Sahabat. Oleh karenanya ia membuka kerjasama dengan berbagai pihak untuk memperluas atau meningkatkan pengembangan tambaknya beserta komunitasnya agar dapat mencapai produktivitas optimal. “Alhamdulillah karena sudah lama di bidang ini, saya di benur ada kawan, pakan ada kawan, penjualan ada kawan, jadi prinsipnya memang kerjasama dengan berbagai pihak untuk kemajuan bersama,” klaimnya. 
 
 
Jalin Kerjasama 
Walau mengaku manajemen tambaknya masih jauh dari sempurna tetapi Imam terus berupaya meningkatkan produktivitas tambaknya yang kini sudah mencapai 9 kolam. “Rata-rata untuk panen saat ini paling sedikit 18 ton per hektar, kolam saya 1000 ada lima kolam, 4 kolam 1500 kalo dikonversikan produktivitas per hektarnya kira-kira seperti itu,” jelasnya. 
 
 
Ia mengaku sangat tertarik untuk mengikuti update perkembangan teknologi di bidang budidaya udang dan berupaya mengaplikasikan di tambaknya. “Saya punya teknisi, juga operator kolam dan saya sangat terbuka mengikuti teknologi-teknologi yang ada maupun yang terbaru terutama di era 4.0 dan milenial ini karena sangat praktis, “ ujar pria yang juga sudah merintis ekspor dari hulu ke hilir ini. 
 
 
Terkait upaya pengembangan tambak miliknya serta komunitas petambak di wilayahnya, Imam yang juga pelaku usaha trading ini mengakui salahsatu kendala yang dihadapinya adalah terkait modal usaha untuk budidaya. Hal ini yang mendasari kerjasamanya dengan pabrik pakan PT Suri Tani Pemuka (STP) dan startup pembiayaan (crowdfunding) Crowde mulai berjalan sejak beberapa waktu lalu. 
 
 
Selama 1 siklus berjalan ini Imam juga mengaku sangat didukung oleh STP. Ia mengklaim, saat usia 60 hari beberapa waktu lalu udang sudah mencapai ukuran 10,9 - 10,8 gram, dengan kepadatan 100 ekor, dengan jumlah kolam 9 dan 1 tandon. “Sudah mendekati Rp 1 miliar modal kerjanya yang saya dapatkan dan saya berterimakasih sudah dikenalkan dengan Crowde oleh STP,” ungkapnya. 
 
 
Percaya pada STP 
Menggunakan pakan STP secara penuh untuk budidaya tambaknya memang baru dilakukan Imam di siklus kali ini. Tetapi dirinya mengklaim telah bermitra dengan STP sejak lama saat masih mengelola tambak milik orang lain. “Bahkan Saya termasuk saksi hidup pergantian manajemen STP,” ucapnya sambal tertawa. 
 
 
Imam menggunakan pakan STP PV untuk awal dan berencana menggunakan SGH untuk pakan pembesarannya. Dan ia merasa cukup puas dengan hasilnya karena dapat mencapai ADG 0,38 - 0,4. “Artinya saya semakin yakin pakan ini berkualitas terlepas dari tantangan teknis di lapangan. Saat kita sudah tau pakan yang digunakan mencapai target yang ditetapkan untuk pertumbuhan artinya kualitasnya sudah terbukti,” klaimnya. 
 
 
Menurut Imam, feeding management (manajemen pakan) menjadi salahsatu faktor penentu keberhasilan budidaya. Ia yang saat ini 100 % menggunakan pakan STP mengklaim konversi pakannya tidak pernah lari dari 1,5. “Pakan STP termasuk stabil kualitasnya, saya suka butirannya smooth dari satu ukuran ke ukuran, asal pakan terkendali tidak akan merusak kualitas air,” jelasnya. Dan ia mengaku selalu mendapatkan pakan yang fresh dari STP. “Karena Saya paling rewel untuk urusan pakan, ada perubahan sedikit saja saya tau, klaimnya. 
 
 
Sementara itu, Beni Ardian dari STP menjelaskan, STP memang memiliki program pengembangan untuk tambak-tambak rehat agar bisa mendapatkan akses paling tidak sama dengan tambak besar. “Jadi kita ada program pengembangan tambak kecil dan pendampingan tambak besar. Juga ada program pendampingan mitra dari kawasan komunitas. Contohnya dengan Crowde, yang ingin terlibat dengan program budidaya akuakultur. Kami butuh support untuk bergerak memberikan akses ke petambak dan untuk proyek ini harus ada contohnya. Ternyata saya dapat contoh paling bagus yaitu Pak Imam,” terang pria yang meru¬pakan Koordinator KAVAS wilayah kerja Unit Gresik, Jateng, Jatim dan Madura ini. 
 
 
Menurut Beni, walaupun kerjasama ketiga pihak ini cenderung baru, tapi sampai saat ini semua sudah on track. “Kerjasama ini maunya sustain, budidaya berlangsung terus, kerjasama berjalan terus, sama-sama mendukung petambak semaksimal mungkin dan kita akan mendapat feedback yang positif dari kerjasama ini,” klaimnya. 
 
 
Dalam kerjasama ini, STP memfasilitasi produk seperti pakan, juga mengenai teknis di lapangan yang dilakukan secara sharing dengan tim Pak Imam. Hal ini juga merupakan salahsatu syarat untuk pendanaan dari Crowde yaitu harus ada yang mengawasi dari sisi budidaya agar sesuai SOP sehingga hasil budaya optimal. “Sinergi semua pihak, mencari solusi untuk tantangan yang ada untuk kemudian sukses bersama-sama,” pungkasnya. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain