Minggu, 15 September 2019

Budidaya Kakap Putih Kian Bergeliat

Budidaya Kakap Putih Kian Bergeliat

Foto: dok. steven
Bahan baku fillet kakap putih

Kakap putih menjadi alternatif komoditas marikultur, di Bali permintaan ekspor sampai 7 ton per minggu
 
 
Polemik kebijakan dalam bisnis ikan kerapu bisa menjadi momentum untuk memaksimalkan komoditas unggulan marikultur lainnya seperti kakap putih. Beberapa tahun lalu, pemerintah menggadang-gadang ikan kakap putih sebagai salmonnya Indonesia. Tetapi produksi nasional yang dicatat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) baru mencapai 8 ribu ton (2017) ini sebetulnya masih terlalu sedikit. Salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang pembesaran kakap putih bahkan memiliki target produksi tahunan sebanyak 3 ribu ton. 
 
 
Menurunnya potensi ekspor ikan kerapu dijadikan pembudidaya marikultur asal Bali, Usama Umar Al Hadasi sebagai momentum untuk banting setir ke komoditas kakap putih. Menurut penuturannya, ia sudah mulai beralih ke kakap putih sejak dua tahun lalu. “Kami belajar ke kakap putih, dan kebetulan ada processing (pabrik pengolahan) yang menerima hasil produksinya. Jadi kita belajar produksi kakap putih size (ukuran) 1,2 – 2 kg per ekor, sesuai permintaan processing,” kata Usama kepada TROBOS Aqua. 
 
 
Permintaan perusahaan fillet processing terhadap kakap putih di Bali cenderung stabil. Mereka menjual hasil olahannya untuk tujuan ekspor. Menurut Usama, permintaannya sekitar 5 – 7 ton setiap minggu. Kebutuhan ini dipenuhi oleh beberapa pembudidaya yang ada di Bali, termasuk perusahaan yang sudah besar. “Kalau dilihat apabila processing permintaan ekspornya tinggi, harapannya cukup menjanjikan. Rata-rata dia (processing) bilang sih kemampuan sebulan sekitar 30 ton dibagi beberapa cluster yang ngisi,” tambahnya.
 
 
Hanya saja, lanjut Usama, harga yang didapat oleh pembudidaya masih belum stabil. Penyebabnya karena kakap putih hasil budidaya masih bersaing dengan kakap hasil tangkapan. Dan ikan tangkapan tersebut cenderung memiliki harga yang jauh lebih rendah. Kakap putih hasil budidaya biasanya dihargai Rp 65 - 70 ribu per kg. Sementara kakap putih hasil tangkapan harganya bisa Rp 10 ribu lebih murah per kilogramnya. “Hasil tangkapan itu bisa di bawah Rp 50 ribu malah,” tambah Usama. Tetapi memang pasokan ikan dari hasil budidaya jauh lebih berkelanjutan. 
 
 
Setelah kurang lebih dua tahun berjalan, Usama menilai penjualan kakap putih cenderung lebih mudah secara teknis dibanding kerapu. Kakap putih tidak harus dijual dalam keadaan hidup, sehingga proses pengirimannya menjadi lebih mudah. “Jadi tidak ada aturan-aturan yang mengikat yang mengakibatkan pembudidaya harus meningkatkan lagi persyaratannya,” ujarnya. Bahkan Usama berpendapat seharusnya ke depan kakap putih bisa benar-benar menjadi komoditas unggulan nasional. 
 
 
Teknis Budidaya 
Meski cukup prospektif, tetapi budidaya kakap putih masih membutuhkan pengembangan. Menurut Usama, kakap putih memiliki keunggulan teknis hanya pada sifatnya yang euryhaline atau memiliki toleransi yang tinggi terhadap kadar garam (salinitas). Oleh karena itu ikan ini bisa dibudidayakan secara optimal di tambak air payau dan masih toleran di KJA air laut. Tetapi Usama sendiri melakukan budidayanya di KJA bekas kerapu yang sudah tidak ia pakai.
 
 
Meski cukup toleran pada salinitas, tetapi pada perubahan parameter lingkungan yang lain masih lemah jika dibandingkan ikan kerapu, apalagi yang sudah hybrid. Menurutnya Usama kakap putih biasanya sudah membawa Viral Nervous Necrosis (VNN). Sehingga apabila terjadi perubahan lingkungan yang menyebabkan ikan stress, infeksi VNN akan mudah menyerang hingga menyebabkan kematian massal yang fatal. “Kakap putih memang harus jeli dan teliti dari nutrisinya, rekayasa lingkungan, kemudian dari broodstock-nya itu sendiri,” simpul Usama.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-88/15 September – 14 Oktober 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain