Rabu, 15 Januari 2020

Makin Bernas Kejar Kualitas

Makin Bernas Kejar Kualitas

Foto: trobos


Pakan akuakultur makin harus berorientasi kualitas jangan hanya kuantitas
 
 
Pakan ikan atau udang dengan nutrisi yang memadai, akan mendukung pertumbuhan dan optimal meningkatkan hasil budidaya. Oleh karena itu peranan para produsen pakan akuakultur tidak hanya sebatas menyediakan kebutuhan pakan secara kuantitas tapi juga kualitasnya.
 
 
Faktanya untuk satu jenis komoditas akuakultur, di pasaran tersedia beragam jenis komposisi, merek, dan harga. Tidak semua pembudidaya memahami variasi produk pakan tersebut, malah tidak sedikit pembudidaya yang memberikan jenis pakan komoditas tertentu untuk komoditas lainnya, misalnya pakan ikan lele diberikan untuk nila. 
 
 
Diungkapkan Head of Nutrition and Feed Technology Aquaculture, Animal Nutrition PT Suri Tani Pemuka (produsen pakan akuakultur), Erwin Suwendi, pembudidaya perlu memiliki pengetahuan yang cukup terkait variasi produk pakan yang ada di pasar. Hal ini supaya pemberian pakan pada ikan atau udang bisa efektif dan efisien.
 
 
Ia memberikan saran, hal pertama yang perlu diketahui oleh pembudidaya adalah melihat komposisi bahan baku yang ada di dalam pakan. Bahan baku yang tertulis pertama dalam label komposisi adalah mengindikasikan jumlah terbanyak. Selain jumlah, kualitas bahan baku yang tertera harus diperhatikan juga. 
 
 
Yang kedua, lanjutnya, karakteristik fisik pakan juga tidak kalah pentingnya. Misalnya keseragaman bentuk, warna, bau, tekstur, temperatur, dan tidak ada kontaminan. “Yang ketiga kalau bicara harga sangatlah relatif, yang terpenting adalah cost-effectiveness (efisiensi biaya yang dikeluarkan per unit kg ikan/udang yang diproduksi),” kata Erwin, kepada TROBOS Aqua. 
 
 
Bahan Baku
Setiap komoditas akuakultur punya kebutuhan dan komposisi pakan yang berbeda. Dijelaskan Erwin, Bahan baku umum yang dipakai untuk pakan akuakultur adalah gandum dan produk turunannya, jagung dan produk turunannya, gaplek, dedak, kopra, tepung kedelai, by product (produk sampingan) protein hewani seperti tepung daging dan tulang sapi, tepung jeroan ayam, tepung bulu ayam; tepung ikan dan produk turunannya, by product protein laut seperti tepung cumi, tepung udang; ragi, minyak sawit dan minyak ikan/cumi. Bahan baku pembantu biasanya seperti suplemen asam amino, premix vitamin dan mineral, suplemen vitamin/mineral tertentu, anti jamur dan anti oksidan.
 
 
Jelas, kata Erwin, kualitas bahan baku dan komposisi bahan baku akan mempengaruhi level kualitas (nutrisi maupun karakteristik fisik) dan harga pakan. “Yang pasti adalah bagaimana kita sebagai praktisi atau pabrikan memformulasi pakan sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan/udang untuk tumbuh optimal pada stadia hidup mereka. Juga disesuaikan dengan sistem pemeliharaan mereka sehingga bisa meminimalisir limbah/metabolit yang dikeluarkan,” jelas Erwin.
 
 
Soal bahan baku pakan juga dijelaskan Nadira Widyapuspita dari Team Aqua Technical Development Grobest Indonesia. Ia mengungkapkan, pakan akuakultur membutuhkan bahan-bahan yang terbuat dari sumber pelagis (ikan laut) dan agrikultur (pertanian). Pada pakan pabrikan yang terpenting adalah mempertahankan nutrien, kandungan bahan esensial, dan asam amino yang terkandung mulai dari bahan baku sampai terbentuk menjadi pelet atau lainnya. 
 
 
Tujuannya, kata Nadira, tidak lain agar udang/ikan terpenuhi dapat tumbuh optimal dan sehat, serta memperhatikan kesehatan manusia sebagai konsumen dari ikan dan udang tersebut. Menurut Nadira, adanya isu lingkungan dan sustainability memicu pesatnya teknologi konversi protein berbasis kelautan (marine/pelagic) ke arah protein berbasis agriculture dengan keuntungan harga yang lebih rendah.
 
 
Namun, lanjutnya, kualitas menjadi tantangan. Mengingat, beberapa kasus di dalam transisi perubahan sumber protein dan budidaya salmon di Eropa yang berhasil melewati masa transisi yang sarat dengan pengembangan teknologi dalam mengatasi hambatan kualitas (misal: isu anti nutrisi). “Pada akhirnya kecepatan transisi yang dikawal pengembangan teknologi diharapkan bisa menekan banyak biaya produksi, harga pakan menjadi lebih baik dan produktivitas tambak meningkat,” kata Nadira.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-92/15 Januari – 14 Februari 2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain