Kamis, 10 Oktober 2019

Menelisik Sebab Harga Udang Merosot

Menelisik Sebab Harga Udang Merosot

Foto: dok.datuk


Lampung (TROBOSAQUA.COM). Kejatuhan harga udang belakangan ini menimbulkan tanda tanya besar bagi petambak dan suplaier udang, karena terjadi anomali.

 

Di tengah produksi udang lokal anjlok akibat banyaknya serangan penyakit dan cuaca buruk, namun coldstorage justru mengurangi pembelian.

 

“Kalau saya perhatikan dari sisi produksi, jauh menurun dari tahun sebelumnya. Tetapi coldstorage justru penuh dan kontrak ekspor mereka tahun ini sudah terpenuhi. Ini kan menjadi tanda tanya besar. Bisa jadi telah terjadi reekspor udang dari India,” ujar Ali Zaini, pedagang udang di Lampung, Rabu (9/10) sore.

 

Akibatnya, lanjut Ali, harga udang terus menurun. Jika dibandingkan ketika harga udang stabil di bulan Juni-Juli hingga September lalu sudah terjadi penurunan harga hingga 10 persen atau rata-rata Rp 5 ribu/kg. Dan diperkirakan bakal terus anjlok hingga akhir tahun dan baru akan membaik pada akhir Januari atau awal Februari tahun depan. Perkiraan itu didasarkan pada telah ditutupnya kontrak ekspor dengan buyer di luar negeri untuk tahun ini. Kontrak baru akan dibuat pada awal tahun depan.

 

“Jadi infonya, sekarang coldstorage sudah pada penuh dan menunggu kontrak baru tahun depan baru mengekspor udang lagi,” sambung Ali.

 

Ditambahkan Ali, pihaknya sangat menyayangkan jika benar telah terjadi reekspor udang dari India. Pasalnya pada saat semua sarana produksi udang naik, harga jual udang justru turun. “Ini tentu menurunkan semangat kawan-kawan pembudidaya udang, margin keuntungan mereka tergerus banyak,” tandasnya.

 

Kurangi Permintaan

Esti Sandra, pedagang udang lainnya di Lampung juga mengaku, memasuki bulan Oktober harga udang turun karena coldstorage mulai mengurangi pembelian udang.

 

“Penyebabnya buyer di luar negeri sudah mengurangi permintaan karena mau tutup tahun dan baru mulai ramai lagi mulai awal tahun depan. Sementara di Indonesia, biasanya selama musim kemarau yakni semester kedua produksi udang justru meningkat karena serangan penyakit berkurang,” jelas Esti yang selama ini memasok udang yang dibelinya dari tambak ke cold storage di Jakarta dan kota lainnya.

  

Karena itu, sambung Esti, ia terus memonitor pergerakan harga udang dari hari ke hari. Sebelum melakukan pembelian udang ke tambak, ia terlebih dahulu minta informasi harga ke coldstorage. “Selanjutnya harga tersebut diinformasikan ke petambak yang mau panen. Jika ada kesepakatan harga baru dilakukan panen,” lanjut Esti di rumah yang sekaligus kantornya PT Anesta Agung di bilangan Campangraya, Bandarlampung.

 

Ia mengaku harga udang di tingkat lokal ditentukan oleh harga internasional karena udang didominasi oleh pasar ekspor. Ketika buyer mengurangi pembelian, coldstorage juga menahan diri, akibatnya harga udang di tingkat lokal turun.

 

Menurut Heru, pedagang udang lainnya, harga rata-rata udang di Lampung, Rabu (9/10), yakni untuk size 30 menjadi Rp93 ribu, size 40 (Rp84 ribu); size 50 (Rp69 ribu); size 60 (Rp60 ribu); size 70 (Rp57 ribu); size 80 (R-53 ribu); size 90 (Rp 51 ribu) dan size 100 (Rp48 ribu).

 

“Itu harga rata-rata. Kalau detailnya tergantung lokasi farm yang panen. Masing-masing areal tentu berbeda karena terkait dengan jarak yang harus diperhitungkan komponen biaya transportasinya,” jelas Heru.    

 

Andi Kurniawan, pembudidaya udang di Lampung yang seminggu terakhir ini panen mengatakan, kini pembudidaya bagaikan jatuh tertimpa tangga pula menyusul turunnya harga jual udang. “Di Lampung Timur masih banyak WSSV dan di Pesawaran udang diserang Myo. Lalu, ketika panen harga jual udang turun pula,” tutur Andi pada Rabu (9/10) sore.

 

Akibatnya, lanjut Andi, ke depan budidaya udang makin berat karena produksi sulit dikatrol selama penyakit masih marak. Kondisinya diperparah pula oleh biaya produksi yang terus naik karena komponen-komponen produksi seperti pakan dan obat-obatan harganya terus melambung. datuk

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain