Kamis, 7 Nopember 2019

Musim Kemarau, Budidaya Udang Lampung Timur Membaik

Musim Kemarau, Budidaya Udang Lampung Timur Membaik

Foto: dok.datuk


Lampung Timur (TROBOSAQUA.COM). Budidaya udang vaname (Litopenaeus vanname) di pantai timur Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung lebih aman dari ancaman penyakit selama musim kemarau ini. Terutama dari serangan WSV (white spot ynsdrome virus) yang lebih banyak menyerang udang pada musim hujan.

 

“Jika pada musim kemarau ini agak mendingan. Rata-rata 85% kolam aman dari serangan penyakit,” ungkap Suwanto, pembudidaya udang skala besar di di tempat penampungan udang yang sekaligus menjadi kantornya di Desa Pasir Sakti, Kecamatan Pasir Sakti, Lamtim, Senin (4/11) sore.

 

Saat ini terdapat 40-an kolam budidaya udang yang rata-rata seluas 1.000 meter persegi yang diusahakan Suwanto. Konstruksinya berupa kolam tanah dengan dilapisi plastik pada bagian pematang dan dasar kolam pada areal pemberian pakan. Sumber air dari kanal inlet yang berasal dari pantai timur.

 

Menurut dia, rata-rata udang di Lamtim menghadapi serangan penyakit WSSV dan berak putih (white feces disease-WFD). Apalagi di musim hujan, intensitas  kedua penyakit tersebut cukup tinggi. Sepanjang November - Desember tahun 2018 lalu, banyak tambak di Lampung Timur dihantam  WSSV karena memang saat itu musim hujan.

 

Serangan penyakit udang di Lamtim, seakan sudah memiliki siklus, yakni pada musim hujan banyak menyerang virus WSSV, lalu pada musim kemarau kadang-kadang muncul virus Myo. Sementara WFD tidak mengenal musim, bisa muncul pada musim hujan dan musim kemarau. “Namun jika kedua penyakit ini dibandingkan, yang paling banyak menyerang udang di pantai timur ini adalah WSSV,” lanjutnya.

 

Tingginya ancaman penyakit di pantai timur, menurut Suwanto, karena rendahnya kualitas air. Maklum air yang digunakan untuk budidaya berasal dari kanal-kanal ‘uzur’ dari pantai timur yang sudah banyak tersumbat dan menyatu antara inlet dan outlet. Pada musim kemarau ini areal tambak yang mampu dijangkau air kanal jauh menurun karena airnya menyusut.

 

Selain itu umumnya petambak tidak memiliki petak tambak khusus tandon air. Akibatnya kebanyakan budidaya udang yang dijalankan dengan sistem tertutup alias tanpa ganti air. Jika air tambak menyusut, ditambahkan air yang berasal dari sumur bor. Untuk menaikan salinitas dilakukan penambahan mineral.

 

Untuk mencegah serangan penyakit, Pak Yai — panggilan akran Suwanto —menggunakan obat-obatan dari pabrikan yang dikombinasikan dengan ramuan-ramuan herbal. Lalu, ia bergabung menjadi anggota Kelompok Kawasan Vaname. Pada musim serangan penyakit, ia menurunkan kepadatan tebar hingga 70 ekor per meter persegi.

 

Rata-rata udang yang dipanen Pak Yai ukuran 40-50 ekor per kg. Saat ini harga jualnya berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 47 ribu/kg. Harga tersebut turun sekitar Rp10 ribu/kg dibandingkan ketika harga normal sebelumnya.

 

Akibatnya, ungkap Pak Yai,  semangat pembudidaya udang untuk menebar benur agak berkurang. Sementara biaya produksi, seperti harga pakan dan obat-obatan terus naik. “Bahkan biaya listrik PLN juga terus naik,” akunya. datuk

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain