Rabu, 15 Januari 2020

Mengukur Bisnis Pakan Akuakultur

Mengukur Bisnis Pakan Akuakultur

Foto: trobos


Tren bisnis pakan akuakultur terus tumbuh menopang perkembangan usaha budidaya perikanan nasional
 
 
Layaknya orang bercermin, pertumbuhan bisnis pakan akuakultur (budidaya perikanan) menunjukkan perkembangan bisnis akukultur itu sendiri. Hal ini tak lain karena pakan merupakan punya peran besar dalam keberhasilan budidaya perikanan. Faktanya pakan menentukan pertumbuhan ikan, efisiensi produksi, dan lebih dari 60 % biaya produksi adalah dari pakan. 
 
 
Ikan dapat hidup dengan pakan alamiahnya. Namun jika diperlukan untuk ikan bertumbuh dengan target waktu tertentu (ADG/Average Daily Gain) dan mencapai ukuran sesuai permintaan pasar  dengan standar baik, maka tentunya pakan yang tersedia dari alam tidak mencukupi baik dari segi ketersediaan volume maupun kecukupan protein, mineral, dan vitamin. Pakan buatan dapat memenuhi kebutuhan ini sehingga sangat diperlukan dan penting untuk menjamin keberlangsungan usaha akuakultur dan memenuhi permintaan konsumen akan produk hasil budidaya. 
 
 
Tren Pertumbuhan
Lalu seberapa tumbuhkah bisnis pakan akukultur selama ini? Data GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) Divisi Akuakultur menunjukkan, sepanjang 10 tahun terakhir daya serap pakan akuakultur nasional mengalamai tren meningkat antara 3 sampai 5 % per tahun (lihat tabel). Fluktuasi produksi pakan nasional lebih banyak terjadi pada komoditas udang, sementara pakan komoditas ikan trennya terus meningkat dan ikut mendorong peningkatan pakan secara total.
 
 
Ketua GPMT, Deny Mulyono mengungkapkan, pada 2018 total konsumsi pakan akuakultur dari pabrik pakan anggota GPMT adalah sekitar 1.665.400 ton, angka ini meningkat dari 2017 yang sejumlah 1.555.939 ton. “Komoditas ikan tetap yang dominan tumbuh dengan jumlah konsumsi pakan 1.382.534 ton dan pakan udang sebesar  282.866 ton,” ungkap Deny kepada TROBOS Aqua. 
 
 
Ditambahkan Marketing Manager PT New Hope Aqua Feed Indonesia (anggota GPMT), Martin W Hutagalung, data dari semester 1 pada 2019 menunjukkan konsumsi pakan akuakultur nasional sebesar 887.983 ton. “Angka ini masih berubah mengikuti daya serap pasar pakan nasional sampai akhir 2019,” ujar Martin.
Lebih lanjut dijelaskan Deny, jenis komoditas pakan yang mendominasi masih untul ikan lele, nila, mas, bandeng, patin, dan udang. Sebaran pakan sekitar 70 % adalah di Pulau Jawa dan Sumatera, 30 % lainnya tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa tenggara Timur, Papua, dan wilayah lainnya.
 
 
Martin ikut menjelaskan, ikan lele masih manjadi primadona budidaya sejauh ini dengan komposisi pangsa pasar pakan sekitar 25 % dari total konsumsi pakan akuakultur. Tumbuh pesatnya budidaya lele tentunya mengikuti pertumbuhan permintaan konsumen akan ikan air tawar ini. “Usaha budidaya lele perputarannya cepat, pasarnya tumbuh karena harga ikan ini relatif terjangkau,” kata Martin.
 
 
Tak heran jika di bagai daerah mulau Pulau Sumatera, apalagi Jawa, Bali, dan Kalimantan kian tumbuh sentra-sentra budidaya lele. “Ikan berkumis ini juga teknis pemeliharaannya relatif mudah tidak memerlukan lahan yang terlalu luas,” ujar Martin.
 
 
Setelah lele, menurut Martin, komoditas yang juga tumbuh cukup signifikan yaitu ikan nila dan patin. Ikan nila kini juga kian banyak penggemar atau konsumennya di berbagai daerah. Ikan ini direspon cukup baik untuk pasar dalam dan luar negeri. Ikan ini cocok masuk dalam kelas hidangan murah sampai mahal karena bisa di fillet (daging tanpa tulang).
 
 
Ikan nila kian jadi primadona pembudidaya di Keramba Jaring Apung (KJA) perairan umum seperti danau dan waduk di berbagai daerah. Sementara ikan mas cenderung stagnan karena pasarnya lebih terbatas di Sumatera dan Jawa barat dan daya tahan budidayanya kalah baik dengan nila di perairan umum.
 
 
Sementara udang, kata Martin, daya serap pakannya cenderung fluktuatif. Apalagi pada 2017 sempat tertekan konsumsi pakan udang nasional. Hal ini salah satunya dipengaruhi berhentinya produksi tambak integrasi besar di Lampung. “Tapi setelah itu 2 tahun terakhir daya serap pakan udang mulai pulih, hal ini didukung tumbuhnya sentra-sentra baru budidaya udang di daerah lainnya,” kata Martin.
 
 
Ia menambahkan, budidaya udang yang menggiurkan dari sisi margin keuntungan meski juga punya potensi risiko besar, ditambah dukungan teknologi digitalisasi budidaya yang kian canggih menarik banyak investor baru. Kaum milenial yang sudah banyak melek teknologi mulai banyak yang masuk dibisnis budidaya udang dengan menerapkan teknologi baru dengan harapan bisa menekan risiko budidaya.
 
 
Permintaan & Pasokan
Pertumbuhan bisnis pakan akuakultur jelas mengikuti tren permintaan pasar atau pertumbuhan usaha budidaya itu sendiri. Head of Unit Aquafeed PT Indojaya Agrinusa (produsen pakan akuakultur) Sumatera Utara, Khamizul Q. Harahap menilai, secara umum permintaan dan suplai pakan masih seimbang khususnya di wilayah seperti Pulau Jawa. Hal ini karena dominan pabrik pakan terdapat di sana.
 
 
Namun, lanjut  Khamizul, di musim puncak budidaya biasanya suplai ini akan kurang. Hal ini biasa terjadi diawal dan pertengahan tahun. Dimana biasanya kualitas dan kuantitas air cukup melimpah serta tingkat ketersediaan benih juga tinggi. Sementara kebutuhan pakan di luar pulau Jawa masih banyak yang tergantung dari suplai dari pabrik Pulau Jawa. Sehingga suplai untuk kebutuhan pakan di luar Pulau Jawa terkadang tidak tercukupi.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-92/15 Januari – 14 Februari 2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain