Minggu, 15 September 2019

Soen’an Hadi Poernomo: Mencetak SDM Unggul

Soen’an Hadi Poernomo: Mencetak SDM Unggul

Foto: trobos
Soen’an Hadi Poernomo

Kabinet kali ini menggunakan tagar “SDM Unggul, Indonesia Maju”. Kita bersyukur, negeri Nusantara ini mendapat karunia Tuhan sumber daya alam yang melimpah, di kawasan tropis yang hangat sepanjang tahun. Namun kekayaan alami tersebut akan tiada arti, apabila dikelola oleh sumber daya manusia yang rendah kualitas. Bahkan mendatangkan malapetaka, lantaran menjadi obyek eksploitasi bangsa lain.
 
 
Sumber Daya Manusia (SDM) unggul adalah insan yang hebat, berkualitas, banyak memiliki kelebihan dari bangsa lain. SDM unggul tentu harus melalui upaya serius, tidak sekadar pasrah, pasif terhadap dirinya sendiri. 
 
 
Konon seusai Perang Dunia II, dalam suasana galau kekalahan dan melihat rakyatnya yang menderita akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Kaisar Jepang Hirohito tidak menanyakan jumlah tank, kapal perang dan pesawat tempur yang masih dimiliki. Beliau secara filosofis menanyakan, berapa jumlah guru yang tersisa, karena SDM adalah kunci kemajuan dan daya saing bangsa.
 
 
Semangat moril Kaisar Hirohito tidak lepas dari sejarah seniornya. Di akhir abad ke-sembilanbelas, hampir semua negara di Asia telah dijajah oleh bangsa Barat. Agar mampu menghadapi superioritas bangsa asing, Kaisar Meiji di Jepang mengadakan gerakan reformasi yang disebut Meiji Restoration atau Restorasi Meiji, yang berlangsung tahun 1868 - 1912. 
 
 
Dalam aspek politik, sosial dan budaya, tradisi kekuasaan samurai yang tersebar di daerah dilikwidasi atau dihilangkan. Semua terpusat ke negara tunggal yang dipimpin oleh Kaisar. Tata pemerintahan dirubah strukturnya dengan model Barat, dengan tetap mempertahankan keberadaan kekaisaran. Demokratisasi politik dan ekonomi diterapkan. 
 
 
Para generasi muda dikirim untuk belajar ke Amerika dan Eropah guna mempelajari ilmu dan teknologi, agar setelah pulang dapat diterapkan di negerinya. Adapula yang diwajibkan menjadi guru di tanah air, untuk mendidik anak bangsa lainnya. Beberapa pakar dan ilmuwan Barat juga diundang atau dipekerjakan di Jepang, untuk “dicuri” ilmunya. Akhirnya Jepang dapat menyamai—bahkan dalam hal tertentu, mengungguli Barat.
 
 
Hal serupa dialami oleh bangsa Barat. Di tahun 1950-an politik dunia terpecah menjadi dua, yakni Blok Komunis dan Blok Kapitalis. Dalam era persaingan panas tersebut, pada tahun 1957, bangsa Amerika dibuat galau berat oleh prestasi Rusia—saingan utamanya, yang dapat meluncurkan satelit bumi pertama ke ruang angkasa, yakni Sputnik I dan II. Respon yang terjadi di negeri Paman Sam adalah gerakan reformasi dalam bidang SDM dan Iptek. 
 
 
Dalam bidang pendidikan, sekolah menengah atas di Amerika harus ditingkatkan dalam mempelajari matematik, ilmu pengetahuan alam dan bahasa asing. Adapun dimensi lainnya, sektor ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama mengenai teknologi ruang angkasa, ditingkatkan kegiatan, anggaran, dan infrastrukturnya. Upaya melalui pengembangan SDM dan Iptek tersebut tidak sia-sia. Amerika Serikat kemudian mampu mendaratkan manusia pertama di bulan, dengan pesawat ruang angkasanya.
 
 
Daya Saing Bangsa
Kondisi negeri kita meskipun memiliki banyak kelebihan, namun tidak terpungkiri, menyandang pula banyak permasalahan. Problem akut yang mencolok saat ini adalah cukup tinggi dalam pencemaran lingkungan, tindak pidana korupsi, dan penderita stunting lantaran kekurangan gizi. 
 
 
Untuk memecahkan permasalahan tersebut, ditambah upaya agar tidak tertinggal jauh di arena persaingan global, kunci utamanya adalah ketersediaan SDM Unggul.  Guna mewujudkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing ini  kiranya diperlukan lima hal, yaitu memiliki moral yang tinggi, rasa cinta tanah air, fisik yang sehat, kompetensi dalam ilmu dan teknologi di bidangnya, serta mempunyai etos kerja yang tinggi.
 
 
Aspek yang pertama, kepemilikan moral yang tinggi di sini termasuk segenap individu menjalankan ajaran agamanya, taat kepada Tuhan, hubungan baik dengan sesama manusia, dan peduli pada kelestarian alam. Dengan demikian maka terciptalah masyarakat yang jujur, birokrasi dan dunia politik yang minim korupsi, komunitas yang toleran terhadap yang lain—kendatipun berbeda etnis, agama dan aliran politik, serta berada dalam suasana alam yang indah lestari. 
 
 
Kedua, kecintaan terhadap tanah air, bangsa dan negara yang sangat tinggi, merupakan pemicu utama terhadap daya saing. Berangkat dari kecintaan kepada negeri itulah, terbakar semangat untuk tidak rela terkalahkan oleh bangsa lain. Merasa bangga bila ada anak bangsa yang meraih prestasi.
 
 
Ketiga adalah kondisi kesehatan masyarakat. Hal ini tergantung pada pola hidup, pola makan, bahkan termasuk pola pikir. Hidup bersih dan sehat hendaknya melekat pada setiap individu. Kementerian Kesehatan telah menggulirkan Gerakan Masyarakat Sehat (Germas). Sangat dianjurkan untuk makan dengan proporsi yang seimbang, sehingga cukup protein, vitamin, mineral serta energi yang dibutuhkan. 
 
 
Guna mencegah stunting, sejak anak dalam kandungan, ibu hamil diharapkan mengkonsumsi hidangan kaya protein dan zat gizi lainnya, seperti ikan, telor dan ati. Sebagaimana anjuran Badan Kesehatan Dunia (WHO), asupan makanan hendaknya diberikan sejak 1000 hari pertama kehidupan—mulai dari dalam kandungan hingga usia dua tahun. Anjuran tersebut dimaksudkan guna melahirkan generasi yang sehat dan cerdas. 
 
 
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga membuat Program Anak Sehat (Progas), yang mendorong dan memfasilitasi agar anak-anak sekolah menyukai makanan bergizi tinggi. Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2004 telah membentuk Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Tujuannya adalah agar ikan yang berprotein tinggi, mengandung Omega-3, dan mudah dicerna ini, berperan dalam menyehatkan bangsa. Untuk mewujudkan kolaborasi atau sinergitas dalam upaya menyehatkan bangsa melalui makanan sehat, Kemenkes dan KKP telah melahirkan wadah yang bernama Jejaring Pasca Panen untuk Gizi Indonesia (JP2GI).
 
 
Yang keempat adalah penguasaan ilmu dan teknologi. Pada kenyataannya, negara yang berhasil maju di dunia, terindikasi dari tingkat penguasaannya terhadap teknologi. Negara yang bangsanya lemah dalam keilmuan, berposisi tertinggal jauh, hanya tercenung sebagai konsumen. Untuk menjadi negara dan bangsa yang unggul, tidak bisa ditawar, harus menguasai ilmu dan teknologi—terutama teknologi terapan dan digital. 
 
 
Yang terakhir, kepemilikan etos kerja yang tinggi, sangat jelas merupakan prasyarat utama untuk meraih keunggulan di bidang ekonomi, dan juga ilmu pengetahuan dan teknologi. Unsur dari etos kerja yang tinggi adalah disiplin, rajin bekerja, dan kompeten di bidangnya. Dalam konteks etos kerja, saat ini yang tertinngi di dunia adalah Korea, disusul oleh Jepang. Pelaut niaga, didominasi oleh Filipina. Pelaut perikanan, masih belum ada yang mengalahkan Indonesia. Hanya saja, negeri kita yang ber-bhinneka ini, kualitas etos kerja untuk suku yang berlainan, bisa memiliki tingkat ethos kerja yang berbeda. Namun demi kejayaan Nusantara, kita harus bersemangat dan berupaya kongkrit, untuk menciptakan SDM Unggul. Success comes to those who make it happen—not those who let it happen.
 
 
 
*Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Jakarta
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain