Jumat, 27 Desember 2019

Blooming Plankton di Pesibar Membahayakan Tambak Udang

Blooming Plankton di Pesibar Membahayakan Tambak Udang

Foto: istimewa
Air laut yang memancarkan warna kebiruan pada malam hari akibat fenomena

Lampung (TROBOSAQUA.COM). Dominasi plankton Dynoflagelata jenis Gonyaulx sp pada fenomena red tides di perairan kabupaten Pesisir Barat (Pesibar), provinsi Lampung, belakangan ini membahayakan budidaya udang dan ikan.

 

Sifat plankton yang masif dan mengeluarkan lendir tersebut menutup insang sehingga biota tidak mampu menyerap oksigen. Hal itu disimpulkan dari pemeriksaan laboratorium Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung terhadap sampel air dari perairan pekon (desa-red) Tanjung Rejo, kecamatan Bengkunat, kabupaten Pesibar, provinsi Lampung. Pengambilan sampel dan pengujian lab tersebut hasil kerjasama Forum Komunikasi Praktisi Aquakultur (FKPA) dengan BBPBL.

 

“Hasil analisis laboratorium menunjukan bahwa perairan didominisasi Dynoflagelata jenis Gonyaulax Sp dengan konsentrasi 5,1 x 105, Protoperydinium 1,5x103 dan jenis plankton lainya dalam range 101 dan 102,” ujar Ketua Ketua Umum FKPA Hanung Hernadi di Bandarlampung, Selasa (24/12).

 

Menurut dia plankton ini tidak menghasilkan toksik yang berbahaya bagi manusia, tetapi bagi budidayaudang cukup berbahaya karena lendir yang dihasilkan menutup insang sehingga biota mengalami kendala dalam menyerap oksigen.

 

Mengacu kondisi tersebut Hanung menyarankan kepada teknisi tambak udang untuk tidak memasukan air laur ke dalam kolam budidaya jika dominasi plankton jenis tersebut masih terlihat secara visual di perairan. Dominasi tersebut akan hilang lebih cepat jika sering turun hujan.

 

Menurut Hanung, hingga kini belum ada laporan, udang di tambak yang  mengalami kematian akibat blooming plankton tersebut. “Namun berdasarkan pengamatan warga, pada Sabtu pagi warna air laut sudah kembali normal. Lantas, Senin pagi, warna air laut berubah menjadi coklat lagi. Ini artinya plankton masih blooming,” ungkapnya.

 

Di tempat terpisah Muawanah, Penyelia Laboratorium Kualitas Air BBPBL Lampung menambahkan, jenis Gonyaulax Sp tidak menghasilkan toksik, baik bagi kekerangan, ikan, udang dan biota laut lainnya sehingga hasil laut aman untuk dikonsumsi selama dalam kondisi segar.

 

“Dari pembedahan ikan yang kami lakukan untuk mengetahui kondisi organ bagian dalam ikan terlihat hati agak pucat dan insang mengalami gangguan fungsi akibat tertutup lendir,” tutur Muawanah yang terjun langsung mengambil sampel air, akhir pekan lalu.

 

Dari pemeriksaan kualitas air secara kimia, semua parameter yang diukur masih memenuhi standar baku mutu perairan. “Artinya tidak ada penurunan kualitas air,” lanjutnya.

 

Dijelaskannya, kemunculan jenis tersebut akibat curah hujan yang tinggi yang sifatnya insidental, dan tidak ada hujan lagi beberapa hari setelahnya. Jika terjadi hujan terus menerus jenis ini akan lebih cepat hilang atau mati.

 

Pada Jumat (20/12) bekerja sama dengan pihak BBPBL, tim FKPA menuju lokasi titik pengambilan sampel di perairan Bengkunat Pesisir Barat. Tindakan yang dilakukan adalah melakukan pengamatan visual perairan, pengambilan sampel air dan pembedahan ikan yang ditemukan.

 

Dari pengamatan visual non-laboratoris diindikasikan perairan mengalami blooming plankton jenis Dinoflagelta atau sering disebut red tide. Sampel air dibawa ke laboratorium BBPBL untuk dianalisis lebih lanjut secara mikroskopis, mulai dari biologi dan kimia air. ed/datuk

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain