Minggu, 15 Desember 2019

Investasi Udang Cara Milenial

Investasi Udang Cara Milenial

Foto: trobos


Kehadiran beragam perusahaan rintisan di bidang investasi untuk tambak udang, bisa jadi pilihan bagi masyarakat yang ingin berinvestasi
 
 
Salah satu elemen penting untuk menumbuhkan industri budidaya udang nasional adalah permodalan. Budidaya udang tergolong usaha yang padat modal, sehingga tidak semua orang punya kemampuan finansial yang kuat untuk berinvestasi. Cukup berbeda dengan jenis usaha budidaya ikan lainnya, seperti lele yang bisa dimulai dengan modal kecil.
 
 
“Masalahnya di Indonesia, ada orang punya uang tapi tidak punya lahan, tidak punya teknologi. Ada yang punya teknologi,` biasanya universitas, tapi tidak punya anggaran dan lahan. Ada yang punya lahan tapi tidak punya uang dan kemampuan teknis,” Direktur Perbenihan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Coco Kokarkin menggambarkan salah satu permasalahan di industri perudangan, yang disampaikannya di acara Digifish 2019 beberapa waktu lalu di Jakarta.
 
 
Ungkapan tersebut disampaikan Coco sebagai gambaran kondisi yang pernah dan masih terjadi. Keadaan itu ternyata berhasil memunculkan para inovator yang menawarkan solusi, melalui lahirnya beragam perusahaan rintisan (start up) teknologi finansial (tekfin) yang bergerak dalam jasa investasi tambak udang. “Ini (start up) yang akan menggabungkan (masalah tadi),” ujar Coco. 
 
 
Di sisi lain, sebelum kehadiran revolusi 4.0 yang membuat banyak hal jadi berbasis internet dan digital, bisnis tambak udang memang jarang diketahui secara luas oleh masyarakat umum. Berlokasi di pesisir-pesisir yang sudah pasti jauh dari kota, bisnis tambak udang biasanya hanya digarap pemodal besar, atau oleh masyarakat lokal dengan teknologi tradisonal. 
 
 
Tapi dalam beberapa tahun terakhir, telah bermunculan perusahaan rintisan yang menawarkan jasa investasi di tambak udang. Kehadiran start up di era milenial ini menjawab permasalahan yang disampaikan Direktur Perbenihan KKP tadi. Dan sekaligus membuat tambak udang menjadi lebih populer bagi masyarakat. Bahkan menjadi alternatif untuk berinvestasi. 
 
 
Model bisnis yang ditawarkan oleh start up itu beragam, ada Peer to Peer (P2P) lending yang mempertemukan investor (pemilik dana) dan petambak yang memerlukan dana. Ada juga yang berbasis jasa budidaya. Model P2P pun berbeda-beda, baik dari manajemen operasional, sistem kerjasama, hingga skema pembagian keuntungannya. 
 
 
Industri Mendukung
Perusahaan rintisan yang bergerak di P2P lending ini salah satunya adalah Growpal. Start up yang sudah berdiri dari 2016 ini memfokuskan diri pada pendanaan usaha di sektor perikanan. Mulai dari budidaya ikan air tawar, udang, hingga trading produk hasil perikanan. 
 
 
Chief Executive Officer (CEO) dan Co-Founder Growpal, Paundra Noorbaskoro menceritakan bahwa pihaknya menawarkan dua proyek utama kepada para investor yang ingin menyimpan uangnya di Growpal. Proyek perdagangan dan budidaya. Persentasenya saat ini masih besar proyek perdagangan. “Dalam targetnya sendiri, Growpal ingin supply base 50 %. Supply base itu budidaya,” ujarnya. Dari target 50 % budidaya itu, komoditas udang mencapai 25 - 30 %-nya. 
 
 
P2P lending lainnya yang bergerak di perudangan adalah Crowde. Berdasarkan portfolio bisnisnya, Crowde sebetulnya tidak hanya bermain di komoditas udang dan ikan, tetapi juga pertanian, peternakan, dan perdagangan. Menurut Aqua Project Crowde, Muhammad Hafidz, proyek pendanaan bidang perikanan mencapai 15 - 20 % dari total proyek yang ada. Pertanian masih terbesar dengan persentase 40 %. Peternakan dan perdagangan masing-masing sebesar 20 %. 
 
 
Udang vannamei memang sangat “seksi” untuk dijadikan pilihan investasi oleh para start up tersebut. Meski secara teknis budidaya udang memiliki risiko yang sangat tinggi, potensi keuntungan yang didapat cukup menjanjikan. Selain itu, ekosistem industri udang juga sudah cukup matang jika dibandingkan dengan komoditas perikanan lainnya. “Sejauh ini, ekosistem yang sudah ada pendukungnya itu udang,” ungkap Hafidz.
 
 
Ekosistem pendukung yang dimaksud Hafidz antara lain pasokan sarana dan prasarana seperti benur dan pakan, pendampingan dan konsultasi dari perusahaan pakan, penyedia IoT (internet of thing) untuk manajemen budidaya, hingga asuransi. Semua pendukung tersebut sudah ada pada udang, sehingga memudahkan manajemen produksinya. “Jadi walaupun udang high risk, tapi ekosistemnya sudah siap,” tegasnya.
 
 
Senada dengan Hafidz, Paundra juga mengamini bahwa ekosistem di industri udang sudah cukup matang. Terutama kepastian pasarnya, baik pasar ekspor maupun pasar domestik. “Karena pada prinsipnya kepastian pasar adalah faktor penting. Secara business feasibility, kenapa kita ngambil udang karena pasar terjamin,” ujar Paundra kepada TROBOS Aqua. Selain itu, alasan lain Growpal mengambil bisnis udang tentu karena marjin yang dihasilkan cukup tinggi. 
 
 
Hal yang sedikit berbeda disampaikan oleh perusahaan rintisan yang juga berbasis investasi udang, Mina Ceria. Menurut Chief Marketing Officer Mina Ceria, Rizky Maulana, awal mula perusahaannya menerima investasi dalam bentuk crowdfunding (urun dana) justru karena sebelumnya sudah memiliki bisnis tambak udang. 
 
 
Pada 2015, Mina Ceria sudah mulai merintis usaha tambak udang di Subang - Jawa Barat. Pemilihan komoditas udang, kata Rizky, karena sudah cukup familiar. Di awal-awal usahanya, banyak relasi dekat yang menitipkan uangnya untuk diinvestasikan. “Kami buka tambak, mereka nitip (uang), kami kelola. Hasilnya cukup baik. Bagi hasilnya cukup menarik bagi mereka,”katanya singkat. 
 
 
Para investor yang menitipkan uang tersebut ketagihan untuk kembali menitipkan dananya. Bahkan seiring tambaknya yang berkembang, orang-orang yang ingin menitipkan uang pun semakin banyak. “Maka dari situlah kami berpikir ini ada peluang dengan skema kerjasama investasi itu. Dan kami mendirikan Mina Ceria,” ungkap Rizky. 
 
 
Namun berbeda dengan Growpal dan Crowde, bisnis utama Mina Ceria bukanlah P2P lending yang menghubungkan investor dengan pembudidaya. Rizky menegaskan bahwa core business dari Mina Ceria adalah jasa budidaya udang. Pihaknya menerima investasi dari berbagai pihak untuk dijadikan modal operasional tambak yang dikelolanya. Mina Ceria bertanggung jawab langsung dalam pengelolaan tambak-tambaknya yang didanai itu.
 
 
Petambak Mitra
Ketiga perusahaan rintisan di atas memiliki perbedaan dalam detail kerjasama yang dilakukan, terutama dalam teknis produksi dan pembagian keuntungan. Paundra mengatakan bahwa setiap petambak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendanaan dari Growpal selama memenuhi syarat yang ditetapkan. Namun untuk meminimalisir dana investasi jatuh ke tangan yang tidak tepat, petambak yang ingin mengajukan pendanaan minimal sudah melakukan budidaya selama dua siklus. 
 
 
Proposal pendanaan dari petambak tidak selalu disetujui oleh Growpal. Perusahaan yang berpusat di Surabaya-Jawa Timur itu melakukan penilaian yang cukup prosedural. Mulai dari kondisi finansial, kondisi fisik tambak, lingkungan dan sosial di sekitar, akses pasar di sekitar tambak, hingga metode pembayaran dengan pembeli. “Kita lakukan scoring on procedure. Gak ketat sebetulnya. Yang penting terisi semua,” imbuh Paundra. 
 
 
Parameter penilaian tersebut penting untuk mengurangi risiko dan tantangan di lapangan. Parameter lingkungan tambak misalnya. Paundra mengatakan bahwa jika petambak mitra sudah menggunakan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang ketat, sementara tambak tetangga lebih “santai”, maka potensi penyebaran penyakit tetap besar. Sehingga akan lebih bagus jika lingkungan tambak di sekitar juga bagus. 
 
 
Persyaratan adminsitrasi yang serupa juga diterapkan oleh tim Crowde kepada calon petambak mitranya. Penilaian utama dari mereka adalah kelayakan petambak untuk menjalankan proyek budidaya udangnya. Dan yang terpenting, tegas Hafidz, mau mengikuti aturan yang diberlakukan oleh Crowde selama proyek pendanaan berlangsung. 
 
 
Meski sama-sama sebagai P2P lending, kedua perusahaan rintisan ini memiliki beberapa perbedaan dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Salah satunya dalam penerapan SOP budidaya. Hafidz mengaku, pihaknya memiliki SOP khusus yang telah dibuat oleh internal Crowde untuk diterapkan oleh para pembudidaya mitranya. SOP itu juga dikolaborasikan dengan SOP dari perusahaan pakan yang menjadi mitranya. 
 
 
Sebaliknya, Paundra justru memberikan kelonggaran kepada para petambak untuk menerapkan SOP yang sudah biasa digunakan petambak. Tapi harus sudah disepakati dulu bersama timnya. Bukan tanpa alasan, tujuan dari kebijakan ini, kata Paundra, agar petambak bertanggung jawab secara penuh terhadap proses budidaya yang dilakukan. “Mereka sudah teruji ya track record-nya. Kita juga gak mau jadi sok pintar lah ya,” ungkapnya. Namun ia juga tetap memiliki tim teknis yang bisa memberikan masukan soal budidaya kepada para petambak mitra. 
 
 
Besaran pengajuan yang dilakukan oleh calon petambak mitra bervariasi. Di Crowde, kata Hafidz, maksimal dana yang diajukan dalam pengajuan pertama itu sebesar Rp 200 juta. Modal sebesar itu biasanya untuk biaya operasional 1 - 2 kolam berukuran dua ribuan meter persegi. “Tergantung juga sama padat tebarnya,” tambah Hafidz. Mitra Crowde sendiri saat ini banyak tersebar di daerah Jawa Tengah (Jateng), baik di pantai utara maupun selatan. 
 
 
 
 
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain