Selasa, 15 Oktober 2019

Pelayanan Non Stop 24 Jam

Pelayanan Non Stop 24 Jam

Foto: 


Perkuat kerja sama dengan berbagai instansi untuk mencegah lalu lintas komoditas perikanan terlarang
 
 
Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Merak berada di salah satu lokasi pelabuhan penyeberangan terpadat di dunia. Tepatnya di Pelabuhan Penyeberangan Merak, Banten. Tidak hanya arus lalu lintas angkutan kapalnya saja yang padat. Kegiatan lalu lintas komoditas perikanannya juga terbilang cukup padat. 
 
 
Melihat kepadatan ini, SKIPM Merak melakukan terobosan dengan membuka pelayanan selama 24 jam non stop. Tujuannya adalah untuk memperlancar proses lalu lintas produk perikanan baik yang masuk atau pun yang ke luar wilayah Merak. Terobosan ini tentunya disambut baik oleh Unit Pengolahan Ikan (UPI) di wilayah kerja SKIPM Merak. 
 
 
Tingkatkan Pelayanan 
SKIPM Merak terus berbenah diri. Memperbaiki kualitas pelayanan dari segala aspek. Tahun 2019 ini, SKIPM mengusung motto “Cerdik” (Cepat, Ramah, Disiplin, Integritas dan Kompeten). Dikatakan Kepala SKIPM Merak M Hanafi, motto ini pun telah diaplikasikan dalam pelayanan sehari-hari. Contohnya adalah pelayanan berbasis online, PPK online (Permohonan Pemeriksaan Kesehatan secara Online). 
 
 
PPK Online ini dapat di akses di laman www.ppk.bkipm.kkp.go.id. Para pengguna jasa dapat melakukan permohonan pemeriksaan dari rumah atau dimana saja. Tidak harus datang ke kantor SKIPM Merak untuk mengisi form permohonan pemeriksaan kesehatan ikan. Dikatakan Hanafi, saat ini sedang dilakukan pengembangan PPK online versi Android. 
 
 
Pembayaran melalui mesin EDC wajib dilakukan di SKIPM ini. Untuk menghindari pungutan liar. Sehingga total jasa karantina yang dibayarkan langsung masuk ke kas negara. Pelayanan lainnya yang disediakan SKIPM Merak adalah adanya informasi keberangkatan kapal laut secara online di setiap dermaga Pelabuhan Penyeberangan Merak. Selain itu, SKIPM Merak juga menerima magang atau praktik lapang bagi mahasiswa atau siswa sekolah perikanan. Dan masih banyak terobosan pelayanan lainnya. 
 
 
Hanafi mengungkapkan, SKIPM Merak merupakan salah satu UPT yang telah melaksanakan Integrasi Sistem Manajemen Mutu. Meliputi Pelayanan ISO 9001:2015; Lembaga Inspeksi SNI ISO/IEC 17020:2012; dan Laboratorium Pengujian SNI ISO/IEC 17025:2017. Hal ini membuktikan pelayanan di SKIPM Merak memenuhi standar nasional maupun internasional.
 
 
Dengan semakin banyaknya tantangan baik dari penyebaran penyakit ikan berbahaya dan pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, Hanafi berharap timnya harus bisa lebih profesional dalam memberikan pelayanan. Baik dari uji laboratorium, pelayanan, serta jaminan mutu produk perikanan. “Semoga SKIPM Merak dapat berbuat yang terbaik dan terpercaya,” imbuhnya. 
 
 
Komoditas Unggulan 
Wilayah kerja SKIPM Merak meliputi Kota Cilegon, Kota Serang, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Lebak. Diungkapkan Hanafi, wilayah kerjanya ini dikelilingi oleh pesisir pantai. Sehingga potensi perikanan di sini sangat menjanjikan. “Potensi perikanan di wilayah ini sangat lengkap. Mulai dari penangkapan, pembenihan, pembesaran hingga pengolahan (pasca panen),” tambahya. 
 
 
Usaha udang vannamei menjadi salah satu primadona di wilayah ini. Terutama pembenihan dan pembesaran. Hal ini menjadikan udang vannamei komoditas ung¬gulan yang dilalulintaskan di SKIPM Merak. Saat ini, jumlah unit pembenihan udang vannamei yang sudah tersertifikasi CKIB (Cara Karantina Ikan yang Baik) sebanyak 5 hatchery (pembenihan). 
 
 
Komoditas perikanan unggulan untuk ekspor yang dilalulintaskan di SKIPM Merak diantaranya udang vannamei, daging rajungan, dan karaginan (tepung agar-agar dari rumput laut). Negara tujuannya adalah Amerika serikat, China, Canada, Vietnam, Jepang, Korea selatan, Thailand, Denmark, Spanyol, Taiwan, dan Malaysia. 
 
 
Sedangkan komoditas unggulan domestik didominasi oleh ikan beku dari jenis ikan layang, kembung, tongkol dan cakalang. Kebanyakan dilalulintaskan ke wilayah Sumatera, Batam, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa timur, Kalimantan, NTT, dan Sulawesi. 
 
 
Hanafi mengungkapkan data lalu lintas ekspor impor komoditas perikanan yang melewati SKIPM Merak. Data Januari -September 2019 menunjukkan volume ekspor mencapai 25.888,73 ton dengan frekuensi 1712 kali. Melihat potensi yang besar di Banten, Hanafi berharap volume ekspor semakin meningkat setiap tahunnya. 
 
 
Untuk UPI yang berada di wilayah kerja SKIPM Merak terdapat 6 UPI. Menurutnya, tingkat kesadaran UPI terhadap pentingnya sertifikasi keamanan dan kesehatan komoditas yang akan di ekspor sangat tinggi. Sebab apabila pihak UPI tidak melakukan sertifikasi maka produk perikanan tersebut tidak akan bisa di ekspor. 
 
 
Berbeda dengan komoditas tujuan domestik. Diakui Hanafi, tingkat kesadaran pengguna jasanya masih perlu ditingkatkan. SKIPM Merak mengakalinya dengan melakukan kegiatan operasi patuh karantina di pelabuhan penyeberangan dan sosialisasi peraturan perundangan.
 
 
Jalin Kerja Sama
Walaupun sosialisasi gencar dilakukan, ada saja oknum yang berusaha mencari celah melalulintaskan produk ilegal. SKIPM Merak bekerjasama dengan aparat kepolisian dari Bareskrim Mabes Polri, Ditkrimsus Polda Banten, Polair Polda Banten, Polres Pandeglang, dan Polres Serang. Beberapa kali berhasil menggagalkan lalu lintas komoditas yang dilarang. 
 
 
Seperti upaya pengiriman komoditas benih lobster melalui jalur darat. Rencananya akan dikirim menyeberang ke Sumatera dengan tujuan akhir luar negeri. Benih lobster merupakan komoditas perikanan yang penangkapannya diatur dan dibatasi ukuran serta tidak boleh ditangkap dalam keadaan bertelur. Hal ini untuk menjaga keberadaan dan kelestarian lobster di alam. Sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan Lobster, Kepiting dan Rajungan. 
 
 
“Menurut saya penyebab utama masih adanya oknum yang berusaha melalulintaskan komoditas perikanan yang dilarang adalah faktor keuntungan. Harga satu ekor benih lobster jenis mutiara di luar negeri bisa dihargai sampai Rp 200.000. Sedangkan ditingkat penangkap/nelayan hanya dihargai sekitar Rp 18.000 -20.000/ ekor. Selain itu juga karena faktor tingkat kesadaran masyarakat akan kelestarian komoditi perikanan yang masih kurang,” terang Hanafi. 
 
 
SKIPM Merak semakin memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk lalu lintas komoditas perikanan. Kemudian meningkatkan K3 (Koordinasi, Komunikasi, dan Kerja sama) dengan berbagai instansi terkait seperti Otoritas Pelabuhan, perusahaan jasa pelayaran, aparat kepolisian, bea cukai, TNI AL, serta instansi terkait lainnya. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain