Sabtu, 30 Nopember 2019

Akselerasi Budidaya Udang, Komoditas Andalan Ekspor

Akselerasi Budidaya Udang, Komoditas Andalan Ekspor

Foto: ist/dok.DJPB-KKP


Jakarta (TROBOSAQUA.COM). Udang, sebagai komoditas andalan ekspor pada 2018 menyumbang devisa USD 1,27 miliar atau 36,96% dari total nilai ekspor perikanan.

 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan, padahal dari segi volume, ekspor udang hanya menyumbang 18,35% dari keseluruhan komoditas perikanan yang diekspor ke USA, Jepang, Belanda dan China. Pemerintah telah mencanangkan target peningkatan nilai ekspor udang sebanyak 250% hingga 2024.

 

Hal itu dikatakannya pada pelatihan bisnis budidaya udang vannamei skala ekspor berbasis teknologi di Jakarta (29/11). Dia optimis target tersebut dapat tercapai dalam waktu 5 tahun ke depan. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah investor, teknologi serta kecakapan pembudidaya dalam melakukan bisnis budidaya udang telah menunjukkan peningkatan yang menggembirakan.

 

“Menteri Kelautan dan Perikanan telah meminta kepada saya untuk meningkatkan produksi tambak mulai dari yang tradisional dengan melakukan transfer teknologi kepada pembudidaya. Selain teknologi, hal lain seperti penerapan SOP yang benar, sumber induk, sistem pembenihan, pengelolaan lingkungan hingga penanganan penyakit merupakan hal esensial yang harus diperhatikan dan diterapkan oleh pembudidaya,” jelas Slamet.

 

Dijelaskan Slamet, keberhasilan program budidaya udang yang berkelanjutan ini tidak dapat dipisahkan dari peran serta berbagai pihak. Untuk itu diperlukan sinergitas lintas sektor terutama dari sisi makro seperti dukungan dan kebijakan dari pemerintah daerah serta ketersediaan litrik dan BBM.

 

“Sedangkan dari sisi mikro seperti kualitas benih dan pakan, penyiapan wadah budidaya, optimaslisasi sarana produksi, hingga SDM yang mumpuni menjadi faktor yang menentukan keberhasilan dan keberlanjutan usaha,” papar Slamet.

 

Slamet menambahkan KKP juga memberikan bantuan program prioritas seperti Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP), bantuan alat berat, bantuan benih, Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil, dan penataan kawasan Budidaya Udang Berbasis Klasterisasi.

 

Sebagai percontohan KKP telah bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Mamuju Utara (kini Kabupaten Pasangkayu) membangun tambak udang semi intensif bebasis klaster sebanyak 2 klaster seluas 8 hektar di desa Sarjo, kecamatan Sarjo. Hasilnya, produktivitas tambak meningkat dari 50-200 kg/ha menjadi 5.000-10.000 kg/ha.

 

“Klaster kawasan budidaya udang  berkelanjutan juga akan dibangun di kabupaten Buol (Sulawesi Tengah), Gorontalo Utara (Gorontalo), Bone Bolango (Gorontalo), dan Bolang Mogondouw (Sulawesi Utara),” lanjut dia.

 

Sebagai diversifikasi komoditas, Ditjen Perikanan Budidaya juga mengembangkan udang asli Indonesia seperti udang Jerbung (Penaeus merguensis) dan udang putih (Panaeus indicus). Budidaya komoditas baru ini telah dilakukan uji multilokasi dengan hasil yang memuaskan. Tingkat penyakit pun masih dapat dikendalikan hingga saat ini.  Dua spesies udang ini tahun depan akan dimasyarakatkan dengan sistem budidaya berbasis lingkungan dan berkelanjutan.

 

Pengelolaan lingkungan  yang baik merupakan salah satu  elemen penting penerimaan pasar global terhadap produk udang Indonesia. “Dengan kedisiplinan, konsistensi dan keinginan untuk belajar yang kuat dari pembudidaya, saya optimis target yang dicanangkan oleh pemerintah dapat tercapai,” pungkas Slamet. ist/meilaka

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain