Kamis, 14 Nopember 2019

China Impor 50% Kebutuhan Udangnya dari Ekuador

China Impor 50% Kebutuhan Udangnya dari Ekuador

Foto: istimewa/pixabay


China (TROBOSAQUA.COM). Pedagang online terbesar China, Alibaba, mencatat 13,6 juta penjualan udang Ekuador pada jam buka Singles Day - acara belanja online terbesar di dunia, pada tahun lalu.

 

Shrimpnews melaporkan permintaan udang China diperkirakan meningkat dua kali lipat antara tahun 2005 hingga 2015. Untuk memenuhi pertumbuhan ini, China semakin bergantung pada impor, terutama setelah wabah besar penyakit udang domestik mematikan pada era  2009 sampai 2012.

 

Sekitar setengah dari impor udang  China  berasal dari Ekuador, yang dalam beberapa tahun terakhir telah memposisikan dirinya sebagai penyedia udang yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi.

 

Tingginya impor udang asal Ekuador bukan hanya disebabkan pasokan domestik yang lebih rendah. Tetapi juga ditarik oleh peningkatan konsumsi, yang telah memicu permintaan produk makanan asal luar negeri yang dianggap lebih aman dan kualitasnya lebih baik.

 

Angka Fantastis

Laman Shrimpnews juga menuliskan, jumlah yang tepat dari produksi udang China terkenal sulit untuk ditentukan, karena angka resmi yang sering dilebih-lebihkan. Perkiraan tidak resmi berkisar antara 600.000 hingga 700.000 metrik ton per tahun, sementara lembaga pemerintah telah melaporkan angka lebih dari 2 juta ton.

 

Namun, semua orang setuju bahwa pasokan domestik China turun tajam antara 2009 dan 2012 karena early mortality syndrome (EMS). Menurut Rabobank, produksi Cina turun dari 1,2 juta metrik ton menjadi hanya 500.000 ton karena wabah EMS. EMS pertama kali dilaporkan di Cina Selatan pada tahun 2009, sebelum menyebar dengan cepat ke Vietnam, Malaysia dan Thailand. Petani di negara-negara tersebut melaporkan kerugian stok hingga 90%.

 

 

 

Sistem kekebalan udang yang relatif lemah secara parsial menjelaskan besarnya wabah EMS. Risiko biologis juga cenderung lebih tinggi di Asia karena prevalensi tambak intensif dan sebagian besar produsen udang adalah petambak skala kecil, kata Aaron McNevin, Global Aquaculture Lead di World Wildlife Fund (WWF).

 

Selain EMS, produksi Cina juga telah dibatasi dalam beberapa tahun terakhir oleh peraturan pemerintah yang lebih ketat untuk mengatasi polusi air. Menyusul fakta   limbah organik, bahan kimia dan antibiotik dari tambak udang sering mencemari air tanah dan muara pantai.

 

Kekhawatiran lingkungan dan kesehatan diperburuk di Cina oleh penggunaan antibiotik yang berpotensi besar digunakan oleh petambak intensif. Begitu pula petambak skala kecil yang tidak mampu menangani penyakit dengan cara yang benar.

 

Kekurangan pasokan udang domestik China ditambah dengan pertumbuhan permintaan yang tiada henti, telah menyebabkan lonjakan impor, yang diperkirakan akan mencapai 800.000 metrik ton pada tahun 2019. Menjadikan Cina pengimpor udang terbesar di dunia, di depan Amerika Serikat.

 

Manfaat Traceability

Dari Januari hingga Agustus 2019, Ekuador merupakan pemasok udang terbesar ke China, dengan pangsa 50%, diikuti oleh India (25%) dan Vietnam (4%).

 

Terlebih pada Desember 2017 China menurunkan tarif impor dari Ekuador, dari 5% menjadi 2%. China berharap dapat meningkatkan traceability dan mengurangi penyelundupan ilegal melalui Vietnam.

 

Berbeda dengan petani Asia yang biasanya menebar 100-1.000 udang per meter persegi di kolam, produsen di Ekuador menggunakan metode pertanian semi intensif dengan hanya 10 - 15 udang per meter persegi, yang mengurangi kemungkinan wabah penyakit.

 

“Hari ini di Ekuador, kami memiliki tambak udang yang belum menggunakan antibiotik selama 15 tahun,” kata José Antonio Camposano, direktur Camara Nacional de Acuacultura (CNA) Ekuador dalam sebuah wawancara baru-baru ini. Mereka menggunakan probiotik untuk budidaya udang. ist/meilaka

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain