Minggu, 10 Nopember 2019

Optimalkan Produksi Udang, Berdayakan Petambak Tradisioal

Optimalkan Produksi Udang, Berdayakan Petambak Tradisioal

Foto: Dok.KKP


JAKARTA (TROBOSAQUA.COM). Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo perwakilan masyarakat perudangan didampingi Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jumat (8/11). 
 
Diantara  pelaku perudangan yang hadir adalah Iwan Sutanto – Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI), Rizki Dharmawa - Ketua Petambak Muda Indonesia (PMI), dan Budhi Wibowo - Ketua Asosiasiasi Pengusaha Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan Indonesia (AP5I).
 
Iwan Sutanto mengungkapkan, budidaya udang di Indonesia kerap menghadapi kendala penyakit. Akibatnya banyak pembudidaya yang gagal panen.
 
Namun, Indonesia cukup beruntung tidak terkena wabah early mortality syndrome (EMS) di saat negara lain seperti Tiongkok terjangkit wabah penyakit tersebut. Bahkan akibat wabah penyakit tersebut, produksi udang China berkurang hingga 1 juta ton per tahun. 
 
Guna mencegah penyakit serupa masuk ke Indonesia, pelaku usaha budidaya berharap agar KKP mengeluarkan aturan-aturan terkait pencegahan penyakit dan melanjutkan task force yang tengah dilakukan bersama dengan stakeholder perudangan nasional.
 
Harapan ini disampaikannya kepada KKP karena selama ini Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) dinilai telah banyak membantu persoalan yang dihadapi para pelaku usaha budidaya. Termasuk salah satunya saat produk udang Indonesia ditahan Amerika Serikat (AS) akibat tuduhan subsidi. 
 
Selain itu menurutnya, budidaya udang Indonesia harus didorong karena udang merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya andalan utama Indonesia. “Bicara ekspor, ya pasti mengarah ke udang karena 60% dari ekspor udang Indonesia adalah udang hasil budidaya. Bahkan nilainya di atas tuna," jelas dia. 
 
Ia pun menyebut, dari angka 60% tersebut, separuhnya diproduksi oleh anggota SCI. “Budidaya udang ini memang tempatnya mencari uang dan devisa. Di usaha ini pula kita bisa ciptakan banyak entrepreneur baru,” lanjutnya. 
 
Akan tetapi Iwan menyebut, selama ini pihaknya mengalami sedikit kesulitan dalam perizinan budidaya udang akibat kurangnya harmonisasi kebijakan pusat dan daerah. Akibatnya, di tahun 2019 ini 7 perusahaan tambak udang intensif di Kabupaten Pesisir Selatan Lampung terpaksa berhenti beroperasi.
 
Senada dengan Iwan, Ketua AP5I Budhi Wibowo membenarkan bahwa udang merupakan komoditas dengan potensi perdagangan ekspor yang sangat besar. Menurutnya, ekspor udang Indonesia kurang lebih USD 1,8 miliar per tahun dengan jumlah lebih dari 200.000 ton. 
 
AP5I sendiri menurutnya mengolah udang dari pembudidaya udang sebesar kurang lebih 350.000 ton. Padahal menurutnya, AP5I memiliki kapasitas mesin pengolah sebesar 550.000 ton. “Jadi kami masih kekurangan bahan baku kurang lebih 200.000 ton. Nah, ini yang menyebabkan kami sulit bersaing di pasar internasional karena kapasitas dan utilitas kami hanya 60%,” paparnya. 
 
“Kami dengar, perikanan budidaya merupakan salah satu fokus pembangunan KKP saat ini. Semoga ke depan produksi budidaya udang dapat meningkat,” harapnya. 
 
Menjawab harapan pelaku usaha budidaya tersebut, Menteri Edhy menegaskan bahwa sektor budidaya memang akan menjadi prioritas. Oleh karena itu, akan dilakukan optimalisasi salah satunya dengan penyediaan teknologi yang mumpuni dan berkelanjutan. 
 
Menteri Edhy juga meminta pelaku usaha tambak intensif untuk memberikan pembinaan terhadap pembudidaya tradisional. “Masa iya budidaya intensif bisa 50 ton setahun, sedangkan tambak tradisional hanya 1 ton per tahun? Saya mohon masukan bapak-bapak bagaimana menaikkan ini minimal pertahun/ha jadi 5 ton saja tambak tradisional,” ucapnya. 
 
Menanggapi Menteri Edhy, PMI Rizky Darmawan menyatakan siap membantu meningkatkan teknologi budidaya pada tambak tradisional. Namun menurutnya, sebenarnya tidak ada masalah pada kualitas udang hasil produksi petambak tradisional. Terkait harga yang kurang bisa bersaing di pasar internasional, PMI memandang perlu peningkatan strategi promosi. PMI siap membantu karena hampir semua anggota PMI tamatan luar negeri dan mempunyai jaringan dan informasi yang luas di luar negeri.
 
“Intinya konteks kita sekarang saat bicara pembudidaya kecil adalah pembinaan.  Ini yang akan menjadi fokus kita ke depan,” tutup Menteri Edhy. ist/meilaka
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain