Selasa, 15 Oktober 2019

Nila sebagai Komoditas Urban Farming

Nila sebagai Komoditas Urban Farming

Foto: rizki
Muhammad Iqbal dan kolam nila rasponiknya

Nila yang dikenal sebagai komoditas tahan banting dinilai berpeluang besar untuk dimanfaatkan lebih luas untuk budidaya urban farming
 
 
Akuaponik urban farming menjadi salah satu inovasi teknologi yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan dunia kala ini. Khususnya di kalangan kaum muda perkotaan. Karena sistem urban farming ini memanfaatkan lahan sempit, hemat air, ramah lingkungan, serta bisa menghasilkan komoditas yang menguntungkan.
 
 
Konsep awalnya berasal dari integrasi sistem tanaman hidroponik dengan kolam berisi komoditas ikan. Inovasi ini bahkan sudah dikenal di kalangan peneliti perikanan lebih dari satu dekade lalu. Bahkan konsep akuaponik ini menjadi salah satu unggulan yang dipamerkan dalam salah satu expo pertanian dan perikanan 2011 lalu di Tenggarong-Kalimantan Timur. 
 
 
Di Eropa, seperti di negara Belanda, Jerman, Swiss, hingga Perancis, sudah banyak kalangan muda yang mengembangkan inovasi teknologi untuk urban farming. Dan di Belanda, seperti di Den Haag sudah pernah dikembangkan urban farming dengan akuaponik memanfaatkan ikan nila. 
 
 
Nila, atau populer disebut tilapia menjadi komoditas pilihan akuaponik karena dinilai lebih tahan banting terhadap kondisi perairan. Karena nila merupakan ikan yang lebih resisten, tahan terhadap perubahan yang terjadi dalam air, seperti suhu. “Apalagi nila menjadi salah satu komoditas pilihan favorit untuk konsumsi masyarakat,” terang Muhammad Iqbal, pelaku usaha lele dan nila di daerah Jatiasih, Bekasi-Jawa Barat.
 
 
Lebih Tahan Banting
Sementara di Indonesia sendiri, pengembangan akuaponik juga sedang dilakukan balai-balai penelitian terkait. Seperti dikembangkan melalui konsep Yumina-Bumina Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BRSDM KKP). 
 
 
Nurhidayat, Pelaksana tugas (Plt) Kepala BRPBATPP mengatakan, saat ini sistem Yumin-Bumina berdasarkan lima sistem yakni sistem rasponik, sistem aliran bawah, sistem aliran atas, sistem pasang surut, dan sistem rakit. Komoditas yang dikembangkan selain nila adalah lele, patin, dan mas.
 
 
Sistem akuaponik ala rasponik dengan nila bahkan sudah Iqbal terapkan bersama komoditas lainnya, yaitu lele. Bahkan, hal yang menggembirkan bagi Iqbal, penerapan budidaya seperti ini memberikan laju sintasan yang sangat baik dibanding budidaya sistem konvensional. “Baik nila atau lelenya, tingkat kematiannya sangat sangat rendah. Bahkan bisa saya katakan dibawah 1 %,” ujar Iqbal.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-89/15 Oktober – 14 November 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain