Kamis, 9 Januari 2020

Kematian Ikan Massal Kembali Terjadi di Way Rarem

Kematian Ikan Massal Kembali Terjadi di Way Rarem

Foto: dok.datuk


Lampung Utara (TROBOSAQUA.COM). Kematian ratusan ton ikan mas (Cyprinus carpio) di keramba Bendungan Way Rarem kembali terjadi.

 

Peristiwa itu merugikan ratusan pembudidaya ikan di bendung yang berada di kecamatan Abung Pekurun, kabupaten Lampung Utara, mulai terjadi sejak pekan pertama  Januari 2020.

 

Hanafi, pembudidaya ikan mas pada Rabu (8/1) menyatakan, kematian mulai muncul sehari setelah hujan pada malam tahun baru 2020. Ikan terlihat mengambang di beberapa KJA di areal pertemuan antara anak sungai Way Rarem dengan Way Galih. Kematian bertambah dari hari-ke hari, dan secara geografis volume kematian ikan semakin banyak ke arah bendungan.

 

“Seminggu sebelum kejadian pengelola bendungan mulai membuka pintu air sehingga mulai ada arus air keluar bendungan. Namun pada saat bersamaan mulai masuk air berlumpur dari ulu sungai akibat hujan lebat,” ujar Hanafi.

 

Dia menduga, air lumpur dari hulu sungai banyak membawa bahan-bahan berbahaya, seperti sisa-sisa racun rumput, pupuk dan bahan-bahan lainnya dari kebun singkong, lada dan karet yang banyak diusahakan warga di bukit-bukit sekitar bendungan.  

 

“Ini berbeda dengan kematian massal ikan terakhir pada bulan November 2018 yang terjadi pada penghujung musim kemarau. Saat itu ikan yang mati tidak sebanyak sekarang,” lanjutnya.

 

Ditambahkan Hanafi, akhir Juli 2017 juga terjadi kematian massal ikan. Saat itu sempat diteliti oleh tim Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung. Disimpulkan, saat itu kematian disebabkan karena ikan keracunan amoniak.

 

Berhari-hari

Andi Pradika, pembudidaya ikan mas lainnya menyatakan, ikan mati massal di keramba miliknya sejak Rabu (1/1) hingga Jumat (3/1). Namun di keramba pembudidaya lainnya hingga Senin (6/1) masih ada yang mati. “Saat ini sudah tidak ada lagi ikan yang mati di keramba saya. Ikan mati tiga hari berturut-turut,” ujar Inca—panggilan akrabnya, Rabu (8/1).

 

Inca mengatakan, kematian ikan mendadak tersebut menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya tahun 2018 dan 2017. Inca mengaku, saat itu hanya ikan di kerambanya yang mati, sementara tahun ini hampir semua keramba mengalami.

 

Inca baru menebar bibit ikan nila dan emas sebanyak 10,8 ton yang disebar di delapan keramba. "Satu kolam paling sisa 50 kilogram yang masih hidup ikannya," kata dia.

 

Inca memperkirakan, ikan yang mati mencapai ratusan ton dan tercium bau menyengat bangkai ikan. Hanya sebagian kecil pembudidaya yang masih bisa menjual ikan mati kepada warga dengan harga Rp 10 ribu/kg. Padahal jika ikan masih dalam kondisi hdup harganya mencapai Rp 20 ribu/kg.

 

Pembudidaya yang juga agen pakan ikan ini menduga, selain faktor cuaca, kematian massal ikan ini juga disebabkan limbah pabrik pengolahan batu split yang berada di ulu sungai Way Galih. “Lumpur yang dibawa arus sungai Way Galih sehabis hujan malam tahun baru berwarna kuning. Masuk ke bendungan sehingga membuat ikan jadi mabok,” ungkapnya.

 

Bambang Nurdiyanto, Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Praktisi Aquakultur (FKPA) yang ikut meninjau ke lokasi sependapat dengan pembudidaya mengenai dugaan faktor penyebabnya. Karena kejadiannya sudah berulang setiap tahun, Bambang minta pembudidaya mengantisipasinya melalui dua cara.

 

Pertama dari sisi eksternal dengan cara meningkatkan oksigen terlarut melalui pemasangan kincir dan microbubble. “Yang penting bagaimana caranya agar DO selama musim pancaroba ini naik,” ujarnya di dampingi Wakil Sekrtaris Jenderal FKPA Darus Sany. Yang kedua, dari sisi internal dengan memperkuat daya tahan tubuh ikan melaui asupan mineral dan vitamin.

 

Tim FKPA membawa sampel air dari keramba untuk diteliti di laboratorium Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung guna mengetahui kandungan mikrobiologi pada air tersebut yang diduga menjadi penyebab kematian massal ikan. ed/datuk

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain