Minggu, 24 Nopember 2019

Ekspor Raya, 20.151 Ton Hasil Perikanan Dikirim ke 43 Negara

Ekspor Raya, 20.151 Ton Hasil Perikanan Dikirim ke 43 Negara

Foto: dok.KKP


Teluk Lamong (TROBOSAQUA.COM). Ekspor raya hasil perikanan mengapalkan 20.151 ton produk perikanan senilai USD 137,6 juta atau setara Rp 1,79 triliun. Hasil perikanan tersebut berasal dari 238 Unit Pengolahan Ikan, dikirim menggunakan 1.004 unit kontainer.

 

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo pada seremoni pelepasan ekspor raya bertema “Ekspor Hasil Perikanan sebagai Pendorong Industri Perikanan” di Pelabuhan Teluk Lamong pada Jumat (22/11) menyatakan, kegiatan ini dilaksanakan secara serentak oleh 35 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (KIPM).

 

Adapun komoditas yang diekspor antara lain rumput laut, tuna, tongkol, cakalang, rajungan, cumi, ikan terbang, surimi, kerang, kepiting, bawal, sidat, bekicot, paha kodok, kakap, kerapu, nila dan udang. Porsinya, 34,7 % merupakan hasil budidaya dan 65,3 % adalah hasil penangkapan. 

 

Kepala Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Rina menjelaskan ekspor hasil perikanan memperlihatkan peningkatan di setiap tahunnya. Pada triwulan III tahun 2019, ekspor hasil perikanan Indonesia mencapai 842.357 ton, dengan nilai sebesar USD3,52 miliar, di mana nilai tersebut meningkat sebesar 6,81 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2018,” jelasnya.

 

Industrialisasi sektor kelautan dan perikanan menjadi salah satu kebijakan pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Dalam rangka mendorong industrialisasi ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) bekerja sama dengan eksportir/unit pengolahan ikan (UPI), PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) dan pemangku kepentingan lainnya.

 

Menurut Edhy, para pelaku usaha merupakan ujung tombak perekonomian negara sehingga pemerintah memiliki kewajiban untuk melayani kebutuhan usaha mereka dengan baik. Salah satunya melalui penyederhanaan dan percepatan proses berbagai perizinan usaha.

 

“Tugas saya bagaimana melakukan upaya agar hal-hal yang buntu tidak terjadi, untuk melepaskan bottlenecking yang terjadi di mana-mana,” lanjutnya.

 

Menteri Edhy menilai, geliat industrialisasi sektor perikanan ini memang perlu didorong mengingat sektor perikanan berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional. Sebagaimana tercatat, kontribusi PDB Perikanan terhadap PDB Nasional menunjukkan peningkatan dari 2,32 % pada tahun 2014 menjadi 2,60 % pada tahun 2018. Nilai PDB Perikanan triwulan-III 2019 naik menjadi Rp 62,24 triliun dari Rp 58,58 triliun pada periode yang sama di 2018. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pendapatan pelaku usaha sektor perikanan.

 

Peningkatan PDB sektor perikanan ini merupakan dampak peningkatan produksi perikanan Indonesia. Pada tahun 2015, produksi perikanan tangkap mencapai 6,67 juta ton senilai Rp120,6 triliun meningkat menjadi 7,25 juta ton dengan nilai Rp 210,7 triliun di 2018. Sementara itu produksi perikanan budidaya sebesar 15,63 juta ton pada 2015 meningkat menjadi 17,25 juta ton di 2018 yang terdiri dari 6,88 juta ton ikan budidaya dan 10,37 juta ton rumput laut.

 

Sementara itu, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi yang hadir mewakili Menteri Keuangan menyampaikan apresiasi kegiatan ekspor raya ini. “Ini pastilah akan memperbaiki neraca perdagangan kita. Neraca perdagangan kita masih defisit sekitar USD1,9 juta. Dengan ekspor lebih dari 1.000 kontainer ini, mudah-mudahan bisa perbaiki sedikit demi sedikit neraca perdagangan yang pada akhirnya kita kembali surplus,” ucapnya.

 

Rina mengungkapkan, dalam rangka meningkatkan ekspor perikanan ini, salah satu tugas BKIPM adalah bertanggung jawab terhadap penjaminan kesehatan ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan. Hal ini dilakukan melalui pengendalian penerapan Cara Karantina Ikan yang baik (CKIB) di unit usaha pembudidaya ikan, penerapan sistem Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) di unit pengolahan ikan (UPI), dan penerbitan Health Certificate (HC) sebagai jaminan bahwa produk yang diekspor sehat dan aman untuk dikonsumsi manusia.

 

Dengan penjaminan ini, hasil perikanan Indonesia telah diterima 158 negara di dunia dan mampu bersaing di pasar internasional. Pasar utama produk perikanan Indonesia yaitu Amerika Serikat, serta berturut-turut diikuti oleh China, Jepang, Malaysia, Taiwan, Thailand, Singapura, Vietnam, Italia, dan Hong Kong. Adapun komoditas utama ekspor hasil perikanan Indonesia antara lain udang, tuna dan jenis pelagis lainnya, cumi-cumi/gurita, rajungan, ikan demersal, tilapia, serta rumput laut.

 

Oleh karena itu, pemerintah terus menyempurnakan penerapan layanan berbasis single submission, single inspection, dan single profile melalui sinkronisasi dan harmonisasi data penerbitan Health Certificate dari BKIPM dengan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) dari Ditjen Bea dan Cukai. Sinergi ini dapat berjalan baik karena didukung oleh peran Pengelola Portal Indonesia National Single Window (PP-INSW) yang menyediakan layanan sistem elektronik yang terintegrasi.

 

Sebagai informasi, Pelabuhan Teluk Lamong merupakan pelabuhan pertama di Indonesia yang berkonsep green and smart port. Pelabuhan ini memiliki sistem operasional yang berbasis Information, Communication, and Technology (ICT) dengan peralatan berbasis otomasi. Dengan infrastruktur modern, kapasitas yang besar, serta sistem operasional berbasis digital, pelabuhan ini diharapkan dapat memberikan kemudahan dan percepatan dalam pelayanan. ist/meilaka

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain