Minggu, 15 September 2019

Restocking Ikan dan Rajungan Supaya Berkelanjutan

Restocking Ikan dan Rajungan Supaya Berkelanjutan

Foto: 
Dirjen Perikanan Budidaya, Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan, Direktur Pakan dan Obat Ikan bersama Bupati Banjarnegara beserta Forkopimda Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah

Tujuannya dapat mengembalikan ketersediaan ikan endemik lokal yang hampir punah serta untuk menjaga keseimbangan eksosistem lingkungan perairan umum
 
 
Penebaran (restocking) benih ikan kembali dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Perikanan Budidaya beserta Pemerintahan Banjarnegara Jawa Tengah. Sebanyak 203 ribu ekor benih ikan nilem, ikan baung, dan calon induk udang galah ditebar di aliran Sungai Serayu Kabupaten Banjarnegara, Selasa (3/9). 
 
 
Selain penebaran benih ikan, turut diserahkan bantuan berupa revitalisasi Unit Pembenihan Rakyat (UPR) yang memIproduksi benih ikan lele dan 1.050 ekor calon induk ikan lele kepada kelompok pembudidaya ikan di Kab. Banjarnegara. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam sambutannya merasa prihatin dengan stok ikan lokal yang menurun drastis di perairan umum, dalam hal ini khususnya di Sungai Serayu. 
 
 
Ia mengungkapkan, dengan restocking benih ikan yang merupakan kegiatan rutin tahunan KKP diharapkan dapat mengembalikan ketersediaan ikan endemik lokal yang hampir punah serta untuk menjaga keseimbangan eksosistem lingkungan perairan umum. “KKP sangat konsen dalam upaya pelestarian sumberdaya perikanan termasuk plasma nutfah berupa ikan-ikan lokal. Pembangunan perikanan yang terus berlangsung saat ini tidak boleh mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang, oleh karenanya dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan penting menjamin keseimbangan antara kepentingan ekologi, sosial dan ekonomi,” lanjut Slamet. 
 
 
Slamet menilai, saat ini ada kencenderungan terjadinya penangkapan yang berlebihan dan tidak terkontrol terhadap ikan lokal karena bernilai ekonomis tinggi, sehingga KKP sebagai institusi teknis di sektor kelautan dan perikanan bertanggungjawab untuk menjaga keseimbangan dan ketersediaan sumber daya yang ada di perairan. 
 
 
”Kami terus mendorong upaya restocking, pengaturan penangkapan, serta pelestarian ekosistem asli perairan umum. Perlu untuk dibuatkan regulasi daerah yang mengatur mengenai penangkapan ikan yang bertanggung jawab. Sedangkan untuk pembenihan, Unit Pelaksana Teknis DJPB saat ini sudah mampu menguasai teknologi pembenihan berbagai jenis ikan lokal, dimana peruntukannya lebih besar untuk kepentingan restocking,” imbuh Slamet. 
 
 
Menambah Stok Ikan 
Slamet juga berpesan agar restocking dapat menjadi suatu budaya di masyarakat. Ia mengajak para pembudidaya khususnya pelaku pembenihan agar dapat turut menjaga kelestarian perairan umum dengan ikut melakukan restocking benih ikan, khususnya ikan-ikan yang tidak berbahaya atau infasif. “Kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk menjaga kelestarian aliran Sungai Serayu menjadi poin yang penting untuk dapat menjadikan perairan umum sebagai sumber perekonomian yang mensejahterakan masyarakat,” pungkas Slamet. 
 
 
Slamet berharap Bupati dapat menginisiasi koordinasi dengan kabupaten sekitar yang dilalui oleh aliran Sungai Serayu untuk bersama-sama menjaga kelestarian habitat di Sungai Serayu. Juga menjadikan Sungai Serayu sebagai sumber perekonomian masyarakat, dan KKP siap membantu. 
 
 
Sebagai informasi tambahan penebaran benih ikan di Banjarnegara, khususnya di aliran sungai Serayu pada tahun 2019 telah dilakukan sebanyak 3 kali dengan total benih yang ditebar sebanyak 553 ribu ekor. Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Budhi Sarwono, Bupati Banjarnegara memberikan apresiasi kepada KKP yang telah memberikan perhatian khusus kepada Sungai Serayu sebagai salah satu perairan umum yang paling potensial di Kabupaten Banjarnegara. Ia berharap kegiatan restoking ini dapat menambah stok ikan Sungai Serayu, serta mengembalikan keberadaan ikan-ikan lokal yang hampir punah. 
 
 
Di lain pihak, Budhi juga menyoroti masih kurangnya kepedulian masyarakat terhadap keberlanjutan sungai seperti nelayan yang menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan serta masyarakat yang masih membuang sampah di sungai. “Kami akan susun peraturan daerah yang mengatur mengenai pelestarian sungai dan penangkapan ikan perairan umum agar masyarakat mempunyai rambu dan petunjuk untuk dapat menjaga kelestarian sungai,” tutup Budhi.
 
 
Restocking Rajungan 
Kegiatan restocking dengan komoditas yang berbeda sebelumnya juga telah dilakukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, yaitu restocking ribuan ekor benih rajungan, kepiting, dan udang windu di perairan Betahlawang Kecamatan Bonang, Demak Jawa tengah (29/7). Turut mendampingi Menteri Susi, Bupati Demak dan masyarakat nelayan. 
 
 
Benih yang di-restocking masing-masing rajungan sebanyak 300.000 ekor, kepiting sebanyak 100 ribu ekor, dan udang windu sebanyak 100 ribu ekor. Adapun benih rajungan, kepiting dan udang windu tersebut merupakan hasil perbenihan yang dilakukan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. 
 
 
Dalam pesannya Susi menekankan pentingnya menjaga kelestarian sumber daya rajungan. Menurutnya penangkapan rajungan di laut harus dilakukan melalui cara-cara yang ramah lingkungan, sehingga ketersediaan sumber daya rajungan tetap stabil. “Jadi setelah restocking ini, masyarakat harus menjaga agar rajungan ini bisa terjaga siklus hidupnya. Kalau ini bisa lestari, tentunya secara langsung juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat”, pesan Susi 
 
 
Sebelumnya KKP telah menetapkan Peraturan Menteri KP nomor 56 tahun 2016. Salah satu poin aturan ini berisi tentang penangkapan dan atau pengeluaran rajungan hanya diperbolehkan jika dalam kondisi tidak bertelur dan ukuran lebar karapas di atas 10 cm dan atau berat di atas 60 gram per ekor. 
 
 
Sementara itu, Slamet Soebjakto saat dimintai keterangan di Jakarta mengatakan, Ditjen Perikanan Budidaya terus mendorong produksi benih rajungan, kepiting dan ikan endemik atau ikan yang tergolong langka, dimana sebagian untuk kepentingan restocking. Menurutnya, perlu pengkayaan stok rajungan di alam mengingat kecenderungan stok yang sudah menurun, disamping itu rajungan merupakan unggulan ekspor ke dua dan memberikan kontribusi cukup besar terhadap devisa. 
 
 
“Peran budidaya sangat penting, disamping untuk ketahanan pangan juga berfungsi sebagai penyangga stok ikan di alam termasuk crustacea yang cenderung semakin turun, khususnya rajungan. UPT kami yakni BBPBAP Jepara dan BPBAP Takalar, saya beri tanggungjawab untuk memproduksi benih rajungan dan kepiting. Keduanya, saat ini juga telah menjalin kerjasama dengan Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI) untuk mengembangkan rajungan di Indonesia dan menjamin kelestariannya,” papar Slamet. 
 
 
Slamet menambahkan, penting ada aturan pada level desa untuk mengatur close season penangkapan atau pengaturan waktu/musim penangkapan rajungan yang disesuaikan siklus hidupnya, sehingga ada kesempatan rajungan melakukan siklus hidup secara normal. Disamping itu, restocking rajungan sebaiknya dilakukan pada zona perlindungan yang ditetapkan, dengan begitu ada peran masyarakat untuk menjaga dan mengawasi. 
 
 
Sepanjang tahun 2015 - 2018, Ditjen Perikanan Budidaya melalui BBPBAP Jepara telah melakukan restocking rajungan sebanyak 989.000 ekor. Kegiatan tersebut tersebar di 10 lokasi yakni Jepara, Demak, Cilacap, Gresik, Yogyakarta, Rembang, Semarang, Pangandaran, Tangerang dan Tarakan. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain