Minggu, 15 September 2019

Geliat Potensi Ulva Situbondo

Geliat Potensi Ulva Situbondo

Foto: dini


Pantai Pathek, terkenal akan promosi wisata pantai dan kulinernya, dan ternyata rumput laut di lokasi ini menyimpan berjuta potensi
 
 
Pantai Utara Jawa (Pantura) sudah terkenal dengan potensi perikanannya. Apalagi soal pertambakan udangnya. Namun, patut dipertimbangkan pula potensi perikanan lainnya, semisal rumput laut.
 
 
Di Situbondo – Jawa Timur, tepatnya di daerah Desa Pathek, menjadi lahan potensial dalam pemanenan rumput laut berjenis Ulva sp. Sewaktu TROBOS Aqua berkunjung ke desa ini, terlihat jelas sepanjang garis pantai banyak Ulva, yang dalam bahasa lokal Situbondo dinamakan lumut laut. Ulva ini terbiar bebas dan ketika air surut, lumut laut ini seakan dibiarkan terpapar liar tanpa pemanfaatan.
 
 
Adalah Suep, seorang pemanen rumput laut ini sejak 2006 lalu. Tempat tinggalnya di Desa Pathek menjadikan dirinya pun memanfaatkan potensi sekitar yang ada untuk mendapatkan pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan. Yang salah satunya, adalah Ulva ini.
 
 
Rumput laut jenis ini, terang Suep yang kerap disapa orang lokal dengan nama Pak Eko (karena anak pertamanya bernama Eko), ia panen ketika air laut surut. “Ketika surut, contohnya pas malam hari, saya panen rumput laut ini di sepanjang pantai. Kemudian saya bersihkan dan saya jemur sampai kering, baru nanti dimasukkan ke karung,” ujarnya. 
 
 
Kemudian, hasil panen ini akan ia jual ke pengumpul. Pengumpul akan mengambil rumput laut ini dalam bentuk kering setiap 10 hari sekali. “Setelah kering, saya masukkan ke dalam karung. Satu karung bisa ditimbang hingga 40 – 45 kg beratnya. Dalam sehari biasanya saya bisa mendapat panen 4 -  6 karung,” tutur Suep.
 
 
Untuk harga rumput laut ini, sekitar Rp 1.500 per kilogram (kg) kering. “Harga sekarang ini terbilang naik dari tahun – tahun sebelumnya. Pada 2006 itu masih dihargai sekitar Rp 800 per kg nya. Dan  pengumpul bisa membawa hingga 10 ton sekali pengiriman untuk dikirimkan ke Surabaya. Atau bisa sekitar 300 karung,” ucapnya dengan logat Madura yang kental. Pengumpul ini pun mengumpulkan rumput laut dengan satu truk untuk kemudian dibawa ke Surabaya.
 
 
Namun, ketika ditanya peruntukannya, Suep mengaku tidak tahu – menahu. “Saya pernah bertanya tapi dijawab rahasia katanya. Cuma, kalau soal harga, pengumpul ini mengakunya ambil untung sekitar Rp 800 per kg. Alias dihargai Rp 2.300 per kg di Surabaya. Lantas di sana katanya diproses lagi, dibungkus lebih rapih untuk diekspor ke China,” terangnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-88/15 September – 14 Oktober 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain