Selasa, 15 Oktober 2019

Pasar Udang Domestik Terus Tumbuh

Pasar Udang Domestik Terus Tumbuh

Foto: trobos


Pasar domestik udang ternyata cukup besar, meningkat dari tahun ke tahun, tidak kalah dengan sumbangan udang ke pasar ekspor
 
 
Sesosok calon pembeli sedang mengamati udang segar (fresh) yang dieskan di etalase suatu pasar swalayan di wilayah Jakarta. Tidak begitu jauh, di etalase produk-produk beku (frozen), tampak seorang perempuan sedang memilih produk udang beku kupas yang sudah dikemas dengan kemasan yang menarik.
 
 
Sementara di tempat lain, di suatu bazar usaha mikro kecil menengah juga di wilayah Jakarta, tampak sesosok perempuan paruh baya sedang mengamati produk jualan suatu UKM (Usaha Kecil Menengah) yang terlibat di bazar. Label produk yang ia amati bertuliskan “pempek udang”. Ada ketertarikan di matanya dan nada pertanyaannya ketika ia bertanya mengenai produk pempek ini.
 
 
Ketiga tampilan ini merupakan gambaran umum saat ini betapa konsumen menunjukkan ketertarikan yang meningkat terhadap produk perikanan. Tidak hanya berupa produk fresh/beku, melainkan juga dalam bentuk olahan. Tingkat konsumsi terhadap produk khususnya berasal dari udang pun dinilai mengalami peningkatan setiap tahunnya. 
 
 
Tren Pasar
Machmud, Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (PDSPKP KKP) mengamini. Berdasarkan data Susenas BPS (Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik), tren konsumsi udang dalam negeri semakin meningkat dari 2017 ke 2018. Yakni untuk produk fresh/beku itu meningkat dari 1,16 kilogram (kg) per kapita pada 2017 menjadi 1,23 kg per kapita pada 2018.
 
 
“Sementara untuk produk olahan (dalam kategori ini seperti udang dikalengkan, dikeringkan, dan olahan lainnya) meningkat dari 0,07 kg per kapita pada 2017 menjadi 0,1 kg per kapita pada 2018,” terang Machmud kepada TROBOS Aqua. Dari berbagai sumber dijabarkan, konsumsi ikan nasional mencapai 50,69 kg per kapita pada 2018 lalu.
 
 
Pemahaman data ini, terang Machmud, harus dilengkapi dengan persepsi yang kadang berbeda di masyarakat. Biasanya, data udang fresh dibedakan dengan data udang beku, karena di KKP data udang beku sudah masuk kategori olahan. Makanya untuk kategori di Susenas BPS ini, dilihat kategorinya fresh/beku itu adalah sama. Sementara olahan, adalah di luar kategori itu.
 
 
Lebih lanjut, Machmud menilai antusiasme masyarakat dalam mengkonsumsi produk udang adalah hal yang menggembirakan. Apalagi sebetulnya data yang dikeluarkan BPS juga menunjukkan ada tren konsumsi udang yang tinggi di dalam negeri, tidak kalah dengan udang ekspor. 
 
 
“Data dari BPS juga menunjukkan, bahwa kebutuhan udang untuk konsumsi dalam negeri setara bahan baku pada 2017 lalu adalah 353.544 ribu ton. Dan pada 2018 naik sekitar 31 % menjadi 463.777 ribu ton. Disisi ekspor, kebutuhan udang untuk ekspor setara bahan baku pada 2017 adalah 308.614 ton yang naik menjadi 339.058 ton pada 2018. total kebutuhan konsumsi dan ekspor setara bahan baku pada 2017 lalu adalah 662.158 ton, naik menjadi 802.834 ton,” terang Machmud. 
 
 
Yang perlu menjadi catatan, terang Machmud, data-data produksi udang ini merupakan gabungan dari data tangkapan maupun budidaya. Walaupun tidak secara rinci menyebut jenis atau spesies udang yang diproduksi. “Bila ekspor biasanya didominasi oleh vannamei, yang berasal dari budidaya. Selebihnya merupakan udang jenis lain ataupun hasil tangkapan,” ungkapnya.
 
 
Hal ini bisa menjadi acuan untuk menampilkan masyarakat Indonesia sudah mulai menaiki tangga konsumsi komoditas udang. Karena bisa dilihat, data ekspor udang dibandingkan dengan dalam negeri, tidak jauh berbeda. 
 
 
Kurang Digarap
Tambahan catatan diberikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Budhi Wibowo. Dimana, dari sisi pelaku usaha, tercatat data ekspor yang jauh lebih besar dibandingkan dengan arah pasar lokal. Adalah udang vannamei yang merupakan komoditas andalan para eksportir untuk dijual ke pasar global. “Lebih dari 99 % udang kita lebih banyak ke ekspor. Menurut saya gak sampai 1 % udang dilepas ke pasar lokal,” beber Budhi.
 
 
Hal ini pun diamini Direktur Pemasaran Produk Makanan Olahan PT Central Proteina Prima (PT CPP) Sidarta Sidik ketika bertemu TROBOS Aqua dalam peluncuran (launching) produk beberapa waktu lalu di Jakarta. Dia mengungkapkan, CPP targetkan 10 ribu ton penjualan produk di 2019 ini, atau naik 4 ribu ton dari target tahun sebelumnya, yakni sebanyak 6 ribu ton produk. 
 
 
Diantara beragam produk udang yang dijual pihaknya, porsi udang untuk dalam negeri terbilang kecil. Karena selebihnya, ditujukan untuk pasar ekspor. “Untuk pasar dalam negeri, masih dalam kisaran 30 ton per bulannya,” timpal Samiono, Direktur PT Central Pertiwi Bahari, anak perusahaan PT CPP dalam kesempatan yang sama. Udang untuk pasar dalam negeri ini umumnya dijual dalam bentuk head on hingga olahan tempura, breaded shrimp, shrimp roll, dan lainnya.
 
 
Rendahnya minat eksportir, khususnya eksportir vannamei, untuk mengincar pasar lokal juga diamini Herman, perwakilan Bumi Menara Internusa (BMI) Lampung. Dia menuturkan, dua faktor utama menjadi alasan utama eksportir tetap lebih memilih menimbang pasar ekspor dibanding pasar luar negeri. “Yaitu, pasar ekspor permintaannya stabil dan harganya bagus. Selain itu suplai yang ada juga sudah stabil untuk diarahkan ke pasar ekspor. Jika dibagi ke pasar lokal, justru suplainya kurang dari petambak,” ungkapnya.
 
 
Untuk memasuki kompetisi pasar lokal sebagai pilihan protein selain sumber lain, semisal daging ayam dan telur, Herman menilai komoditas udang masih jauh tertinggal. “Karena harga ayam jauh lebih murah. Kalau mau merambah pasar lokal, otomatis harus ada suplai yang lebih tinggi. Budidaya udang harus naik agar pasar lokal terpenuhi,” beber Herman yang tidak mau disebutkan nama dan jabatannya.
 
 
Kurang kompetitifnya harga udang di pasar lokal juga diamini Esti Sandra, pedagang udang di Lampung. Harga udang masih di atas harga ikan laut-- apalagi ikan tawar/darat-- sehingga pertumbuhannya lambat. “Udang masih dianggap makanan elit yang mahal,” ungkapnya. Meski sebetulnya harga daging lebih mahal ketimbang udang.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-89/15 Oktober – 14 November 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain