Minggu, 15 Desember 2019

Vannamei Skala Backyard

Vannamei Skala Backyard

Foto: rizki


Cukup dengan kolam diameter 3 meter, budidaya udang vannamei ini nilai investasinya jauh lebih hemat jika dibandingkan dengan petakan tambak
 
 
Budidaya udang vannamei masih terus dikembangkan, mengingat peluang pasar ekspor yang masih sangat terbuka lebar. Berbagai teknologi dan penelitian terus dilakukan agar dapat menciptakan sebuah inovasi dalam budidayanya. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar produksi vannamei dalam negeri bisa meningkat dan sekaligus menjaga lingkungan tetap asri. 
 
 
Beberapa waktu lalu tim TROBOS Aqua bersama peserta pelatihan Bimbingan Teknis (Bimtek) dari Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang berkunjung ke Balai Layanan Usaha Produski Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang - Jawa Barat (Jabar). Dalam kegiatan bimtek tersebut, peserta disajikan mengenai budidaya udang di backyard (halaman) rumah. 
 
 
“Budidaya udang terus kami kembangkan BLUUPB, ada beberapa model yang dapat dilihat dari tradisional, semi intensif, hingga yang saat ini kita kembangkan adalah intensif skala backyard,” terang Herinto, Kepala Divisi budidaya udang di BLUPPB.
 
 
Skala backyard
Merunut perkembangannya, terang Herinto, budidaya udang yang kini dilakukan di dalam negeri semakin canggih. Dari mulai awalnya budidaya udang yang dilakukan hanya bersifat tradisional yang hanya mengandalkan pakan alami, kemudian berkembang menjadi semi intensif. 
 
 
Dalam semi intensif ini udang diberikan pakan buatan dan menggunakan kincir sebagai penyuplai oksigennya, yang hingga kini berkembang menjadi intensif. Dimana kolam-kolam atau petakan tambak sudah dilapisi oleh High Density Polyethylene (HDPE), dengan tujuan manajemen kualitas air bisa dilakukan dengan mudah.
 
 
“Dengan beberapa alternatif pilihan teknologi budidaya udang dapat dilakukan, dengan menyesuaikan modal yang dimiliki oleh masing-masing, pasalnya semakin tinggi teknologinya akan semakin besar pula biaya investasinya,” ungkap Herinto siang itu. Imbuhnya, pihaknya juga mencoba menginisiasi bagaimana jika mempunyai lahan yang terbatas namun masih bisa melakukan budidaya udang vannamei. Maka tercetuslah untuk melakukan budiadaya udang skala backyard rumah.
 
 
Budidayanya, kata Herinto, telah diaplikasikan di BLUPPB dengan hanya menggunakan lahan sekitar 250 meter persegi (m2). Kolam yang digunakan berupa kolam terpal berbahan terpaulin Polivinil klorida (PVC), atau yang lebih umum dikenal di kalangan pembudidaya adalah terpal karet.
 
 
Sebanyak 12 Kolam terpal yang digunakan berdiameter 3 meter (m) dengan ketinggian kolam sekitar 180-200 centimeter (cm). Kemudian sebagai penyangga tekanan airnya atau rangkanya berupa besi wiremesh (rangkaian besi yang terdiri dari baris paralel dan kolom kawat yang saling berpotongan). “Pemilihan kolam terpal bundar dengan diameter 3 m didasari untuk meminimalisari biaya investasi yang dikeluarkan, sehingga masyarakat pesisir bisa menerapkannya,” tutur Herinto. 
 
 
Sekeliling kolam terpal tersebut, ia katakan, ditutup menggunakan paranet (tali plastik yang dirajut) dengan cara membuat kerangka atap dan dinding yang berjarak sekitar 1 – 1,5 m di atas pemukaan kolam. Hal ini dilakukan dengan tujuan meminimlisir hama dan masuknya air hujan secara langsung, serta menurunkan intensitas cahaya matahari yang langsung masuk ke dalam kolam. 
 
 
“Mengingat ukuran kolam yang tidak besar seperti tambak, perlu diberikan paranet sebagai penyaring sinar matahari. Memang kita butuh sinar matahari untuk perkembangan bakteri, namun jika berlebihan, suhu air kolam akan meningkat tinggi,” ungkapnya. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-91/15 Desember 2019 – 14 Januari 2020
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain