Selasa, 31 Desember 2019

Belum Final, Opsi Ekspor Benih Lobster Masih Dikaji

Belum Final, Opsi Ekspor Benih Lobster Masih Dikaji

Foto: ist/dok.KKP


Lombok (TROBOSAQUA.COM). Pemerintah belum memutuskan kebolehan opsi ekspor benih lobster tangkapan nelayan, karena masih melakukan kajian dan belum mengerucut menjadi kesimpulan yang dituangkan dalam revisi beleid yang mengatur larangan ekspor benih lobster.

 

“Jika saat ini di media dan ruang publik banyak sekali narasi-narasi yang menyudutkan saya terkait rencana dibukanya ekspor benih, saya tegaskan itu hanyalah salah satu opsi yang muncul dari beberapa dialog dengan masyarakat nelayan. Sampai saat ini belum ada keputusan final apapun berkaitan dengan isu tersebut. Sekali lagi, saya tidak ingin buru-buru ambil keputusan sebelum pertimbangan baik buruknya benar-benar matang" tegas Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo saat meninjau pembesaran benih lobster di Telong Elong dan Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Kamis (26/12).

 

Namun ia meyakini, pemanfaatan benih lobster untuk kegiatan budidaya jelas harus didorong. Jika Vietnam mampu membangun pembesarannya, Indonesia harus lebih mampu dan menguasai pasar lobster konsumsi dunia yang nilai ekonominya sangat besar.

 

“Kalau perlu sampai pada tahap budidaya. KKP akan bekerja sama dengan ACIAR dan Universitas Tasmania yang telah berhasil membenihkan dan membudidayakan lobster secara berkelanjutan dan tidak merusak plasma nutfah lobster alam," lanjutnya.

 

Menteri Edhy menjelaskan, pengembangan budidaya ini tidak hanya untuk memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga berperan sebagai buffer stock, yaitu melalui pengaturan kewajiban restocking pada fase tertentu.

 

"Kami juga akan segera menyusun roadmap pengembangan industri lobster nasional dengan melibatkan seluruh stakeholder terkait. Kajian stok, pengaturan area tangkap lestari, pemetaan ruang untuk budidaya, penyiapan teknologi, investasi, dan lain lain akan mulai kita susun strateginya," cetusnya.

 

Ditegaskan Edhy, perikanan budidaya (akuakultur) jika dikelola dengan bijaksana dapat menghasilkan nilai tambah, memperkerjakan banyak orang, dan menyejahterakan masyarakat, serta menambah devisa negara. Selain itu, akuakultur juga berperan pada peningkatan pangan berprotein tinggi bagi masyarakat untuk mengentaskan persoalan kekurangan gizi stunting.

 

Maka dia mengajak peneliti, perekayasa, dan akuakulturist untuk terus berinovasi untuk menciptakan keberhasilan pembenihan (breeding) lobster dan membuat indukan unggul, sehingga ke depan budidaya lobster tidak lagi mengandalkan induk matang telur dari alam namun menggunakan indukan lobster dari hasil breeding yang terprogram.

 

Dengan pertemuan iklim usaha akuakultur yang kondusif bisa terwujud. Ia meyakini, strategi dan kerja sama yang baik antara pemerintah dan stakeholder dapat menunjang keberhasilan program ini.

 

"Pada periode kepemimpinan saya, saya ingin memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar berbasis pada kajian ilmiah dan peran partisipasi publik, sehingga arahnya jelas yakni keberpihakan pada masyarakat dan pelestarian sumber daya lobster," terang Menteri Edhy.

 

Perairan selatan NTB merupakan salah satu hotspot kelimpahan benih lobster yang luar biasa di samping perairan selatan Jawa dan pantai barat Sumatera. Berbagai hasil kajian termasuk hasil studi kolaborasi KKP dalam hal ini Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) menyebutkan, diperkirakan ratusan juta benih lobster per tahun dihasilkan di area hotspot tersebut.

Sementara di hotspot ini terjadi sink population, di mana populasi benih lobster tiba-tiba lenyap pada fase peurelus, dengan kelangsungan hidup (survival rate, SR) hanya 0,01% (1 ekor yang hidup sampai dewasa dari 10.000 ekor benih).

 

Dorong Peningkatan Perikanan Budidaya

Menteri Edhy juga mengungkapkan, saat ini, KKP tengah mengkaji ulang berbagai aturan yang dipandang kurang menguntungkan bagi stakeholder. Ini sejalan dengan keinginan Presiden agar aturan-aturan yang berkaitan dengan investasi perlu dipemudah. Tentunya ini harus dipertimbangkan dengan kajian dan masukkan dari seluruh stakeholder terkait.

 

"Saya berkeliling ke sentra-sentra produksi akuakultur. Tentu tujuannya untuk mendengar masukan, keluhan, dan saran dari stakeholder sebagai bahan referensi kami dalam menyusun arah kebijakan sektor akuakultur nasional," ujarnya.

 

KKP akan membangun sentra akuakultur berbasis kawasan dan komoditas unggulan, terutama untuk orientasi ekspor seperti udang, rumput laut, patin, dan komoditas akuakultur lainnya yakni melalui pengembangan integrated aquaculture business.

 

Edhy meyakini konsep integrated aquaculture business menjadi strategi efektif yang akan didorong dalam upaya menjamin siklus bisnis perikanan budidaya yang efisien, bernilai tambah, dan memberikan multiplier effect bagi pergerakan ekonomi lokal di daerah-daerah yang berbasis sumber daya perikanan budidaya, misalnya pengembangan patin di Sumatera Selatan. Strategi ini harus berbasis kawasan dan komoditas unggulan di berbagai daerah potensial dengan pengelolaan sistem produksi yang integratif.

 

"Saya melihat ada harapan dan optimisme dari seluruh stakeholder di sini. Ini menjadi semangat kami untuk memberikan yang terbaik bagi kemaslahatan para pelaku perikanan, khususnya para pembudidaya ikan," ujarnya. ist/ed/ntr

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain