Minggu, 15 Desember 2019

Prof. Johannes Hutabarat: Biofilter Akuaponik Sistem RAS Budidaya Nila *

Prof. Johannes Hutabarat: Biofilter Akuaponik Sistem RAS Budidaya Nila *

Foto: trobos
Prof. Johannes Hutabarat

Ikan nila (Oreochromis niloticus) menjadi salah satu jenis ikan air tawar  yang sangat diminati oleh pasar internasional ekonomis.  Food and Agriculture Organization/FAO of the United Nations (2017), melaporkan bahwa permintaan impor ikan nila oleh negara anggota Uni Eropa mampu dipenuhi negara Indonesia dengan nilai ekspor sebesar US $6,20 per kg.
 
 
Ikan nila memiliki kandungan nutrisi dengan nilai 17,40 % protein, 0,57 % lemak, 80,90 % kadar air, dan 0,22 % karbohidrat. Kadar mineral (Ca, Mg, K, Fe, Zn, Na) dalam tubuh ikan nila juga dilaporkan pada angka 28,3 mg/100 g, 11,9 mg/100 g, 17,1 mg/100 g, 151,0 mg/100 g, 67,1 mg/100 g, dan 13,0 mg/100 g. 
 
 
Potensi pasar internasional yang dimiliki ikan nila menjadi dasar dalam program nasional peningkatkan produksi ikan nila melalui budidaya intensif.  Peningkatan budidaya intensif  akan berbanding lurus dengan peningkatan limbah air budidaya yang berasal dari sisa pakan yang tidak termakan, kotoran ikan, sehingga dapat mengganggu kualitas air budidaya dan  pertumbuhan ikan nila.
 
 
Pengelolaan air sebagai media budidaya dapat dilakukan melalui penerapan sistem resirkulas dan  pengolahan air budidaya dengan filter fisik, kimia, dan biologi Filter yang digunakan dapat berupa tanaman sebagai biofilter/filter biologi. Penggunaan biofilter tanaman dalam sistem resirkulasi dikategorikan sebagai sistem akuaponik yaitu mengintegrasikan sistem akuakultur dan sistem hidroponik ke dalam satu sirkulasi air yang sama. Dalam sistem hidroponik,  biofilter  tanaman yang digunakan diharapkan mampu menjaga kualitas air budidaya sehingga ikan yang dibudidayakan mampu tumbuh optimal 
 
 
Food and Agriculture Organization/FAO of the United Nations (2014), menjelaskan bahwa pemilihan jenis tanaman dalam sistem akuaponik berkaitan dengan kemampuan penyerapan limbah air budidaya oleh tanaman. Jenis tanaman yang digunakan harus memiliki kemampuan untuk mengakumulasi dan mengolah limbah air budidaya, sehingga mampu menghilangkan sifat toksik dalam limbah. 
 
 
Jenis tanaman yang digunakan dalam sistem akuaponik terbagi menjadi 2 kategori, yaitu leafy green crops dan vegetable crops. Pemilihan kategori jenis tanaman tergantung lama waktu sistem akuaponik akan dijalankan dan efektivitas pengolahan limbah oleh masing masing jenis tanaman. Semakin efektif  kemampuan pengolahan limbah oleh tanaman, maka semakin tinggi nutrien yang dibutuhkan oleh tanaman. Dengan demikian akan semakin besar  limbah air budidaya yang akan diserap, diakumulasi, dan diolah oleh tanaman yang digunakan dalam sistem  akuaponik.
 
 
Pemilihan tanaman dalam sistem akuaponik dibagi menjadi  3 kelompok yaitu low nutrient demand, medium nutrient demand, dan high nutrient demand. Leafy green crops merupakan contoh tanaman dengan low nutrient demand, sedangkan vegetable crops merupakan contoh tanaman dengan medium dan high nutrient demand.
 
 
Penelitian sistem akuaponik  menggunakan leafy green crops, dengan jenis tanaman yang berbeda yaitu tanaman kangkung air (Ipomoea aquatica) dan tanaman caisim (Brassica juncea) dalam budidaya benih lele (Clarias sp.) dengan bobot awal 0,35 gram, dan periode budidaya 42 hari, menghasilkan  nilai RGR benih lele yang lebih tinggi pada budidaya dengan sistem akuaponik : 13,40±017 %/hari. Sementara pada budidaya tanpa sistem akuaponik nilai RGR  :9,50±0,14 %/hari
 
 
Berdasarkan uraian di atas  maka penggunaan Leafy green crops  sebagai  jenis tanaman  yang digunakan dalam  sistem akuaponik merupakan jenis tanaman yang tepat untuk budidaya jangka pendek.  Contoh tanaman  leafy green crops yang umum digunakan dalam sistem akuaponik : pakchoi (Brassica rapa), kangkung air (Ipomoea aquatica), dan caisim (Brassica juncea). Ketiga jenis tanaman tersebut memiliki nilai ekonomi untuk diperjualbelikan dan memiliki kemampuan penyerapan serta pengolahan limbah air budidaya yang baik. Pada penelitian yang dilakukan oleh Hapsari, B.M dkk (2019) digunakan leafy green crops dari berbagai jenis tanaman air yaitu pakchoi (PC), kangkung air (KA), dan caisim  (CI) pada sistem akuaponik sebagai biofilter pada budidaya ikan nila sistem resirkulasi air. 
 
 
Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa  jenis tanaman air (akuaponik) sebagai biofilter tanaman dalam menyerap air limbah  (yang diukur  VTR -Volumetric TAN Removal  g/m3/hari,  sebagai indikator kinerja  biofilter) selama  30 hari pemeliharaan mempunya kemampuan secara signifikan. Berbeda VTR utk PC : 38,34 -50.14 -g/m3/hari ;  KA : 94,97-107,36g/m3/hari dan 76.09 – 89,66 g/m3/hari.
 
 
Sedangkan kemampuan menyerap limbah (VTR) dari ke 3 jenis tanaman air memberikan pengaruh yang berbeda  terhadap pertumbuhan relatif ikan nila ( RGR). Nilai RGR utk PC :0,85%/hari. KA :1,23%/hari dan CI : 1,07%/hari dengan nilai kelangsungan hidup (SR)  untuk PC : 77,78%; KA : 83,33 dan CI : 82,22%
Uraian di atas memberikan bukti bahwa penggunaan biofilter  berbagai jenis tanaman  air pada sistem akuaponik dalam budidaya ikan nila cukup effektif dalam menurunkan limbah dalam air budidaya, sehingga dapat memacu pertumbuhan (RGR) dan kelangsungan hidup ikan Nila. tanaman kangkung air  merupakan tanaman air yang paling efektif dalam menurunkan limbah air sebagai biofilter tanaman dalan sistem RAS.
 
 
 
*Guru Besar Fakultas Kelautan & Ilmu Perikanan
Universitas Diponegoro
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain