Selasa, 15 Oktober 2019

Jaga Pasar Lama, Buka Pasar Baru

Jaga Pasar Lama, Buka Pasar Baru

Foto: trobos


Ketergantungan pada ekspor bisa mengganggu harga udang dalam negeri
 
 
Ada keinginan agar pasar udang Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasar ekspor. Hal ini diungkapkan oleh Esti Sandra, pedagang udang di Lampung. Menurutnya, perudangan Indonesia  masih hadapi ketergantungan terhadap pasar ekspor sehingga harga udang ikut terpengaruh hingga ke dalam negeri. 
 
 
Sebab, akunya, jika hanya mengandalkan pasar ekspor maka harga udang lokal sangat ditentukan harga udang di pasar global. Seperti sekarang, memasuki Oktober ini harga udang turun hingga Rp 4 ribu per kg, karena cold storage mulai mengurangi pembelian udang. 
 
 
“Penyebabnya buyer di luar negeri mengurangi permintaan hingga akhir tahun dan baru mulai ramai lagi mulai awal tahun depan. Sementara di Indonesia, biasanya selama musim kemarau yakni semester kedua produksi udang justru meningkat karena serangan penyakit berkurang sehingga petambak menjalankan budidaya di farm-nya full capacity. Kepadatan tebar pun dinaikkan dan semua kolam ditebar benur,” jelas Esti yang selama ini memasok udang yang dibelinya dari tambak ke cold storage di Jakarta dan kota lainnya.
 
 
Cukup berbeda dengan Esti, Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Budhi Wibowo menilai pasar ekspor saat ini terbilang stagnan. Malah pasar China yang meningkat konsumsi udangnya cukup berimbas baik bagi eksportir Indonesia. “Kita ada limpahan order dari China. Khususnya untuk produk breaded shrimp (udang tepung roti), ada permintaan meningkat dari sana. Pasar baru seperti ini harusnya bisa digarap karena sangat potensial, apalagi kita ekspor ke China masih sangat kecil, yakni dibawah 5 %,” ujar Budhi. 
 
 
Tergantung Ekspor
Namun demikian, kekhawatiran pedagang udang dari dalam negeri, dinilai Budhi cukup beralasan. Makanya dia beropini, mencari pasar baru atau alternatif market haruslah gencar dilakukan. “Apalagi selama ini kita bergantung pada pasar Amerika Serikat (AS), lebih dari 60 % ekspor udang kita arahnya ke sana,” ujar Budhi.
 
 
Ketergantungan pasar ekspor Indonesia terhadap AS pun diamini Machmud, Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing, Kementerian Kelautan dan Perikanan (PDS KKP). “Dalam data terbaru, ekspor kita sampai Agustus 2019 sebanyak 130 ribu ton, yakni ke AS 84 ribu ton. Jepang 21 ribu ton. Sebanyak 65 % arahnya ke AS, ke Jepang sebanyak 25 %, ke Uni Eropa (UE) 4 % dan ke China sebanyak 3 %,” jelas Machmud. 
 
 
Walau terbilang pasar utama ke AS, Indonesia, terang Machmud juga masih kalah dari India dalam pasokan udangnya. Indonesia masih di peringkat dua secara nilai dan volume. “Contohnya per 2018 lalu, India di peringkat pertama dengan persentase pasokan hingga 37 % dan kita di peringkat dua dengan kontribusi 20 %,” ujarnya. 
 
 
Yang disebut Esti itu harga udang nasional terpengaruh bisa jadi karena harga udang ke pasar AS. “Karena harga udang dunia itu sedang mengalami penurunan (dan kebanyakan secara global itu adalah udang vannamei). Penyebabnya karena udang dari India, Argentina, serta Meksiko sehingga harga di AS turun. Kita terpengaruh karena ekspor terbesar kita ke AS,” jelas Machmud.
 
 
Lebih jelas Machmud melihat data statistik dan tren dari 2017, selalu ada kecenderungan penurunan permintaan dari pasar ekspor pada quartal pertama dan kedua setiap tahunnya. “Dan biasanya akan ada peningkatan permintaan pada kuartal ketiga dan keempat. Bisa dilihat dalam data dari UE dan AS, sebagai persiapan menyambut Natal dan Tahun Baru ada peningkatan pada dua kuartal akhir tiap tahunnya,” ungkap Machmud.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-89/15 Oktober – 14 November 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain